PART 42

60 5 0
                                        

Suasana di bandara begitu hening bagi Mingyu. Meski ada banyak orang di sekelilingnya, semuanya terasa sunyi. Pandangannya hanya tertuju pada Wonwo yang masih terbaring di atas ranjang medis, diangkut dengan hati-hati ke dalam pesawat khusus yang telah disediakan untuk membawanya ke Singapura.

Ia berjalan di samping ranjang itu, menggenggam tangan Wonwo yang terasa semakin kurus. Masih belum ada tanda-tanda kesadaran dari istrinya sejak kemoterapi terakhir.

"Kita akan pergi ke tempat yang lebih baik, Sayang... Di sana, kamu pasti akan sembuh," bisik Mingyu dengan suara bergetar.

Di belakangnya, Alvarez, Kanila, dan Kalila duduk bersama nenek dan kakeknya. Alvarez diam, tetapi matanya merah karena terlalu banyak menangis.

Kanila dan Kalila, yang masih bayi, mungkin belum memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi. Namun, melihat wajah Mas mereka yang sedih membuat keduanya ikut menangis.

Ketika pesawat akhirnya lepas landas, Mingyu tidak bisa berpikir tentang apa pun selain bagaimana ia akan menjalani hari-hari ke depan.

Sesampainya di Singapura, Wonwo segera dibawa ke rumah sakit yang sudah disiapkan oleh dokter Baekho. Rumah sakit ini memiliki fasilitas terbaik, dengan dokter spesialis kanker yang telah menangani banyak pasien dengan kasus serupa.

Mingyu berjalan mengikuti ranjang Wonwo sampai ke ruangannya. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya walau hanya sebentar.

Di sampingnya, Alvarez menggenggam tangannya erat.

"Ayah... Ibu kapan bangun?" suara Alvarez terdengar pelan, tetapi Mingyu bisa merasakan getaran emosi di baliknya.

Mingyu menatap anaknya, lalu mengusap kepalanya lembut.

"Ibu pasti akan segera sadar, Mas. Kita doakan sama-sama, ya?"

Alvarez mengangguk kecil, meskipun air matanya kembali menetes.

Mingyu berjongkok, menarik putranya ke dalam pelukan.

"Kamu harus kuat, Mas. Kamu anak pertama, kamu harus bantu Ayah menjaga Adik-adik, ya?"

Alvarez mengangguk lagi, tetapi tetap menangis di dada ayahnya.

"Aku mau Ibu bangun... Aku mau Ibu sehat lagi, Ayah... Aku mau Ibu pulang..."

Mingyu menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia harus kuat. Untuk Wonwo. Untuk anak-anaknya.

Setelah memastikan Wonwo mendapatkan perawatan terbaik, Mingyu harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak bisa terus bolak-balik tanpa rencana yang jelas.

Sebagai seorang Presiden, tugasnya tetap menunggu di Indonesia. Namun, sebagai seorang suami dan ayah, ia tidak bisa meninggalkan keluarganya terlalu lama.

Akhirnya, Mingyu membuat keputusan besar.

Ia akan menetap di Singapura bersama anak-anaknya sampai Wonwo pulih.

"Aku bisa mengurus pekerjaan dari sini, aku akan bolak-balik jika ada hal yang benar-benar darurat," kata Mingyu kepada timnya melalui video call.

Semua staf di Indonesia mengerti keadaannya. Mereka tahu bahwa seorang pemimpin juga manusia yang memiliki keluarga.

Setelah diskusi panjang, akhirnya mereka menyetujui rencana Mingyu. Pekerjaannya akan dijalankan secara hybrid, dan ia akan kembali ke Indonesia hanya jika ada agenda yang benar-benar membutuhkan kehadirannya.

Keputusan lain yang diambil Mingyu adalah mendaftarkan Alvarez ke sekolah di Singapura.

Alvarez awalnya tidak mau.

MAS WAPRES (MINWO) (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang