20

252 38 4
                                        

Sorry for typo because typo is manusiawi🙏

Sorry for typo because typo is manusiawi🙏

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi itu rumah terasa lenggang. Di ruang tengah, seorang bocah kecil berusia lima tahun duduk diam di lantai, memeluk boneka beruang cokelat yang sudah mulai lusuh. Ia bernama Erga. Matanya menatap kosong ke arah jendela, wajahnya murung, seolah tidak ada semangat hidup di dalam dirinya.

Setelah kejadian semalam, Erga nampak berbeda. Suasana hatinya terus kelabu. Meski sudah diberikan penjelasan oleh papanya, Nevan, dan juga daddynya, Atgan, tetap saja hati kecilnya menolak menerima kenyataan bahwa sang Mama tidak akan pernah pulang.

Biasanya jika Argan ada di rumah, suasana sedikit lebih cerah. Argan tahu bagaimana cara mengalihkan perhatian Erga, dengan mengajaknya menggambar, atau sekedar menemani bermain di halaman. Tapi hari ini berbeda.

Sejak subuh, Argan sudah berpamitan. Ia harus pergi ke kampus, mengerjakan tugas kelompoknya yang katanya tidak bisa ditunda.

Bagi Erga, itu artinya dia hanya ditemani oleh papanya, Nevan. Bukan berarti ia tidak sayang dengan papanya. Tapi dalam benaknya yang polos, ada rasa hampa ketika salah satu dari mereka tidak ada.

Nevan memperhatikan Erga dari dapur. Ia baru saja selesai menyiapkan nasi goreng sederhana, dengan potongan wortel kecil agar terlihat menarik. Aroma harus menyebar ke seluruh ruangan.

"Erga!" panggil Nevan bersemangat, berjalan mendekat. "Ayo makan dulu, Papa udah masak nasi goreng kesukaan Erga loh."

Namun Erga hanya menggelengkan kepala. Ia semakin memeluk bonekanya, seakan tidak ingin diganggu.

"Nanti kalau Erga nggak makan, perutnya sakit loh," ujarnya, namun Erga masih tak bergeming.

Nevan duduk di lantai, sejajar dengan tubuh mungil Erga. Ia mengusap rambut lembut itu, mencoba tersenyum meski hatinya ikut perih.

"Kalau begitu Papa temani Erga di sini, ya?" ucapnya.

Anak kecil itu tidak menolak,  tapi juga tidak memberikan respon. Diam, murung, tenggelam dalam duka kecilnya.

Menjelang siang, hujan turun tipis-tipis membasahi halaman. Nevan sudah mencoba berbagai cara untuk membuat Erga tersenyum.

Ia sempat mengambil buku cerita bergambar, membacanya dengan suara dramatis. Namun, Erga hanya menunduk, tak tertarik.

Lalu ia menyalakan televisi, memutar kartun biru favorit Erga. Biasanya, mata Erga akan berbinar dan ia akan tertawa kecil setiap kali tokoh kesayangannya muncul. Tapi kali ini, tidak ada reaksi.

Nevan mulai kehabisan ide. Ia tahu kesedihan itu bukan sekedar soal hiburan. Anak kecil itu benar-benar merasakan kehilangan, dan ia masih mencari cara untuk menghadapinya.

Dengan perasaan sedikit putus asa, Nevan hanya duduk di samping Erga, mengusap pundaknya perlahan.

Dan tidak lama, suara ketikan terdengar dari pintu depan.

Little ErgaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang