Petemuan keluarga adalah hal yang sangat ingin dihindari oleh Amora saat ini. Tapi disinilah dirinya sekarang bermain golf bersama seluruh keluarga besar Hamid yah tidak semua, hanya keluarga yang masih tinggal di tanah air. Di sela - sela kesibukan yang padat mereka memang meluangkan waktu untuk berkumpul.
Amora datang terlambat, sengaja ia lakukan agar keluarga nya tidak menginterogasi tentang hubungannya dengan Percy. Baru saja ingin bernapas lega karena melihat semua para tetua sibu,
"Tuan Putri kenapa baru datang? Sudah jam berapa ini?" Amora menggembungkan pipinya mendengar godaan dari Om Anton.
"Ish Om, Amora sengaja, engga mau di interogasi." gerutu Amora di susul tawa Anton yang menggelegar. Dan menarik Amora ke pelukannya tak lupa menyematkan kecupan di pelipis keponakan kesayangannya.
"You deserve everything in this world princess, by the way Om membatalkan kerjasama Om dengan mereka, mantanmu itu harus diberi pelajaran." ujar Anton membuat Amora meringis kecil tak enak hati. Iya sih, mantan tapi Percy kan tidak menganggap mantan.
"Om jangan begitu, Amora jadi engga enak, lagian Amora emang masih bersikap childish," belum sempat melanjutkan kata - kata nya semua keluarga mendadak berhenti di lapangan dan menghampiri Amora.
Well, sebagai cucu perempuan satu - satu nya membuat Amora hidup penuh cinta dan limpahan harta. Dengan semua yang keluarga nya berikan membuat Amora berpikir hubungannya dengan Percy memang tidak akan se simple ini kan?
"Its okay princess, lagian itu proyek recehan, Om engga butuh." sahut Anton sembari memberikan usapan di rambut Amora.
Amora tertawa lebar, keluarga nya ini benar - benar.
Terlihat sang Opa berjalan menghampiri Amora yang masih sibuk dengan Anton.
"Give me a hug Princess." sapa Ramlan Hamid, lelaki tua itu dengan rambut memutih masih terlihat gagah dan tampan.
"Opa, I miss you." bisik Amora memeluk tubuh tinggi Opa nya.
"I always miss you princessa, so how's life?" Ramlan tersenyum melihat cucu perempuan satu - satunya yang beranjak dewasa.
"Everyhtings fine Opa, Amora sekarang senang bekerja sedikit untuk perusahaan." keantusiasan Amora membuat Ramlan tertawa.
"Princess, Opa tidak akan memaksa kamu untuk ambil alih salah satu perusahaan, you can do everything you want to do." sahut Opa seraya memberikan kecupan sayang di pelipis Amora.
Amora terlihat sibuk menanggapi para keluarganya, dari kejauhan Percy melihat semua yang dilakukan gadis kesayangannya. Percy tersenyum kecil, selalu saja hati nya berdesir saat melihat gadis itu.
"My pretty baby." gumam Percy.
Dengan langkah tegas Percy menghampiri mereka. Ramlan lah yang lebih dulu menyadari sosoknya. Ramlan tersenyum kecil, rupanya gigih juga calon cucu menantu nya ini. Ramlan meloloskan kekehannya, membuat mereka yang disana menatap Ramlan penuh tanya.
"Sepertinya kita kedatangan tamu." ucap Ramlan disertai senyuman kecil. Amora menatap sang Opa penuh tanya,
"Selamat siang semua." Amora menatap Percy dengan penuh tanya, kenapa bisa sampai disini?
Bahkan pesan dari Percy hanya dibaca oleh dirinya,
"Wah berani sekali bocah ini menampakkan diri setelah membuat kekacauan?" sahut Anton membuat Amora menelan ludah gugup, jangan sampai terjadi peperangan disini.
"Ah kebetulan niat saya kesini untuk meluruskan berita miring yang beredar, Opa, Om, Tante, dan Abang semua saya memohon maaf atas berita tersebut. Saya jelas tidak bertingkah buruk dibelakang Amora. Hanya Amora satu - satunya gadis yang akan saya nikahi dan saya cintai." jelas Percy dengan tegas seraya mendekat ke Amora mengecup pelipis gadis itu, tak lupa tangan nakal nya sudah bertengger manis di pinggang kecil gadisnya.
Amora tersentak kecil dirinya terkejut Percy sungguh sinting. Mengerti gadisnya terkejut Percy memberikan elusan pada pinggang kekasihnya itu, tak lupa melebarkan senyumannya.
"Kamu gila ya?" bisik Amora penuh tekanan.
"Crazy over you, princessa." balas Percy dengan kerlingan mata. Lagi - lagi Amora melototkan mata kecilnya.
Semua mata memandang dua pasangan itu geli. Bisa - bisa nya keturunan Aldebaran dengan beraninya menyentuh keturunan Hamid. Ramlan berdecak geli, dasar muda - mudi ini.
"Need a room bro?" dengan nada sarkas Amir menyela kemesraan itu.
"May I?" balas Percy pongah. Amora ternganga lagi, bisa - bisanya di depan keluarga besar nya.
"Amora masih terlalu kecil untuk menikah." gumam Henry, salah satu Uncle kesayangan Amora.
"Well, umur hanya angka kan? Saya bisa menikahi Amora kapanpun, sekarang, mau sayang?" suara berat Percy membalas gumaman itu dengan penuh tekanan.
"Dasar anak muda." kekeh Ramlan.
Amora sudah tidak bisa berkata - kata. Nyawa nya seperti lepas dari raganya, dengan dirinya yang ada di dalam dekapan Percy saat ini, jantung nya bertalu - talu. Seluruh aliran darahnya mengalir cepat. Pipi bulatnya memerah membuat Percy berdecak gemas ingin melahap gadisnya itu.
"Love you, princess." bisik Percy menatap Amora penuh cinta. Percy dengan gemas menggeram tertahan lalu menarik lebih rapat Amora ke dirinya, rasanya Ia ingin mengurung Amora hanya untuk dirinya. Percy ciumi rambut Amora penuh damba.
"Ihh stop, aku deg - deg an." rengek Amora kencang, Percy tertawa keras, oh astaga dirinya sangat amat tergila - gila pada gadis mungil ini.
"So? Can we go now, princess?" dengan lembut Percy menggiring Amora tak lupa berpamitan kepada semua anggota keluarga itu.
"Kita mau kemana?" tanya Amora malu - malu.
"Apart." singkat padat balasan dari Percy belum sempat Amora menjawab, Percy lebih dulu menarik lembut dirinya dan berpamitan kepada keluarga.
Porsche 911 Targa milik Percy membelah kemacetan sore hari ini. Percy memang berencana menculik kekasihnya.
"New car, again?" Amora melirik sinis lelaki tampan yang kini fokus menyetir dengan satu tangan, sedangkan jelas tangan satunya membelai lembut paha Amora.
"Bonus sayang, kamu mau? Ah atau kamu mau mobil lain? Mclaren? Maserati?" sahut Percy antusias.
Amora memutar bola mata nya malas,
"Should I remind you? Aku sudah punya semua." Percy meledakkan tawanya,
"I just want to spoiled you princess, tell me what you want ya." ujar Percy seraya memberikan ciuman singkat ke bibir ranum Amora.
