"Gue gak mau tahu! Pokoknya lo yang urus ini bocah!"
"Lah, anjir? Ini gimana ngurusnya? Gue belum pernah ngurus bokem anjir."
Dan dari situlah semua masalah dimulai.
.
.
.
Tertarik? Yuk langsung baca, jangan lupa vote and komen yah😉
[DON'T COPY]...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gadis yang datang ke rumahnya secara mendadak dan menanyakan nama mereka ternyata adalah Sasa. Sasa yang tak lain adalah sahabat Atha tiba-tiba hadir dan memberikan kabar mengenai Atha. Mendengar hal itu jelas tanpa basa-basi, Nevan mengajak Sasa untuk masuk agar bisa membicarakan hal tersebut dengan nyaman.
"Jadi, sebelumnya lo tahu keberadaan Atha ada di mana?" tanya Argan menatap tajam gadis yang kini tengah duduk berhadapan dengannya di ruang tamu rumah Nevan.
"Ya, tapi sekarang Atha nggak bisa gue hubungi sejak tadi pagi sampai sekarang. Gue udah cari dia di apartemen baru dan lama, udah coba cari juga di kampus atau perpustakaan kota yang sering dia datangin, tapi nggak ada," jelas Sasa.
Helaan nafas lelah terdengar dari Nevan. Kepalanya mendadak pusing memikirkan kemungkinan yang ada, mengingat Atha adalah seorang yang nekat.
"Terus sekarang kita harus cari dia ke mana?" keluh Argan yang mulai putus asa.
Argan mengusak rambutnya kasar, berusaha mengusir rasa pusing yang mulai merambat pada setiap inci kepalanya.
Keheningan mendadak hadir di antara ketiganya. Hingga, dering ponsel Sasa memecah kesunyian yang ada.
Buru-buru dirinya mengecek siapa yang menelpon. Tampak di layar handphone miliknya menampilkan angka yang berarti ia tak mengenal siapa seseorang yang kini tengah menelpon dirinya.
Namun, tetap dirinya geser ikon hijau dan ia tempelkan handphone itu pada telinganya.
"Hallo, ini siapa ya?" tanya Sasa, namun keningnya mengernyit bingung kala hanya mendengarkan suara deru nafas yang tak beraturan dari seberang sana.
"Hallo, Sasa?" Suara dari seberang sana jelas membuat Sasa membulatkan matanya terkejut.
"Atha!" Panggilan dari Sasa sontak membuat Argan juga Nevan menatap Sasa penasaran. Sasa yang peka akan hal itu segera menyalakan speaker pada panggilan yang tengah berlangsung.
"Sa, b-bisa jemput gue nggak? G-gue lagi dikejar-kejar," suara itu terdengar gelisah dan ketakutan secara bersamaan.
"Hah? Dikejar siapa, Tha? Sekarang posisi lo di mana?" Pertanyaan itu spontan Sasa layangkan pada si empu.
"G-gue hamil, Papa gue mau gugurin anak gue. Gue nggak mau jadi gue kabur. Intinya s-sekarang gue ada di Jalan Flamboyan deket SPBU Ketapang,"
Baru selesai Atha mengucapkan lokasi dirinya, Argan dengan segera berdiri dan meraih kunci mobil.
"Argan!" Panggilan dari Nevan jelas tidak dihiraukan oleh Argan yang kini sudah keluar rumah, menaiki kendaraan dan meninggalkan dua sejoli yang kini menatap was-was pada kepergian Argan.
"Kita jemput Atha sekarang sebelum Argan," ajak Nevan diangguki oleh Sasa.
"Kita naik motor aja biar cepet. Lo terus sambungin telfonnya sama Atha, jaga-jaga kalau ada apa-apa."