"Gue gak mau tahu! Pokoknya lo yang urus ini bocah!"
"Lah, anjir? Ini gimana ngurusnya? Gue belum pernah ngurus bokem anjir."
Dan dari situlah semua masalah dimulai.
.
.
.
Tertarik? Yuk langsung baca, jangan lupa vote and komen yah😉
[DON'T COPY]...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Argan sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia tidur nyenyak. Mungkin tiga hari yang lalu. Mungkin seminggu yang lalu. Atau mungkin sejak hari itu, hari di mana dunia menjadi sunyi baginya, dan suara tawa Atha berhenti selamanya.
Tengah malam, suara gerimis hujan mengetuk jendela seperti pertanda. Di kamar Argan yang lembab dan berantakan, matanya terbuka menatap langit-langit. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu malam ini akan menjadi satu lagi malam yang tidak damai.
Dan benar saja. Saat kelopak matanya tertutup, dunia mimpi mengambilnya sebagai arus deras yang menenggelamkan tanpa peringatan. Ia berdiri di sebuah jalanan yang familiar. Jalan di mana terakhir kali ia mengalami kecelakaan di sana sesaat sebelum menjemput Atha.
Kabut menggulung di antara pepohonan di tiap pinggiran tepi jalan, udara membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih tajam seperti besi, atau lebih tepatnya bau anyir darah. Lalu ia melihatnya. Atha-berdiri di seberang jalan, mengenakan pakaian terakhir yang ia pakai sebelum semuanya berakhir.
Matanya menatap Argan lekat-lekat, dingin yang mengisyaratkan sebuah kebencian. Ia tidak tersenyum, tidak ada sapa atau pun suara, hanya diam membuat suasana kian mencekam.
"Atha?" Suara Argan terdengar lirih, gemetar.
Dan saat itu Argan merasa dunianya menjadi kacau. Atha melangkah mendekat, setiap langkahnya membuat tanah retak. Langit menjadi merah tua, bahkan burung-burung pun berjatuhan dari langit tanpa suara. Atha mengulurkan tangannya.
"Mengapa aku yang mati?" bisiknya.
Tangan itu tiba-tiba menggenggam erat leher Argan, erat dan panas seperti api. Argan berteriak, namun tidak ada suara yang keluar. Ia berusaha meronta, tetapi tubuhnya berat seperti terikat rantai. Matanya tanpa sengaja menatap manik Atha, dan ia bisa lihat mata itu hanya diliputi amarah, luka, dan dendam.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku?" desis Atha tajam.
Argan menjerit dalam mimpi. Tangannya berusaha melepaskan cekikan erat pada lehernya, hingga gelap menyelubungi segalanya.
Argan tersentak bangun dari tidurnya. Tubuhnya basah oleh keringat, dadanya naik turun, jantung berdegup liar seolah masih merasakan tangan Atha di lehernya. Ia bahkan hampir merasa tidak bisa bernapas.
Tanpa pikir panjang, ia menyambar jaket hitam yang tergantung di sisi kasur. Langkahnya tergesa, nyaris membentur meja yang dipenuhi dengan kertas tidak berguna. Ibunya memanggil dari dapur, mungkin karena mendengar suara gaduh yang ditimbulkan oleh Argan.
"Argan? Mau ke mana? Ini masih-"
Tapi Argan tidak menjawab. Ia membuka pintu dengan kasar dan melangkah ke malam yang dingin, seolah angin luar bisa menengkan badai di dalam dirinya. Ia tahu harus ke mana. Kakinya tahu jalan, dan hatinya tahu tujuan.