Salsa dan Bumi untuk pertama kalinya mengajak Quin berkunjung ke rumah oma dan opa di Jakarta. Bukan tanpa sebab, karena mereka diminta oleh orang tua Bumi untuk menghadiri acara keluarga yang diadakan di kediamannya. Sebenarnya Salsa agak takut, pasalnya ia belum pernah melakukan penerbangan dengan membawa anak. Namun Bumi meyakinkan jika mereka berdua pasti bisa melewatinya. Salsa juga sudah mencari tahu apa saja yang perlu disiapkan jika terbang dengan membawa bayi.
Persiapan sudah dilakukan Salsa, mulai dari menyiapkan keperluan mereka selama 5 hari disana, seperti pakaian dan juga barang-barang wajib untuk Quin. Tak dipungkiri jika sudah memiliki buah hati tentu saja barang-barang yang dibawa untuk bepergian bisa 2 atau 3 kali lipat lebih banyak.
Salsa juga sudah memesan tiket pesawat untuk mereka bertiga, ia juga memesan kursi khusus untuk bayi mereka.
Bumi juga sudah mengatur untuk mendelegasikan pekerjaannya selama 5 hari kepada orang-orang kepercayaannya. Sebenarnya acara keluarga mereka hanya diadakan satu hari, namun Bumi merasa ia perlu memberikan waktu untuk Salsa dan Quin berlibur juga. Karena selama ini mereka berdua hanya berkutat dirumah saja. Maka ia memilih untuk menambah waktu di jakarta untuk bisa berjalan-jalan.
"Sayang kita kan flight jam 4 sore, kayaknya kita berangkat jam 2 ya ke bandara, soalnya biar ngga buru-buru nanti, kasihan Quinnya" Salsa memberikan ide karena jarak rumah mereka ke bandara hampir satu jam, maka mereka harus berangkat lebih awal
"Iya sayang, biar kita juga bisa santai nanti. Adek ada yang mau di bantu ngga packingnya?" Tanya Bumi yang melihat Salsa sibuk memasukkan barang-barang
"Ngga usah mas, ini udah selesai kok, ada yang ketinggalan lagi ngga ya ?" Salsa mengecek kembali barang bawaan mereka
"Itu ASI yang dikulkas gimana dek ? Kalau ditinggal lama gapapa ?" Bumi mengingat jika Salsa memiliki banyak stok asi di kulkas mereka
"Itu tinggal dikit juga mas, nanti adek bawa buat persiapan di perjalanan, mas boleh tolong ambilin terus dimasukin ke kotak ASI ya"
"Oke siap, adek ada yang mau dibeli ngga buat perjalanan nanti, cemilan atau apa ?" Bumi memastikan
"Ngga usah mas, nanti beli di bandara aja kaya nya biar ngga repot bawanya" Salsa memberikan opsi agar mempermudah mereka
Setelah selesai mengemasi barang-barang, kini Salsa menyiapkan bekal makanan untuk Quin, khawatir jika nanti bayinya itu lapar di perjalanan.
Waktu menunjukkan pukul 14.00 Salsa dan Bumi sudah jalan menuju bandara diantarkan oleh supir mereka. Para asisten rumah tangga juga sudah Salsa liburkan selama 5 hari, tentu saja tetap diberikan gaji. Ada rasa senang di hati Salsa dalam perjalanan menuju Jakarta kali ini, pasalnya ia benar-benar butuh healing dari kesibukannya mengurus Quin dan juga dari penatnya menjadi seorang ibu. Walaupun hanya mengunjungi mertua, ya saat ini hal itu cukup menyenangkan bagi Salsa.
Sampai di bandara, Bumi yang mengurus semua keperluan check-in dan juga pendaftaran bagasi. Mereka membagi peran karena Salsa harus siaga menjaga putri kesayangannya, karena ini merupakan perjalanan penerbangan pertamanya, ia harus memastikan semuanya baik-baik saja.
Sambil menunggu Bumi, Salsa duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di bandara. Ditempat ini ingatannya mulai muncul disaat Salsa dan Bumi melakukan perjalanan bulan madu mereka ke Swiss. Sepertinya belum lama sejak waktu berlalu, namun kini mereka sudah memiliki buah hati, dari mulai perjalanan hanya dilakukan berdua, sampai dengan saat ini sudah menambah satu personil yang akan mengiringi setiap perjalanan mereka. Sungguh cepat rasanya, hal itu membuat hatinya penuh dengan kebahagiaan. Tak sadar senyum salsa mengembang sempurna.
"Quin sayangnya Bubu, ini perjalanan pertama kamu sayang, Bubu janji akan sering-sering ajak kamu jalan-jalan ya, kita bertiga. okay baby girl ?" Salsa mengajak putrinya berdialog
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA BUMI (END)
Teen FictionDunia Salsa yang sudah berisik, kian bertambah berisik saat bertemu dengan Lianta Bumi Narendra (Bumi) lelaki dingin dan tak punya hati, tidak seperti namanya Bumi yang harusnya menjadi sumber ketenangan bagi semua orang, namun hadirnya malah membua...
