PART 46 ( Lanjutan)

119 6 0
                                        

Langit masih gelap ketika pesawat kepresidenan bersiap di landasan.

Pagi ini, jenazah Wonwo akan dibawa pulang ke Indonesia.

Di dalam ruang VIP bandara, Mingyu duduk diam dengan wajah berantakan.

Matanya bengkak dan merah.

Di sebelahnya, Alvarez duduk dalam diam, menggenggam tangannya erat.

Di kursi lain, Kanila dan Kalila tertidur dalam gendongan suster mereka.

Jeno dan Renjun berdiri di dekat pintu, menjaga jarak, tetapi tetap waspada.

Tidak ada yang berbicara.

Hanya isak tangis pelan yang sesekali terdengar.
Saat fajar mulai menyingsing, peti jenazah Wonwo yang tertutup bendera merah putih dibawa ke dalam pesawat.

Mingyu berdiri di depan tangga pesawat, menatapnya dengan tatapan kosong.

Kakinya terasa berat melangkah.

Seolah-olah setiap langkahnya semakin membawanya ke dalam kenyataan pahit bahwa istrinya benar-benar telah tiada.

Alvarez menggenggam tangan ayahnya lebih erat.

“Ayah…” suaranya bergetar.

Mingyu menoleh, melihat putranya yang menatap peti jenazah ibunya dengan mata penuh kesedihan.

“Kenapa ibu harus pergi?”

Pertanyaan itu menghantam dada Mingyu seperti palu besar.

Ia menarik napas dalam, mencoba menahan air mata.

“Allah lebih sayang sama ibu mas … tapi kita harus kuat, ya?”

Alvarez mengangguk pelan, meskipun air matanya kembali jatuh.

Pesawat pun lepas landas, membawa Wonwo kembali ke tanah air.

Setibanya di Indonesia, Bandara Halim Perdanakusuma sudah dipenuhi oleh para pejabat, keluarga, dan masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir.

Bendera setengah tiang berkibar di seluruh penjuru negeri.

Suasana duka menyelimuti Jakarta.

Begitu peti jenazah diturunkan, Mingyu dan Alvarez berdiri di sampingnya.

Para prajurit TNI memberi hormat.

Tangisan terdengar di mana-mana.

Namun Mingyu tetap diam. Ia terlalu hancur untuk menangis lagi.

Jenazah Wonwo langsung dibawa ke Istana untuk dimandikan sebelum disalatkan di Masjid Istiqlal.Di dalam kamar yang telah disiapkan, Mingyu mengenakan kemeja hitam dan celana hitam yang telah dipersiapkan oleh Hangyul.

Tangannya gemetar saat ia berdiri di depan tubuh istrinya yang terbujur kaku.

Ini pertama kalinya ia menyentuh Wonwo sejak kepergiannya.

Tangannya menyentuh wajah istrinya yang kini dingin.

Mingyu menutup matanya sejenak.

Ia harus kuat.

Dengan perlahan, ia mulai menuangkan air ke tubuh istrinya.

Tangannya mengusap wajah itu dengan lembut.

Namun, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia buru-buru menghapusnya, takut air matanya jatuh ke tubuh Wonwo.

“Maaf, sayang… Maaf, Mas nangis lagi…”

Setelah pemandian selesai, Wonwo dikafani dengan rapi dan kembali ditutupi dengan bendera merah putih.

MAS WAPRES (MINWO) (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang