Udara di dalam rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya.
Suara langkah sepatu dokter menggema di sepanjang koridor.
Mingyu, yang sejak tadi duduk dengan penuh kecemasan, langsung berdiri begitu seorang dokter keluar dari ruang ICU.
dokter Patrick menghela napas pelan sebelum berkata, "Pak Mingyu, Anda bisa masuk sekarang."
Dada Mingyu terasa sesak.
Ia mengangguk pelan sebelum melangkah masuk.
Di dalam ruangan ICU yang sunyi, Wonwo terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Selang oksigen menempel di hidungnya, dadanya naik turun pelan.
Wajahnya pucat.
Tangannya yang biasanya terasa hangat kini terlihat begitu dingin.
Mingyu berjalan mendekat, lalu perlahan menggenggam tangan istrinya.
Jari-jarinya yang besar menutupi jemari Wonwo yang kecil dan dingin.
Mingyu menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh.
Tidak.
Ia tidak boleh berpikiran buruk.
Wonwo pasti akan bangun.
Wonwo harus bangun.
Mingyu menelan ludahnya, lalu berbicara dengan suara bergetar.
"Ayo sembuh, Sayang…"
Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangis yang mulai menyeruak.
"Mas sama anak-anak menunggu kamu di rumah, Sayang… Jangan tinggalin Mas, ya?"
Air matanya jatuh.
Setetes.
Dua tetes.
Lalu mengalir deras di pipinya.
Ia menggenggam tangan Wonwo lebih erat.
"Ayo bangun, Sayang…"
"Kamu janji sama Mas, kan?"
Mingyu menatap wajah istrinya dengan perasaan campur aduk.
Dalam diam, pikirannya berkelana ke masa-masa indah mereka.
Ia teringat hari pertama ia bertemu dengan Wonwo.
Bagaimana perempuan itu selalu tersenyum ceria, bagaimana suara lembutnya selalu menenangkan hatinya.
Mingyu juga teringat hari pernikahan mereka.
Bagaimana Wonwo tersenyum malu saat menyebut namanya di depan penghulu.
Bagaimana Wonwo menangis bahagia ketika mereka akhirnya resmi menjadi suami istri.
Duka yang selalu mereka lewati bersama
Lalu, suara pertama bayi kembar mereka saat lahir ke dunia.
Mereka berdua menangis bahagia.
Dan kini, ia kembali menangis.
Tapi bukan karena bahagia.
Melainkan karena takut kehilangan perempuan yang paling ia cintai.
Mingyu menundukkan kepala, menangis dalam diam.
"Tolong bertahan, Sayang…"
"Jangan pergi…"
Sementara itu, di luar ruangan ICU, Alvarez masih duduk di kursi dengan kepala bersandar di bahu Renjun.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS WAPRES (MINWO) (END)
FanfictionMingyu yang menjabat sebagai Wakil Presiden yang sibuk atas amanat yang diberikan oleh sang kepala negara serta pilihan rakyat dalam menjaga negara ini, yang membuat dirinya sibuk dengan urusan negara yang tidak akan habis . Suatu ketika saat ia da...
