Part 35

115 15 0
                                        

Pagi ini, Mingyu kembali menjalani rutinitasnya dengan turun langsung ke lapangan untuk bertemu masyarakat. Kali ini, ia mengunjungi pasar tradisional guna mengecek harga sembako sekaligus mendengar langsung keluhan para pedagang dan warga sekitar. Seperti biasa, Mingyu mengenakan pakaian yang sederhana kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, celana hitam, dan sneakers putih.

Saat Mingyu tiba di pasar, suasana yang awalnya riuh mendadak semakin ramai. Para pedagang dan pembeli yang sedang berbelanja langsung mengerumuninya. Beberapa ibu-ibu yang tengah memilih sayur dan daging tersenyum lebar begitu melihat sosok presiden mereka yang tampan dan ramah.

"Pak Presiden datang! Pak Presiden datang!" seru seorang pedagang, membuat pasar semakin gaduh.

Mingyu hanya bisa terkekeh mendengar reaksi masyarakat yang begitu antusias. Dengan senyuman khasnya, ia mulai berjalan dari satu kios ke kios lain, bertanya tentang harga beras, minyak, telur, dan bahan pokok lainnya.

"Bu, harga berasnya masih stabil?" tanya Mingyu kepada seorang ibu pedagang beras.

"Alhamdulillah, Pak. Masih stabil, tapi minyak goreng ini mulai naik lagi dikit-dikit," jawab sang ibu sambil tersenyum.

Mingyu mengangguk sambil mencatat di pikirannya. Ia tahu betapa pentingnya harga sembako yang stabil bagi masyarakat kecil.

Ketika ia melanjutkan kunjungannya, beberapa ibu-ibu mulai jahil. Salah satu dari mereka, seorang pedagang sayur berusia sekitar 50 tahun, tiba-tiba mencubit pipi Mingyu dengan gemas.

"Aduh, Pak Presiden ini gemesin banget, kayak anak saya di rumah!" katanya sambil tertawa.

Mingyu langsung tertawa lepas, sementara pengawalnya hanya bisa tersenyum melihat kejadian tersebut.

"Aduh, Bu. Nanti saya pulang-pulang pipi saya merah dong," canda Mingyu, membuat ibu-ibu lainnya ikut tertawa.

Tidak hanya satu kali, beberapa ibu-ibu lainnya ikut-ikutan mencubit pipinya, merasa gemas dengan presiden mereka yang tampan dan ramah ini.

"Pak Presiden kok ganteng banget sih? Udah ganteng, baik, ramah pula!" celetuk salah satu ibu yang sedang membeli tempe.

"Aduh, saya jadi malu, Bu," balas Mingyu sambil mengusap pipinya yang kini terasa hangat akibat cubitan manja para ibu-ibu pasar.

Setelah puas berbincang dengan pedagang di pasar, Mingyu melanjutkan kunjungannya ke sentra UMKM setempat. Di sana, ia disambut oleh para pengusaha kecil yang memproduksi berbagai macam barang, mulai dari makanan ringan hingga kerajinan tangan.

Salah satu produk yang menarik perhatian Mingyu adalah kerupuk kulit yang dibuat oleh seorang pengusaha muda bernama Pak Budi. Dengan semangat, Pak Budi menjelaskan bagaimana ia memproduksi kerupuk kulit dari awal hingga menjadi produk siap jual.

"Wah, Pak Budi, kerupuk kulitnya renyah banget ya. Bisa nggak saya bawa satu karung buat stok di Istana?" canda Mingyu sambil mengambil satu keping kerupuk dan menggigitnya.

Pak Budi tertawa. "Bisa banget, Pak! Mau yang pedas atau yang original?"

"Kalau yang pedas, nanti saya kepedasan dan ibu-ibu di pasar nggak bisa cubit pipi saya lagi," balas Mingyu, membuat semua orang di UMKM tertawa terbahak-bahak.

Tidak hanya memberikan celotehan lucu, Mingyu juga memastikan bahwa pemerintah akan terus mendukung UMKM dengan memberikan bantuan dan pelatihan agar mereka bisa lebih berkembang. Ia berbincang dengan para pengusaha kecil, mendengar keluhan mereka, dan berjanji untuk mencari solusi terbaik bagi kemajuan usaha mereka.

Seharian itu, Mingyu tidak hanya bekerja sebagai presiden, tetapi juga sebagai sahabat bagi rakyatnya. Ia bercanda, mendengar keluhan, dan memastikan bahwa ia benar-benar hadir untuk mereka.

MAS WAPRES (MINWO) (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang