"Gue gak mau tahu! Pokoknya lo yang urus ini bocah!"
"Lah, anjir? Ini gimana ngurusnya? Gue belum pernah ngurus bokem anjir."
Dan dari situlah semua masalah dimulai.
.
.
.
Tertarik? Yuk langsung baca, jangan lupa vote and komen yah😉
[DON'T COPY]...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu bulan kemudian
Pagi itu matahari bersinar lembut, hangat tapi tidak terlalu terik. Jalanan perumahan masih terasa segar, dihiasi aroma tanah basah karena semalam sempat turun hujan. Burung-burung gereja hinggap di kabel listrik, berkicau riuh seakan ikut merayakan awal hari. Erga bersiap untuk hari pertamanya sekolah. Bocah itu mengenakan seragam TK dengan celana pendek biru, kemeja putih, dan topi kecil yang masih tampak kebesaran.
"Papa, cepetan! Elga mau sekolah!" Erga berteriak sambil menenteng tas bergambar dinosaurus. Suaranya penuh semangat, meski ada sedikit kegugupan yang hanya bisa dibaca dari cara jemarinya memainkan tali tas.
Di ruang tamu, Argan yang pagi itu ditugaskan mengantar, sedang memeriksa kunci mobil. "Santai, Cil. Jangan buru-buru, sekolahnya nggak bakal kabur." Lelaki itu menoleh ke Nevan yang duduk santai di sofa, memainkan ponselnya. "Van, udah siap lo?"
Nevan mendongak, tersenyum kecil. "Dari tadi siap. Justru gue yang nunggu kalian." Tatapannya lalu beralih pada sosok perempuan yang baru keluar dari kamar, mengenakan blouse putih sederhana dipadu jeans biru muda. Rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya segar meski tanpa banyak riasan.
Itulah Sasa, sahabat dari Atha yang entah kenapa kini mulai akrab dengan Argan dan Nevan. Ia pagi ini ikut mengantar Erga ke sekolah, lebih karena tak ingin melewatkan momen pertama anak kecil kesayangannya. Sasa tersenyum hangat saat melihat Erga yang mondar-mandir penuh semangat. "Wah, ganteng banget Erga. Siap jadi anak sekolah, ya?"
Erga mengangguk bersemangat, lalu menggandeng tangan Sasa. "Elga tadi sudah latihan absen tahu, Kak. Nanti kalau Bu Gulu tanya, Elga jawab 'Hadil!' gitu. Kak Sasa mau dengal Elga latihan nggak?"
Sasa terkekeh. "Boleh, coba sini, Kakak jadi gurunya." Ia pura-pura memegang buku absen. "Erga?"
"Hadil!" teriak bocah itu sambil mengangkat tangan. Saking semangatnya, suaranya sampai membuat Argan yang sedang mengunci pintu terlonjak kaget.
"Buset, suara siapa itu, ya? Gue pikir ada tentara teriak komando," celetuk Argan sambil menggeleng.
Semua tertawa, termasuk Nevan yang biasanya jarang terbahak. Senyum tipis tersungging di bibirnya, tapi tatapannya tak lama beralih pada Sasa. Ada sesuatu di sana, sebuah perasaan yang ia simpan rapat, tak pernah diucapkan. Perasaan itu sederhana tapi berat, kagum, lalu berubah jadi cinta yang diam-diam tumbuh.
Mereka akhirnya berangkat. Argan menyetir mobil, Nevan duduk di kursi samping, sementara Sasa dan Erga duduk di belakang. Jalanan masih lengang, hanya sesekali dilewati motor.
"Papa, Kakak, Daddy, dengal ya! Aku mau latihan lagi," kata Erga tiba-tiba. Bocah itu duduk tegak, lalu mulai mengulang-ulang kalimat perkenalan. "Nama saya Elga. Hobi saya makan ayam goleng. Cita-cita saya mau jadi Powel Rangel!"
Sasa menahan tawa, membiarkan bocah itu larut dalam imajinasi. Ia menimpali, "Wah, keren banget. Tapi biasanya Bu Guru nanya tempat lahir juga, Ga."
Mendengar itu, Nevan melirik ke kaca spion, sekadar ingin tahu apa jawaban polos bocah itu.