Hari kelulusan telah tiba, Amora menatap sekelilingnya sudah ia lalui masa putih abu - abu nya. Dirinya senang dapat meraih nilai terbaik, namun satu sisi Amora sedih harus berpisah dengan teman - teman nya yang lain.
Setelah menyelesaikan segala rangkaian kelulusan, Amora menyempatkan ke kantor Hamid. Kali ini tidak urusan pekerjaan, hanya saja dirinya bingung menghabiskan waktunya.
"Bapak, kita ke kantor Papa ya?" ujar Amora seraya melihat jadwal kuliah nya yang akan dimulai sebentar lagi.
"Saya bilang den Percy dulu ya non, tadi dia bilang suruh langsung pulang saja." sahut Sopir yang membuat Amora memutar bola mata nya malas, sudah jauh saja Percy masih mengatur dirinya.
"Ih bapak engga perlu nurutin dia yah, aku akan hubungi dia nanti." gerutu Amora sebal.
Sopir tersebut hanya meringis geli, Nona muda nya itu mungkin tidak tahu seposesif apa kekasihnya itu.
Amora berlari kecil memasuki lobby Hamid, tak lupa memberikan balasan sapaan para staff yang berpapasan dengan dirinya. Amora tampil feminime hari ini casual dress by dolce and gabbana menjadi pilihannya tak lupa valentino heels yang melingkupi tungkai indahnya, dan juga mini bag conti celine untuk melengkapi penampilannya hari ini.
"Hai Mora. Tumben siang bolong mampir kesini?" Sapa Rara salah satu sekertaris kakaknya.
"Hai Kak! Lagi gabut banget nih makannya mampir, mau ajakin Papa lunch juga sih, kalau abang dimana kak?" balas Amora antusias.
"Abang kamu baru aja meeting, kalau Bapak masih diruangannya, by the way ada mertua kamu tuh." goda Rara membuat Amora mencebikkan bibir kecilnya.
"Yayaya yasudah bye kak! Aku masuk dulu ya." Amora lantas berlalu dari hadapan Rara.
Amora masuk keruangan sang Papa dengan antusias rindu juga dengan calon mertua nya itu.
"Siang Papa dan Papi." sapa Amora menghentikan obrolan hangat antara Yusuf dan Orlan.
"Siang Princess." sahut keduanya membuat Amora melebarkan senyumannya.
Dengan cepat ia memeluk mereka satu persatu, tak lupa Yusuf dan Orlan mengecup pelipisnya dengan penuh kasih.
Amora menggerutu kesal karena lagi dan lagi dirinya harus menghadiri pesta. Memuakkan bagi Amora melihat para pebisnis menjilat sana sini untuk meraup keuntungan. Pertemuan dengan papa nya tadi lah yang mewajibkan Amora untuk hadir, dan juga sebagai calon istri Percy, iya untuk mewakili kekasihnya itu.
Amora sudah berada di dalam Ballroom salah satu hotel milik Aldebaran, jujur saja walaupun Amora muak dengan pesta tidak dipungkiri bahwa dirinya selalu suka dengan konsep pesta. Semua mata memandang gadis mungil itu yang tumben sekali sendirian.
Amora menghentakkan kaki kecilnya kesal karena terlihat hadir sendirian dan membuat perhatian para tamu tertuju pada dirinya,
"Hai? Sendirian saja?" Amora mengerjapkan mata bulat nya sedikit tersentak, dirinya belum hafal dengan para pebisnis disini. Lelaki dengan lesung pipit itu menatap Amora memuja, gaun hitam yang dipakai gadis itu terlihat kontras dengan warna kulitnya yang pucat.
"Siapa?" gumam Amora membuat lelaki di hadapannya terkekeh kecil, gemas.
"Ah, saya Lingga Wiranata." lelaki itu mengulurkan tangannya tanda ingin berkenalan,
Amora mengangguk kecil dan tersenyum simpul, enggan menanggapi kalau saja Percy membuat masalah dia pasti akan semangat menanggapi Wiranata ini yang terlihat lumayan tampan.
Baru saja Amora ingin melangkah pergi, tangan kecil nya sedikit ditarik oleh Lingga. Amora menghembuskan nafas kesal dan memutar bola mata nya.
"Kamu sudah tau kan saya siapa?." dengan cepat Amora menyentakkan tangan kekar Lingga yang menahannya. Bukannya tersinggung, Lingga tertawa kecil, dirinya sangat tertarik dengan cucu perempuan satu - satunya milik Hamid.
"Maaf saya lancang, senang berkenalan dengan mu Amora." senyum Lingga harusnya membius para kaum hawa tetapi tidak untuk Amora, dirinya sudah sebal karena dipegang sembarangan.
Amora mendelik kesal dan menginjak sepatu milik Lingga, lalu melangkah dengan cepat. Ini yang membuat Amora muak, dirinya sering sekali didekati untuk kepentingan bisnis. Ya walaupun dirinya dan Percy pun menguntungkan bisnis kedua belah pihak.
Dari kejauhan Andre terkikik geli melihat calon kakak iparnya begitu jutek menghadapi Wiranata dengan sengaja dirinya melihat dari kejauhan tak lupa memotret diam - diam dan terlihat jelas bahwa Lingga menyentuh Amora.
Andre terperangah Percy memang budak cinta baru beberapa detik Andre mengirim foto tersebut, kakaknya itu sudah menelpon dirinya. Dengan terburu - buru Andre menyusul langkah Amora dengan cepat, biar dua sejoli itu saja yang ribut.
Setelah Andre membuat keributan Amora mencubit lelaki tampan itu dengan keras. Yang benar saja, energi Amora sangat habis menghadapi emosi Percy, walaupun kekasihnya itu tetap lembut hanya saja Amora yakin kekasihnya akan menambah pengawasan terhadap dirinya.
"Udah gila hah." gerutu Amora masih kesal dengan Andre.
"Gue sebagai adik yang baik hanya melaporkan, lagian Lingga terlalu lancang." balas Andre cepat.
Sudah pasti Percy akan memberikan pelajaran berharga untuk Wiranata. Entah apalagi kali ini, Amora harap tidak begitu banyak menimbulkan kerugian.
Pesta itu berlangsung secara meriah para pesohor, petinggi negara berkumpul menjadi satu. Amora tidak tahan memilih berdiri untuk pulang lebih dahulu.
"Sudah bosan sayang?" tanya Yusuf seraya merangkul lembut bahu sang putri.
"Iya, Amora duluan ya Papa." dengan manja Amora menjawab. Yusuf terkekeh memperbolehkan Amora untuk pergi.
Lingga tidak hentinya menatap Amora , berdecak geli bagaimana bisa Amora mengabaikannya dan membuat Lingga semakin ingin mendekati cucu Hamid itu. Dengan perlahan Lingga menyelinap keluar ingin mengikuti Amora.
Amora menyadari dirinya diikuti oleh Lingga, apa yang diingkan om - om satu itu pikirnya.
"Butuh tumpangan?" suara berat Lingga mengagetkan Amora,
"Tidak perlu." gumam Amora lalu melesat pergi meninggalkan Lingga yang terkekeh gemas.
Sepertinya hidup Amora tidak akan tentram karena Wiranata itu.
