"Gue gak mau tahu! Pokoknya lo yang urus ini bocah!"
"Lah, anjir? Ini gimana ngurusnya? Gue belum pernah ngurus bokem anjir."
Dan dari situlah semua masalah dimulai.
.
.
.
Tertarik? Yuk langsung baca, jangan lupa vote and komen yah😉
[DON'T COPY]...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
1 bulan kemudian
Jam 06.12 pagi, Nevan terbangun akibat mendengar suara gaduh dari dapur. Buru-buru ia bangun dari tidurnya, mendengar suara benda jatuh, suara cairan tumpah, juga diselingi tawa kecil bahagia membuat Nevan kian panik.
"Jangan bilang...." desis Nevan berlari ke arah dapur.
Begitu sampai, ia terpaku di ambang pintu. Lantai penuh genangan susu, kotak sereal terguling, lemari bawah terbuka lebar, dan sendok-sendok berserakan seperti diterjang badai.
Di tengahnya berdiri seorang anak kecil lima tahun, memegang mangkuk plastik berisi sereal, susu, dan kecap.
"PAPA! Aku bikin salapan!" teriaknya riang.
Nevan mengangkat kedua tangan ke kepalanya, "Erga, kamu ngapain?"
"Lihat, Elga bikin salapan sendili. Hebat banget kan Elga!"
Nevan mendekat, menghindari lantak yang licin akibat tumpahan susu. Ia mengambil mangkuk dari sisi Erga dan melihat isinya yang seperti eksperimen gagal laboratorium.
"Kamu campur kecap?"
"Iya, bial lasanya kayak kalau kita main petualangan." Jawaban anak itu terdengar bangga dengan hasil karyanya pagi ini.
Nevan menatap dapur dengan nanar. Baunya campur aduk antara susu basi, sabun, dan kecap manis. Ia menghela nafas panjang. "Mulai sekarang kamu boleh bikin sarapan kalau Papa udah bangun. Ngerti bocah?"
"Oke!" seru Erga sambil membuat gestur dengan tangan mungilnya.
Dengan pasrah, mau tidak mau ia harus membersihkan dapur miliknya. Namun sebelum itu dia lebih dulu memandikan Erga, lalu memberinya sarapan simpel berupa roti panggang dengan olesan selai kacang di atasnya beserta susu hangat rasa coklat.
Dengan dapur kotor tentu dia tidak bisa bebas melakukan aktivitas memasak seperti pada umumnya.
Setelah hampir satu jam lamanya dia membersihkan dapur dari kekacauan yang disebabkan oleh Erga, Nevan akhirnya menjatuhkan diri ke sofa. Ia menutup mata, dan baru dua detik, lalu suara teriakan anak kecil membuatnya terkejut bukan main.
"PA! LIHAT ELGA!"
"Erga?" gumam Nevan bingung.
Belum sempat ia bangkit, suara debuman disertai gesekan terdengar jelas di telinganya.
Sesuatu meluncur dari tangga. Sebuah kardus besar dengan Erga duduk di dalamnya, meluncur kencang, membentur lantai, dan berguling dua kali sebelum berhenti.
Nevan menahan nafas, berusaha menghalau pikiran negatif dari kepalanya. Diam, hening, sebelum tangan kecil itu terangkat, disertai jempolnya yang menjulang.
"Elga oke, Papa."
Nevan jatuh terduduk. "Bisa mati muda gue kayaknya," gumam Nevan bernafas lega.