Mingyu membuka matanya saat sinar matahari mulai masuk ke kamarnya. Pagi ini, ia berencana melakukan kegiatan sepeda pagi bersama putra sulungnya, Alvarez. Ini adalah momen langka bagi Mingyu untuk bisa menikmati waktu santai bersama anaknya di tengah kesibukan negara.
Setelah bersiap, Mingyu mengenakan kaus olahraga berwarna biru tua dengan lambang Garuda di dada, celana training hitam, dan sepatu olahraga. Alvarez yang berusia 7 tahun, tampak bersemangat mengenakan kaus putih dan celana pendek olahraga. Ia sangat antusias bisa bersepeda bersama ayahnya.
Di luar Istana, beberapa anggota Paspampres sudah bersiap mengawal mereka. Masyarakat yang sedang berolahraga pagi di sekitar Istana mulai menyadari kehadiran Presiden dan putranya.
"Itu Pak Presiden!" seru seorang ibu sambil menunjuk ke arah Mingyu.
"Wah, Alvarez ikut juga! Gemes banget!" kata seorang remaja yang langsung mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen tersebut.
Mingyu dan Alvarez mengayuh sepeda mereka dengan santai di jalur khusus sepeda. Di sepanjang jalan, banyak masyarakat yang menyapa dan melambaikan tangan.
Mingyu membalas sapaan mereka dengan senyum ramah, sementara Alvarez dengan percaya diri ikut melambaikan tangan dan menyapa masyarakat.
"Selamat pagi, Pak Presiden!" seru seorang bapak yang tengah jogging.
"Selamat pagi! Sehat selalu ya!" balas Mingyu sambil tetap mengayuh sepedanya.
Alvarez juga tak kalah ramah.
"Selamat pagi, Om! Ayo semangat olahraganya!" katanya dengan suara lantang.
Banyak orang yang tertawa dan kagum dengan keberanian Alvarez.
"Pintar banget anaknya Pak Presiden!" bisik seorang ibu ke temannya.
Beberapa orang mulai mendekat untuk meminta foto. Mingyu dan Alvarez dengan senang hati melayani permintaan masyarakat.
Setelah puas bersepeda, Mingyu melihat sebuah warung bubur ayam di tepi jalan yang ramai. Ia berhenti dan memutuskan untuk sarapan di sana.
Pemilik warung, seorang bapak berusia sekitar 50 tahun, terkejut melihat Presiden datang ke warungnya.
"Wah, Pak Presiden mau sarapan di sini? Silakan, silakan!" katanya dengan antusias.
"Iya, Pak. Saya ingin coba bubur ayam di sini. Banyak yang bilang enak," jawab Mingyu dengan ramah.
Mingyu dan Alvarez duduk di bangku panjang bersama masyarakat lain. Tanpa canggung, mereka menikmati bubur ayam sambil berbincang dengan warga sekitar.
Beberapa orang mulai menyampaikan keluhan mereka kepada Mingyu.
"Pak, harga bahan pokok lagi naik, gimana solusinya?" tanya seorang ibu rumah tangga.
Mingyu mendengarkan dengan serius dan menjawab dengan bijak.
"Kami sedang berusaha menstabilkan harga dengan beberapa kebijakan baru. Saya akan pastikan harga bahan pokok tetap terjangkau," katanya.
Masyarakat merasa senang bisa berbicara langsung dengan pemimpin negara mereka.
Di sela-sela makan, beberapa wartawan yang mengetahui keberadaan Mingyu langsung datang untuk meliput.
Namun, yang mencuri perhatian justru Alvarez.
Seorang wartawan mendekatinya dan melemparkan pertanyaan ringan.
"Mas Alvarez kelas berapa sekarang?"
Dengan tenang, Alvarez menjawab sambil tersenyum.
"Aku kelas 2 SD."
"Siapa sahabatnya Mas Alvarez di sekolah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS WAPRES (MINWO) (END)
FanfictionMingyu yang menjabat sebagai Wakil Presiden yang sibuk atas amanat yang diberikan oleh sang kepala negara serta pilihan rakyat dalam menjaga negara ini, yang membuat dirinya sibuk dengan urusan negara yang tidak akan habis . Suatu ketika saat ia da...
