Pagi ini Mingyu sudah bersiap sejak dini hari. Setelah pertemuan langsung dengan mahasiswa di Istana beberapa hari yang lalu, kini ia harus menghadapi rapat besar di Gedung MPR untuk membahas undang-undang pajak yang menjadi polemik di tengah masyarakat.
Dengan mengenakan setelan jas hitam dengan dasi merah, ia melangkah keluar dari Istana menuju mobil kepresidenan. Beberapa Paspampres mengiringinya, memastikan perjalanan menuju Gedung MPR aman.
Di dalam mobil, Mingyu membuka berkas-berkas yang telah disiapkan oleh Menteri Keuangan dan Menteri Perpajakan. Ia membaca ulang poin-poin penting yang akan ia bahas di dalam rapat nanti.
"Hari ini akan sulit," gumamnya dalam hati.
Begitu memasuki ruang sidang di Gedung MPR, Mingyu langsung disambut oleh para anggota MPR yang sudah menunggu. Suasana ruangan terasa tegang wajah-wajah para anggota parlemen menunjukkan ekspresi serius.
Mingyu mengambil tempat duduk di tengah, diapit oleh Menteri Keuangan dan Menteri Perpajakan.
Setelah rapat dibuka oleh Ketua MPR, pembahasan mengenai undang-undang pajak pun dimulai.
Sejak awal, perdebatan sudah mulai panas.
Pihak yang mendukung revisi undang-undang berpendapat bahwa kebijakan pajak yang baru harus diperbaiki agar lebih berpihak pada rakyat kecil dan pengusaha menengah.
"Kami mendukung kebijakan pajak yang adil dan transparan. Jika revisi diperlukan untuk kepentingan rakyat, maka harus dilakukan," ujar salah satu anggota MPR dari fraksi pendukung revisi.
Namun, pihak yang menolak revisi memiliki pandangan berbeda.
"Undang-undang ini sudah disusun dengan pertimbangan matang. Jika direvisi lagi, ini akan memperlambat stabilitas ekonomi dan menciptakan ketidakpastian bagi investor," bantah anggota MPR lainnya yang menolak perubahan.
Mingyu memperhatikan dengan seksama setiap argumen yang disampaikan. Sesekali, ia membisikkan sesuatu kepada Menteri Keuangan atau Menteri Perpajakan, berdiskusi singkat mengenai angka-angka dan dampak kebijakan ini ke depan.
Perdebatan terus berlangsung, dengan suasana yang semakin panas. Beberapa anggota MPR mulai menaikkan nada bicara, bahkan ada yang memukul meja dengan kesal.
Ketua MPR berkali-kali meminta ketertiban, tetapi semangat debat yang tinggi membuat ruangan terasa seperti medan perang argumen.
Waktu terus berlalu, tetapi tidak ada keputusan yang bisa diambil.
Mingyu mulai merasa lelah. Sudah hampir enam jam mereka berdebat, tetapi hasilnya masih nol besar.
Ia menyadari bahwa ini bukan hal yang bisa diselesaikan dalam satu kali pertemuan. Terlalu banyak kepentingan yang bertabrakan.
Akhirnya, rapat dihentikan sementara, dengan keputusan untuk melanjutkan diskusi di hari berikutnya.
Beberapa anggota MPR tampak tidak puas. Ada yang keluar ruangan dengan wajah kesal, sementara yang lain masih sibuk berdiskusi dengan rekan-rekan mereka.
Begitu rapat selesai, di luar Gedung MPR sudah penuh dengan wartawan yang menunggu pernyataan resmi.
Beberapa anggota MPR memberikan komentar positif, menyatakan bahwa diskusi ini merupakan bukti demokrasi yang sehat.
"Meskipun belum ada keputusan, kami yakin bahwa diskusi ini adalah langkah yang baik menuju kebijakan yang lebih baik bagi rakyat," ujar seorang anggota MPR kepada wartawan.
Namun, ada juga anggota MPR yang mengkritik kinerja Presiden Mingyu secara langsung.
"Saya kecewa dengan cara pemerintah menangani masalah ini. Presiden seharusnya sudah punya keputusan yang jelas, bukan membiarkan perdebatan ini berlarut-larut," ujar anggota lain dengan nada sinis.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS WAPRES (MINWO) (END)
FanfictionMingyu yang menjabat sebagai Wakil Presiden yang sibuk atas amanat yang diberikan oleh sang kepala negara serta pilihan rakyat dalam menjaga negara ini, yang membuat dirinya sibuk dengan urusan negara yang tidak akan habis . Suatu ketika saat ia da...
