10

653 112 19
                                        

Sorry for typo because typo is manusiawi🙏

"Duh, duit gue abis lagi," dumel Atha dengan tangan yang sibuk merogoh beberapa dompet dan juga tas yang ia punya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Duh, duit gue abis lagi," dumel Atha dengan tangan yang sibuk merogoh beberapa dompet dan juga tas yang ia punya.

Beberapa menit yang lalu dia memang memesan makanan untuk makan siang. Niatnya ia juga akan sekalian mengambil uang agar si pengantar makanan nanti tidak menunggu dirinya terlalu lama. Siapa sangka jika ternyata ia tak memiliki uang sepeser pun.  Mau tak mau ia keluarkan sebuah kartu debit dengan bimbang.

Selama menghilang dia memang tak pernah menggunakan debit sama sekali karena tak ingin keberadaan diketahui, terutama oleh keluarganya.

"Kayaknya di bawah ada mesin ATM deh. Apa gue keluar ke bawah dulu ya buat ambil uang?"

Setelah diam beberapa menit karena bimbang, Atha pun menghela nafas pelan. Dirinya bertekad untuk turun ke bawah guna mengambil sejumlah uang melalui mesin ATM.

Langkah kakinya berjalan penuh keraguan hingga sampailah dia pada depan pintu ATM. Kebetulan sedang tidak ada orang, karena nampak jalanan sedikit sepi dan hanya ada dirinya yang berada di depan pintu mesin ATM.

Dengan gesit ia lancarkan rencananya untuk menarik sejumlah uang dari mesin tersebut.

Tangannya mengetik pin demi pin hingga munculah beberapa pilihan menu penarikan uang. Ia pun mengambil sejumlah uang setengah dari isi kartu debit miliknya.

"Mungkin ini bisa buat satu bulan ke depan kali ya?" monolog dirinya bertanya.

Karena urusannya sudah selesai ia pun kembali menuju kamar apartemen miliknya.

Ia kembali duduk sembari membaca sebuah buku non fiksi sembari menunggu pesanan makanannya datang.

Setengah jam lamanya ia menunggu hingga perutnya terus berbunyi, meronta meminta makan. Hingga tak lama kemudian suara bel apartemen memecahkan fokusnya.

Ah, akhirnya makanannya datang, begitulah batinya. Namun siapa sangka jika itu bukanlah kurir pengantar makanan yang ia pesan.

Saat membuka pintu dirinya dikejutkan dengan kehadiran empat pria bertubuh besar layaknya algojo dengan seorang pria paruh baya yang ia sangat kenali, berdiri di tengah-tengah para pria bertubuh besar.

"Papa?" gumam Atha lirih, nampak tak percaya dengan siapa yang ia lihat sekarang.

"Bawa dia!" Perintah itu terdengar mutlak, tentu saja langsung dituruti oleh keempat bawahannya.

Dengan kasar mereka menarik tubuh mungil Atha, menggiringnya keluar dari gedung apartemen ini. Atha yang tak mau pun memberontak sekuat tenaga, sayangnya tenaganya bukan tandingan para pria berbadan besar tersebut.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Little ErgaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang