PART 40

71 7 0
                                        

Rumah keluarga besar Mingyu yang biasanya ramai dengan tawa kini dipenuhi suara tangisan seorang anak kecil. Alvarez, yang baru berusia tujuh tahun, menangis kencang di ruang tamu sambil duduk di lantai. Matanya memerah, pipinya basah oleh air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.

"Aku mau ketemu Ibu!" serunya dengan suara parau.

Jinyoung yang berada di dekatnya mencoba menenangkan ponakannya, namun sia-sia. Alvarez terus meronta, bahkan mendorong tangan Jinyoung yang hendak mengusap kepalanya.

"Mas, sabar ya, Nak," ujar neneknya dengan suara lembut, tetapi wajahnya tak bisa menyembunyikan kesedihan.

Kanila dan Kalila, si kembar yang baru berusia enam bulan, mulai menangis juga. Seolah memahami kesedihan kakaknya, mereka ikut tersedu di dalam gendongan pengasuhnya.

Jinyoung melirik Chanyeol, kakak keduanya, yang berdiri di dekat pintu. "Bang, kayaknya kita harus bawa Mas ke rumah sakit. Dia kangen sama ibunya," bisiknya pelan.

Chanyeol menghela napas panjang, lalu menatap wajah keponakannya yang masih menangis. Ia tahu betapa Alvarez merindukan Wonwo. Sudah seminggu lebih sejak terakhir kali anak itu melihat ibunya sebelum dirawat di rumah sakit. Dan selama itu pula, Alvarez hanya bisa menahan rindu tanpa bisa berbuat apa-apa.

Akhirnya, dengan berat hati, Chanyeol berjongkok di depan Alvarez dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Oke, ayo kita ke rumah sakit," katanya.

Mendengar itu, tangisan Alvarez sedikit mereda, tetapi air mata masih mengalir di pipinya. Ia mengangguk cepat dan langsung berdiri, seolah takut jika pakenya berubah pikiran.

"Aku mau ketemu Ibu sekarang!" katanya dengan suara serak.

Chanyeol mengangguk dan menggandeng tangan Alvarez, lalu mengajaknya keluar rumah. Jinyoung buru-buru mengambil ponselnya dan menelepon Mingyu.

"Bang, anak-anak mau ke rumah sakit. Dia nangis dari tadi," lapornya dengan suara pelan.

Di seberang telepon, Mingyu terdiam sejenak. Hatinya terasa sesak membayangkan anaknya menangis seperti itu.

"Bawa mereka ke sini, aku akan beri tahu mbak wonwo" jawab Mingyu akhirnya.

Jinyoung mengangguk dan segera menutup teleponnya.

Di dalam kamar rumah sakit, Wonwo sedang duduk di tempat tidurnya sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan dari Mingyu.

"Anak-anak mau ke rumah sakit. Mereka kangen sama kamu ."

Wonwo menggigit bibirnya. Ia segera mengambil tisu dan mulai menghapus wajahnya yang terlihat sedikit pucat. Ia tak ingin Alvarez melihatnya dalam kondisi lemah seperti ini. Ia tidak ingin anaknya khawatir atau bersedih karena keadaannya.

Sambil menarik napas dalam-dalam, Wonwo tersenyum ke arah Renjun yang tengah merapikan meja kecil di samping tempat tidurnya.

"Renjun, tolong ambilkan bedak. Aku tidak mau anak-anak melihat wajahku yang kelihatan sakit," ucapnya pelan.

Renjun yang sejak tadi diam dan memperhatikan ekspresi Wonwo, menghela napas sebelum mengambil bedak dari meja rias.

"Ibu tidak perlu berpura-pura sehat di depan Mas Alvarez. Mas pasti tetap sayang Ibu apa pun keadaannya," katanya sambil menyerahkan bedak itu.

Wonwo hanya tersenyum tipis. "Aku tahu, Jun. Tapi aku tidak ingin dia takut atau sedih," jawabnya sambil mengoleskan bedak ke wajahnya.

Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk. Renjun yang membukakan pintu, dan seketika terdengar suara kecil yang penuh harap.

MAS WAPRES (MINWO) (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang