Bumi masih tak percaya bahwa Renjananya telah kembali. Kebahagiaan Bumi tak dapat di deskripsikan saat ini, melihat Salsa yang sudah sembuh dan semakin lengkap karena kasus teror yang menimpa mereka telah selesai. Salsa dan Bumi benar-benar telah melewati satu badai besar di dalam rumah tangga mereka.
Mungkin benar istilah 'Setelah badai terbitlah pelangi'. Bumi hanya berharap semua kesakitan yang dirasakan Salsa akan berangsur hilang berganti dengan kebahagiaan. Karena bagi Bumi tak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan Salsa. Bumi tahu akan butuh waktu lama keadaan ini akan kembali seperti semula, namun Bumi berjanji akan ada disetiap proses penyembuhan Salsa.
Bumi memang tak bisa menghapus mimpi buruk yang pernah Salsa alami, tapi Bumi akan berusaha menggantinya dengan mimpi-mimpi indah yang akan mereka wujudkan bersama. Menjalin hubungan dengan seseorang dalam ikatan pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, lebih dari itu adalah tentang arti saling menerima dan tetap bersama apapun kondisinya. Salsa dan Bumi kini sudah membuktikannya.
"Sayang.." Panggil Bumi setelah menguraikan pelukan diantara mereka
"Hmm"
"Kamu beneran udah baik-baik aja ?"
"Iya mas, aku baik-baik aja sekarang, kata dokter paling cuma butuh terapi pengendalian diri aja" Salsa tak berbohong keadaan nya memang sudah membaik
Bumi memandang wajah Salsa, tak terasa air matanya menetes, membuat Salsa bingung karena tiba-tiba suaminya itu menangis
"Kenapa mas?"
Bukannya menjawab Bumi malah kembali memeluk istrinya itu.
"Mas takut, dek" Bumi menggantungkan kalimatnya
Salsa mengelus punggung suaminya yang sedikit bergetar akibat tangis nya.
"Mas takut kalau adek ngga bisa ngenalin mas lagi kaya kemarin, mas ngga bisa bayangin gimana hidup mas tanpa adek" Suara Bumi terdengar pilu menggambarkan ketakutannya saat itu
"Maafin adek ya mas, adek udah buat mas takut"
"Bukan salah adek, mas yang salah, karena ngga bisa jagain adek sampe adek ngalamin kejadian teror itu"
"Mas ?" Panggil Salsa pelan
"Mas ngga papa ? kalau istri mas punya sakit mental kaya adek ?" Ada nada yang menyakitkan dibalik pertanyaan Salsa
Bumi menggenggam tangan Salsa erat, tanda ia tak akan melepaskannya sampe kapanpun.
"Adek masih raguin cinta mas ke adek ya ?" Bumi tak menjawab malah balik memberikan pertanyaan kepada istrinya itu
"Adek percaya, mas juga udah buktiin ke adek kalau mas cinta sama adek. Tapi mas, sakit ini ngga akan bisa sembuh? Mungkin suatu saat akan kambuh lagi, kita ngga pernah tau" Salsa menunduk pasrah setelah mengatakannya
Bumi membawa kepala Salsa untuk mendongak tegak sejajar dengan Bumi.
"Adek tau ngga ? Seumur hidup mas baru kemarin mas ngerasa hidup mas benar-benar hancur, saat liat kondisi adek yang kaya gitu dan ngga bisa ngenalin mas. Bahkan mas hampir aja bunuh orang dek, kalau ngga ditahan sama papa. Mas sehancur itu tanpa adek, jadi kalau adek tanya apa mas ngga keberatan punya istri yang sakit? atau karena mungkin bisa kambuh kapan aja, jawabannya tentu aja mas ngga pernah sekalipun keberatan. Justru kalau bukan adek orangnya, mas ngga akan bisa hidup dek. Jadi tolong jangan keluarin pertanyaan yang bahkan ngga bisa mas bayangin" Bumi mengeluarkan isi hatinya yang terdalam bahwa ia memang tak mengkhawatirkan apapun selama Salsa di sampingnya.
"Makasih mas, udah nerima adek, walaupun adek banyak kekurangan. Adek beruntung karena sebegitu dicintai sama mas, adek janji akan berusaha ngelakuin yang terbaik supaya ngga ngecewain mas" Salsa kini sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang mengganggunya sejak ia bangun kemarin. Tentu saja Salsa merasa takut jika penyakitnya ini akan membebani Bumi kelak.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA BUMI (END)
Novela JuvenilDunia Salsa yang sudah berisik, kian bertambah berisik saat bertemu dengan Lianta Bumi Narendra (Bumi) lelaki dingin dan tak punya hati, tidak seperti namanya Bumi yang harusnya menjadi sumber ketenangan bagi semua orang, namun hadirnya malah membua...
