PART 38

58 5 0
                                        

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar, menerangi ruangan dengan hangat. Namun, Wonwo tak merasakan kehangatan itu. Pikirannya penuh dengan kecemasan, dadanya sesak dengan rasa takut.

Ponselnya bergetar di meja, menandakan ada pesan masuk. Dengan tangan sedikit gemetar, Wonwo meraih ponselnya dan melihat pesan dari Dokter Baekho.

> Ibu Wonwo, ini adalah rekam medis yang Anda minta. Saya mohon, jangan panik setelah membacanya. Jika Anda siap, kita bisa berdiskusi mengenai langkah selanjutnya.

Di bawah pesan itu, ada sebuah file rekam medis dalam format PDF.

Wonwo menelan ludah, hatinya berdebar kencang. Dengan napas yang berat, ia membuka file tersebut. Matanya membaca setiap kata dengan saksama, hingga akhirnya menemukan diagnosis yang selama ini ia takutkan.

LEUKIMIA – STADIUM LANJUT

Tangannya melemah, ponsel hampir terjatuh dari genggamannya. Matanya membelalak tak percaya, dadanya terasa sesak.

"Jadi... benar aku sakit..."

Dunia seakan runtuh di hadapannya. Napasnya mulai memburu, dan air mata tak bisa lagi ia tahan. Ia menutup mulutnya dengan tangan, mencoba meredam isakannya, tetapi tubuhnya mulai gemetar hebat.

"Kenapa harus aku?" pikirnya. "Kenapa sekarang?"

Bayangan Mingyu, Alvarez, Kanila, dan Kalila langsung muncul di pikirannya. Ia tidak bisa membayangkan harus meninggalkan mereka. Ia tidak bisa membayangkan anak-anaknya tumbuh tanpa seorang ibu.

Air matanya jatuh semakin deras. Ia ingin menolak kenyataan ini. Ia ingin percaya bahwa ini hanyalah kesalahan.

Namun, rekam medis itu nyata.

Ia menutup ponselnya dengan tangan gemetar, memeluk tubuhnya sendiri sambil terus menangis.

Ia harus memberi tahu Mingyu... tapi bagaimana caranya? Bagaimana ia bisa menatap suaminya dan mengatakan bahwa hidupnya mungkin tidak akan lama lagi?

Mingyu sedang sibuk di ruang kerjanya, menandatangani beberapa dokumen yang harus segera diselesaikan. Ia mencoba fokus, tetapi pikirannya terus kembali ke Wonwo.

Ia masih belum bisa menghilangkan kecurigaannya sejak kemarin. Wonwo terlihat semakin lemah, tetapi selalu berkata bahwa ia baik-baik saja. Dan Baekho yang enggan mengatakan apa pun hanya membuatnya semakin khawatir.

Saat ia hendak memanggil Hangyul untuk meminta informasi lebih lanjut, pintu ruangannya diketuk.

Tok. Tok. Tok.

“Masuk,” ucapnya sambil terus membaca dokumen di depannya.

Pintu terbuka, dan Dokter Baekho masuk dengan ekspresi serius di wajahnya.

Mingyu segera meletakkan penanya, menatap pria itu dengan penuh tanya. “Baekho? Ada apa?”

Baekho menarik napas dalam sebelum berbicara. “Pak Presiden, saya datang bukan sebagai Menteri Kesehatan saat ini... tapi sebagai dokter pribadi Ibu Negara.”

Mingyu langsung menegang. Firasat buruk menyelimutinya. “Apa maksudmu?”

Baekho melangkah lebih dekat, menatap Mingyu dengan raut penuh kehati-hatian. “Saya ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting mengenai kondisi kesehatan Ibu Wonwo.”

Mingyu mengerutkan kening. Ia merasa dadanya mulai sesak. “Jelaskan,” ujarnya dengan suara yang mulai bergetar.

Baekho menatapnya lurus-lurus. “Pak Presiden, saya tahu ini akan sulit bagi Anda, tapi... Ibu Wonwo didiagnosis leukimia.”

MAS WAPRES (MINWO) (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang