"Gue gak mau tahu! Pokoknya lo yang urus ini bocah!"
"Lah, anjir? Ini gimana ngurusnya? Gue belum pernah ngurus bokem anjir."
Dan dari situlah semua masalah dimulai.
.
.
.
Tertarik? Yuk langsung baca, jangan lupa vote and komen yah😉
[DON'T COPY]...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu matahari baru saja menyembul malu-malu dari balik jendela rumah Nevan. Burung-burung berkicau, seakan menyambut hari baru yang sibuk. Tapi satu suara mengalahkan segalanya.
"PAPA! Celana Elga bolong lagi!" teriak Erga dari kamar tidurnya.
Argan, yang sedang duduk menyedihkan kopi di dapur, nyaris menumpahkan air panas ke lantai. Ia menoleh cepat dan menghela napas panjang.
"Bukan Papa, ini Daddy," ujar Argan sambil mendaki tangga dengan langkah cepat.
Begitulah pagi ini di mulai. Hari ini kebetulan Argan tidak ada mata kuliah, jadi hari ini dia menggantikan Nevan mengasuh Erga. Hal ini juga bertepatan saat Nevan sedang ada pertemuan dengan klien yang ingin menyewa cafe miliknya untuk digunakan sebagai acara.
Setelah mengganti celana Erga, Argan menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Jam belum menunjukan pukul sembilan pagi, tapi tubuhnya seakan baru saja pulang dari perang.
"Daddy, Elga mau salapan pakai telul ceplok terus pakai nasi anget pakai kecap tapi telulnya kuningnya halus matang setengah aja telus nasinya jangan kelas kayak kemalin yang dikasih tante Sasa ya telus Elga juga mau makan sambil nonton kaltun tapi makannya pakai tangan boleh nggak?" Erga berkata dalam satu tarikan napas.
Argan diam mematung, matanya mengerjap seolah berusaha mencerna apa yang baru saja bocah lima tahun itu katakan. "Iya, boleh," ujarnya bahkan terdengar seperti gumaman.
Ketika hendak memulai memasak, Erga mendekati Argan yang kini berusaha fokus berkutat dengan peralatan dapur. Erga menarik bangku kayu kecil untuk naik ke meja, siap ikut memasak.
Awalnya Argan menolak keras, namun karena paksaan dari Erga terus menerus dia pun memperbolehkan Erga ikut membantunya membuat sarapan, walau ia tahu konsekuensi yang akan dia dapatkan setelahnya.
Benar saja, satu jam berlalu dan sarapan yang dibuat dengan kerja sama pasangan ayah dan anak itu akhirnya masuk ke perut, bersama dengan tawa kecil milik Erga dan kepeningan dari Argan yang frustasi karena dapur milik Nevan kini berbentuk seperti kapal pecah.
Argan duduk di lantai ruang tamu, wajahnya letih, rambutnya sedikit berantakan, kaosnya bahkan terkena spidol merah.
Jam baru menunjukan pukul sepuluh, namun Erga sudah mengajak Argan bermain robot-robotan, main dokter-dokteran, menggambar di tembok yang katanya nanti bisa dihapus, juga memanjat lemari untuk mencari mainan yang kata Erga disembunyikan oleh sang Papa.
Argan menatap Erga yang kini bermain dengan boneka dino dan juga robot atronot miliknya. Entah mengapa, walau lelah menyerangnya, menatap wajah Erga yang ceria dan penuh semangat, ada rasa hangat yang menyusup diam-diam ke hatinya. Sama seperti saat ia bersama Atha dan Nevan di masa lalu.
Tiba-tiba ia jadi teringat oleh Atha. Nama itu berputar pelan di kepala Argan. Ia memejamkan matanya sejenak, ada rindu yang belum benar-benar sembuh.
Erga memanjat ke pangkuannya dan bertanya, "Daddy, Mamanya Elga masih lama ya sekolahnya?"