Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

24. Alodie's past.

247 23 0
                                        

"Ngantuk banget tiba tiba. Padahal di kereta udah banyak tidur deh, aneh" Kanaya mengusap kedua matanya.

"Ngapain disini? Bukannya istirahat" Jendra datang membawa keranjang berisi belanjaan.

"Eh? Aku ngantuk, tapi baru inget harus ngerjain tugas kelompok bikin powerpoint. Jadinya bikin kopi" Kanaya tersenyum.

"Malem juga kan bisa, Nay. Jangan keseringan minum kopi" Jendra menghela nafas.

"Malem ini deadline nya. Lagian aku cuma tinggal salin terus masukin ke powerpoint nya aja, abis itu aku bisa istirahat"

"Yaudah, daripada minum kopi mending aku yang kerjain tugas kamu. Biar kamu bisa istirahat aja" Jendra menjauhkan cangkir berisi kopi milik Kanaya.

"Ih ngga usah, itu kan tugas aku. Udah ah balikin kopi aku nya, aku harus cepet cepet ini nanti kalo ngga selesai bisa bisa kena omel yang lain"

Kanaya berusaha meraih kopinya, tapi Jendra justru semakin menjauhkannya. Jendra menatap Kanaya serius, karna ia betulan ingin membantu gadis itu.

"Nay, aku bantuin ya?" Jendra kembali menawarkan diri.

Kanaya mengulum bibirnya karna melihat ekspresi Jendra yang terlihat sangat berharap, ia menghela nafas.

"Yaudah boleh, tapi.. kamu bantu kalau mata aku beneran udah ngga kuat" Kanaya tersenyum tipis.

"Oke, yang penting aku bantu. Tapi jangan maksain kalau emang ngantuk, kamu tidur aja biar aku yang kerjain" Jendra ikut tersenyum.

Kanaya mengangguk.

"Terus itu kopinya gimana? Mubazir lho kalo ngga diminum" Tanya Kanaya menunjuk kopinya.

Secara tiba tiba Jendra langsung meneguk habis kopi itu, membuat Kanaya membulatkan matanya.

"Jen, kamu kan baru minum kopi. Kenapa minum kopi lagi?" Tanya Kanaya.

"Gapapa, daripada kamu yang minum. Mending aku aja" kekeh Jendra.

Saat Kanaya akan berucap lagi, Jendra buru buru mendorong Kanaya keluar dari dapur menuju kamar gadis itu.

"Udah, ayo ayo. Kalau ngomong terus ngga akan selesai tugas kamu" Jendra tersenyum.

Kanaya menghela nafas, kemudian tersenyum pasrah.

"Ah nyebelin banget, akhirnya selesai juga beres beres" Alodie mengeluh kesal.

Ia berbaring diatas kasur, menatap langit langit kamar.

"Kenapa sih dari dulu sampai sekarang, hidup Wilona selalu aja bahagia? Sedangkan gue? Gue harus kerja keras buat dapetin apa yang gue mau, ngga kaya Wilona yang bisa dapetin apapun tanpa harus ngelakuin apapun"

Alodie mengerutkan keningnya kesal.

"Wilona dari lahir udah hidup sebagai orang kaya, keluarganya juga harmonis walau sekarang orang tuanya udah meninggal" Diakhir ucapannya, Alodie menurunkan suaranya.

"Tapi meski begitu, dia sekarang punya pacar yang ganteng. Bahkan keliatannya cowo yang baik banget, dan gue iri.. kenapa Wilona selalu beruntung dalam segala hal?"

Alodie kembali menghela nafas.

"Dibandingkan hidup Wilona, hidup gue ngga ada apa apanya. Dan mungkin karna itu gue selalu ngerasa iri, setiap ngeliat Wilona keliatan bahagia" Alodie memejamkan matanya perlahan.

Rasa kantuk dan lelah, membuatnya tak lama tertidur.

Memang benar jika hidupnya tidak seberuntung Wilona, karena ia lahir dari keluarga yang kurang harmonis dan tidak berkecukupan.

KOSTAN JANUARTA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang