15

464 84 37
                                        

Sorry for typo because typo is manusiawi🙏

Argan duduk di pinggir ranjang, menatap kosong ke luar jendela kamarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Argan duduk di pinggir ranjang, menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Hujan deras turun mengaburkan pandangannya. Suara gemericik air yang jatuh dari atap terasa semakin menekan hatinya.

Tubuhnya kaku seperti kayu. Setiap detik yang berlalu di kamarnya terasa begitu lambat, seolah-olah waktu menahan dirinya dalam cengkeraman kesedihan yang tak terelakkan.

Di dalam keheningan itu, pikirannya melayang kembali ke Atha, wanita yang telah pergi begitu tiba-tiba, meninggalkan segala harapan yang sempat ia bangun untuk menebus kesalahannya.

Kepergian Atha bukanlah sekedar kehilangan seseorang yang tidak penting dalam hidupnya, bukan pula sekedar kehilangan sahabat baiknya. Itu adalah kehilangan yang menyayat hati, karena Atha pergi membawa segalanya termasuk bayi yang ada dalam kandungannya, anak yang seharusnya menjadi bagian dari hidup yang sudah ia coba susun. Namun, semuanya terenggut dalam sekejap.

"Atha..." suara itu terdengar lirih dari bibir Argan, seolah ia berharap bisa memanggilnya kembali. Namun, yang datang hanya kesunyian, yang semakin menambah berat beban di bahunya.

Perasaan bersalah yang menggantung di hatinya semakin menyesakkan. Argan tidak akan pernah bisa melupakan hari itu, hari dimana ia mendapati kenyataan pahit yang mengubah segalanya. Dia menghamili Atha, dan meski merasa takut dan bingung, Argan berjanji akan bertanggung jawab.

Terbukti saat Atha menghilang kala itu, dia sibuk mencari keberadaan Atha, bahkan sampai beberapa kali bolos mata kuliah hanya untuk menemukan keberadaan Atha.

"Kenapa harus lo, Tha? Kenapa?" bisik Argan, matanya terpejam, mencoba menahan air mata yang ingin jatuh. Ia merasa segala sesuatu yang telah ia usahakan menjadi sia-sia. Atha telah pergi, meninggalkan dirinya dengan kenangan indah dan tumpukan penyesalan yang tak terhitung jumlahnya.

Saat pertama kali mendengar kabar kecelakaan dari Nevan, Argan merasa seolah-olah dunia berhenti berputar. Hari-hari setelah kepergian Atha berjalan dengan lambat. Argan merasa hidupnya seperti kehilangan arah. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Ia sering kali duduk di tempat yang sama, menatap kosong, mengingat setiap detik yang pernah mereka habiskan bersama. Setiap tawa, setiap sentuhan lembut tangannya, dan setiap kata yang pernah dia ucapkan, datang menghantui dengan cara yang begitu tajam, seperti pisau yang mengiris hatinya.

"Kenapa gue bodoh?"

Argan sering bertanya-tanya, seolah mencari jawaban yang tidak pernah bisa ia temukan. Walau bukan ia yang menabrak Atha kala itu, tapi tetap saja dirinya merasa bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi.

Jika saja dia lebih berhati-hati, jika saja dirinya tidak mabuk kala itu, jika saja ia bisa menghindari kejadian itu, mungkin Atha masih berada di sini. Namun kenyataannya, ia hanya hidup dengan kenangan yang semakin memudar.

Little ErgaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang