Pagi itu, suasana di kamar rumah sakit terasa lebih syahdu dibandingkan biasanya. Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai jendela menerangi wajah pucat Wonwo, yang duduk di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya. Hari ini adalah hari kemoterapi kedua, dan ia sudah berusaha mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental.
Di ruangan itu, bukan hanya Mingyu yang menemani Wonwo, tetapi juga kedua orang tua mereka. Ibunya duduk di sisi kiri, menggenggam tangan putrinya dengan penuh kasih sayang. Sang ayah, yang selama ini terlihat lebih tegar, berdiri tidak jauh dari mereka, berusaha menahan emosinya sendiri.
Wonwo menggenggam tangan ibunya erat, air matanya mengalir perlahan. "Bunda maafin kakak ya... Kalau selama ini kaka jadi anak yang merepotkan. Kakak tahu kakak bukan anak yang sempurna, tapi kakak selalu berusaha jadi anak yang baik untuk Bunda"
Ibunya tak mampu menahan tangis. "Sayang, kakak nggak pernah merepotkan Bunda. Kakak adalah anak yang luar biasa. Bunda yang harusnya minta maaf karena nggak selalu bisa ada buat Kakak setiap saat," ujarnya dengan suara bergetar.
Wonwo tersenyum kecil di tengah air matanya, lalu menoleh ke arah ayahnya. "Ayah..." suaranya terdengar serak.
Sang ayah menatapnya dengan penuh rasa bersalah dan kesedihan.
"Kakak juga mau minta maaf sama Ayah," lanjut Wonwo, suaranya mulai bergetar. "Meskipun Ayah dan Bunda berpisah, Kakak nggak pernah sedikit pun berhenti sayang sama Ayah. Aku selalu bangga jadi anak Ayah"
Tangisannya semakin deras, dan ia mencoba mengendalikan napasnya. "Ayah tahu nggak? Waktu kecil, aku selalu cerita ke teman-teman kalau Ayah itu pahlawanku. Dan sampai sekarang, aku tetap berpikir begitu."
Sang ayah yang sejak tadi berusaha keras menahan air mata akhirnya tak bisa lagi membendungnya. Ia melangkah maju, menggenggam tangan putrinya dengan erat.
"Kamu nggak perlu minta maaf, Nak..." suaranya pecah. "Ayah yang minta maaf. Maafin Ayah karena nggak selalu ada buat kamu. Maafin Papa karena nggak bisa ngelindungin kamu dari semuanya."
Wonwo menggeleng lemah. "Ayah nggak salah... Ayah tetap ayah terbaik buat aku."
Di sudut ruangan, Mingyu berdiri menyaksikan pemandangan yang begitu menyayat hati. Ia tahu betapa dalamnya luka yang Wonwo pendam selama ini, betapa ia merindukan keutuhan keluarganya.
Setelah beberapa saat, Wonwo mengalihkan pandangannya ke arah kedua mertuanya yang juga hadir di ruangan itu. Dengan suara lemah, ia berkata, "Papa, Mama... selama aku jadi menantu kalian, kalau ada kata atau perbuatan aku yang kurang berkenan, aku minta maaf..."
Ibu Mingyu langsung menggenggam tangan menantunya dan menggeleng cepat. "Jangan ngomong seperti itu, Nak. Kamu nggak pernah salah. Kamu adalah menantu terbaik yang kami punya," katanya dengan suara gemetar.
Wonwo tersenyum kecil, air matanya terus mengalir.
Terakhir, ia menoleh ke arah pria yang selama ini selalu ada di sisinya, yang telah berbagi hidup dengannya dalam suka maupun duka Mingyu.
Mingyu menatap istrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, seolah tahu apa yang akan dikatakan Wonwo.
"Mas..." Wonwo memanggil pelan.
Mingyu segera duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan istrinya dengan erat, seolah takut jika ia melepaskan, Wonwo akan pergi meninggalkannya.
"Maafin aku ya, Mas..." suara Wonwo mulai bergetar lagi. "Selama aku jadi istrimu, aku pasti banyak salah. Aku pasti banyak merepotkan kamu... Tapi aku ingin Mas tahu, aku sangat mencintai kamu."
Mingyu menggeleng cepat, air mata akhirnya jatuh dari kedua matanya. "Jangan ngomong kayak gitu, Sayang... Kamu nggak pernah salah. Aku yang harusnya minta maaf karena selama ini terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku yang harusnya ada lebih banyak untuk kamu," ucapnya penuh penyesalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS WAPRES (MINWO) (END)
FanfictionMingyu yang menjabat sebagai Wakil Presiden yang sibuk atas amanat yang diberikan oleh sang kepala negara serta pilihan rakyat dalam menjaga negara ini, yang membuat dirinya sibuk dengan urusan negara yang tidak akan habis . Suatu ketika saat ia da...
