Langit Jakarta mendung, seakan ikut menekan suasana yang tengah memanas. Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas telah memenuhi jalanan sejak pagi. Mereka berkumpul di Bundaran HI, membawa spanduk dan poster dengan berbagai tulisan yang menyerang kebijakan pemerintah.
Spanduk besar membentang di tengah kerumunan:
“DI MANA TANAH IBU PERTIWI?”
“HENTIKAN KEBIJAKAN YANG MENINDAS RAKYAT!”
“PEMERINTAH MENGHILANG! RAKYAT MENJERIT!”
Sorakan keras menggema dari atas mobil komando, tempat ketua BEM dari berbagai universitas berorasi bergantian.
"KITA TIDAK AKAN DIAM! PEMERINTAH HARUS TURUN DAN MENDENGARKAN KITA!"
Ribuan mahasiswa mengangkat tangan, meneriakkan yel-yel penuh semangat.
Aparat kepolisian dan TNI telah berjaga di sepanjang jalan. Mereka membentuk barikade di depan Istana Negara, memastikan demonstrasi tidak berujung ricuh.
Namun, situasi mulai berubah.
Beberapa mahasiswa yang berada di barisan depan mulai melemparkan batu dan botol air ke arah polisi. Bentrokan kecil pun tak terhindarkan. Polisi menggunakan tameng untuk menahan lemparan.
"Mundur! Jangan anarkis!" seru seorang aparat di depan.
Tapi mahasiswa semakin bersemangat.
"Jangan mundur! Kita maju!" terdengar suara dari megafon mobil komando.
Gas air mata mulai ditembakkan. Asap putih mengepul, menyengat mata dan tenggorokan.
Sebagian mahasiswa mulai batuk dan mundur, sementara yang lain tetap bertahan dengan kacamata renang dan masker kain.
Demonstrasi ini sudah berlangsung tiga jam, dan belum ada tanda-tanda mereda. Mereka bertekad untuk tetap berada di sana hingga pemerintah turun tangan.
Di udara, Mingyu duduk dengan tenang di dalam pesawat kepresidenan.
Ia mengenakan setelan jas hitam, meskipun matanya jelas menunjukkan kelelahan. Ia belum tidur sejak kemarin.
Sebelum berangkat, ia telah mengantar Alvarez ke sekolah seperti biasa. Anak sulungnya itu masih terlihat sedih karena ibunya belum sadar.
“Ayah pasti pulang lagi, kan?”
Mingyu mengusap kepala putranya. “Tentu, Mas. Ayah janji.”
Setelah memastikan anak-anaknya dalam pengawasan keluarga, Mingyu langsung menuju bandara dengan pengawalan ketat.
Saat ini, ia menatap layar tablet yang menampilkan rekaman langsung demonstrasi di Jakarta.
Ia bisa melihat betapa penuhnya jalanan dari Bundaran HI hingga Istana Negara.
Gas air mata mulai menyebar. Polisi dan mahasiswa mulai saling dorong.
"Keadaan semakin tidak terkendali," gumamnya.
Hangyul, yang duduk di seberangnya, membuka suara.
"Pak Mingyu, kita harus segera mengambil tindakan begitu tiba di Jakarta. Masyarakat sudah kehilangan kesabaran."
Mingyu mendesah panjang.
"Aku akan bicara langsung dengan mereka."
"Anda akan menghadapi massa?"
"Ya. Mereka harus tahu bahwa aku tidak lari dari tanggung jawab."
Pesawat melaju semakin cepat, membawa Mingyu kembali ke tanah air yang kini sedang bergejolak.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS WAPRES (MINWO) (END)
FanfictionMingyu yang menjabat sebagai Wakil Presiden yang sibuk atas amanat yang diberikan oleh sang kepala negara serta pilihan rakyat dalam menjaga negara ini, yang membuat dirinya sibuk dengan urusan negara yang tidak akan habis . Suatu ketika saat ia da...
