19

241 45 1
                                        

Sorry for typo because typo is manusiawi🙏

Sorry for typo because typo is manusiawi🙏

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jarum jam menunjukkan pukul 19.00. Erga terbangun dengan mata bengkak. Suasana kamar hening, hanya ada suara detak jam di dinding.

Ia bangkit, mendudukkan dirinya di atas ranjang. Matanya masih ingin terpejam, namun perutnya keroncongan, begitu pula dengan tenggorokannya yang kering. Dirinya berusaha membuka matanya lebar, menghalau rasa kantuk yang masih menempel.

Samar-samar ingatannya berputar pada kejadian beberapa jam yang lalu. Argan mengajaknya ke makam mamanya. Awalnya Erga hanya diam, tidak mengerti kenapa Argan memasang raut sedih kala itu. Tapi begitu dijelaskan jika mamanya tidak akan pernah kembali, barulah tangisnya pecah.

Bocah lima tahun yang biasanya berlarian ke sana ke mari, penuh dengan tawa dan celoteh, kini hanya terdiam, menatap kosong kakinya yang bergantung di sisi ranjang.

Akhirnya ia memutuskan untuk berdiri. Dengan langkah kecil dan lemah, ia keluar kamar. Pintu kamarnya tidak tertutup rapat, sehingga suara- suara dari dapur masuk ke telinganya, suara piring beradu, suara sendok, dan percakapan lirih.

Erga berjalan pelan pelan, menyeret kakinya menuju ruang makan. Dari ambang pintu, ia melihat Nevan dan Argan sedang makan malam. Mereka berdua duduk berhadapan, sesekali berbicara pelan, seolah berusaha menjaga suasana tetap tenang.

"Erga?" Nevan buru-buru menoleh. Senyum tipis penuh kelegaan terbit di wajahnya. "Kamu sudah bangun? Masih ngantuk?"

Erga menggeleng pelan. Matanya sayu, sembab dan bengkak, tapi kini tidak ada air mata. la hanya diam, berdiri di dekat kursi.

Argan cepat bangkit, mendekat dan mengusap rambut anak itu. "Kamu lapar, ya? Ayo duduk sini sama Daddy. Kita makan bareng, ya."

Namun Erga menunduk. Perutnya memang keroncongan, tapi rasa lapar itu kalah dengan sesak yang masih menekan dadanya. Bibirnya gemetar ketika ia berkata pelan, hampir berbisik, "Erga nggak mau makan. Erga mau minum aja."

Nevan dan Argan saling berpandangan. Hati keduanya seketika melos. Anak yang biasanya selalu berlari-lari riang, selalu merengek minta lauk lebih banyak, kini hanya berdiri diam, menolak makan.

Argan menunduk, berjongkok agar sejajar dengan Erga. "Kenapa nggak mau makan, hm? Nanti perut Erga sakit kalau cuma minum."

Tapi bocah itu tetap menunduk. "Nggak mau. Nggak enak." Suaranya serak, dan satu hal yang jelas terasa, ia kehilangan semangat.

Nevan bangkit dari kursinya, mengambil segelas air putih, lalu menyerahkannya pada Erga. "Kalau begitu minum dulu. Pelan-pelan aja."

Erga menerima gelas itu dengan kedua tangan mungilnya. Ia meneguk sedikit, lalu menaruhnya di meja. Setelah itu, ia hanya diam. Tidak ada celoteh, tidak ada tawa, bahkan tidak ada rengekan.

Suasana ruang makan itu jadi janggal. Hanya ada bunyi sendok yang beradu pelan di piring, sesekali. Nevan menatap Erga lekat-lekat, matanya mulai basah.

Little ErgaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang