Salsa membuat agenda untuk mengajak Bumi, Quin dan juga orang tua mereka untuk camping di Puncak, Bogor. Selain untuk mempererat tali silaturahmi antar kedua keluarga, Salsa juga ingin mengajarkan Quin untuk mencoba beradaptasi di alam terbuka.
Tentu saja agenda itu bukan hal yang mudah, mengingat semua orang memiliki kesibukan masing-masing. Namun dengan tekad yang kuat dan juga usaha yang sangat meyakinkan, akhirnya semua menyetujui ide Salsa. Apalagi jika sudah menyangkut cucu pertama mereka tentu para kakek dan nenek itu tak bisa berkutik.
Salsa sudah mengatur semua kebutuhan mereka, jadi tak perlu bersusah payah untuk mencarinya. Tentu saja Salsa paham bahwa orang tua tinggal duduk manis, biarkan yang muda yang bekerja.
Camping yang Salsa rencanakan ini berlokasi di Bogor, mereka akan melakukan perjalanan jalur darat. Papa, Mama dan Senja akan berangkat dari Jakarta, sedangkan Ayah, Bunda, Salsa, Bumi dan Quin jalan dari Yogyakarta. Camping ini dilaksanakan selama tiga hari. Salsa sudah memesan tempat dan semua keperluan untuk camping termasuk tenda, peralatan masak dan juga bahan makanan.
"Yeayy sudah siap semua !" Teriak Salsa saat selesai mengemas pakaian miliknya, Bumi dan Quin
"Makasih sayang udah siapin semuanya" Ucap Bumi tulus
"Its okay, adek happy banget akhirnya kita liburan lagi"
"Iya dek mas juga seneng, ini pertama kalinya kita liburan bareng sekeluarga pas udah ada Quin"
"Tapi Quin aman kan kalau perjalanan jauh dek? " Tanya Bumi
"Insya Allah aman mas, adek juga udah siapin box khusus mainan kalau nanti Quin bosen di jalan. Lagipula kita jalan santai, kalau capek kita bisa istirahat mas" Salsa menyiapkan semua kebutuhan dengan cermat agar perjalanan mereka lancar
"Emang istri idaman, pantes mas sayang terus" Goda Bumi
"Hahaha, berarti peletnya manjur mas kalau sayang terus" Candaan seperti ini lah yang membuat Salsa tak pernah bosan saat berbincang dengan Bumi
"Kalau adek orangnya, mas juga rela di pelet seumur hidup"
"Ihh mas geliii, gombalannya bikin merinding tau" Bukannya baper Salsa malah protes dengan pujian-pujian Bumi
"Bubuuuuuuuu.... ayukk tidulll, gausah ulusin Baba" Teriak Quin memanggil dari kasur mereka, karena Salsa berada di walking closet maka Quin harus sedikit berteriak agar terdengar oleh Salsa
"Ganggu aja telur mata kuda" Greget Bumi karena anaknya itu selalu datang disaat ia sedang manja-manja dengan Salsa
"Telor mata kudanya udah manggil, adek kesana dulu sebelum matanya berubah jadi hiu" Salsa puas melihat ekspresi kesal Bumi
"Kayanya bener deh, kalau nama adalah doa, buktinya Quin udah bener-bener kaya ratu, lah Babanya kebagian jadi dayang aja sekarang" Bumi meratapi nasibnya
Malam ini mereka tidur lebih cepat agar mempersiapkan stamina untuk hari esok, mereka akan melakukan perjalanan jauh.
---
Puncak In love
Salsa, Bumi, Quin, Ayah dan Bunda menggunakan satu mobil dengan diantar supir mereka. Untuk barang-barang yang mereka bawa berada di mobil lainnya. Mereka berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan.
Perjalanan mereka diwarnai dengan canda tawa, Quin juga tampak senang dan antusias dengan perjalanan pertamanya itu. Tak ada drama rewel dijalan. Semuanya sesuai dengan keinginan Salsa.
Perjalanan 8 jam itu pun tak terasa. Kini mereka sudah sampai di lokasi yang sudah Salsa pesan sebelumnya. Pemandangan di puncak memang tidak pernah mengecewakan. Rasa lelah langsung hilang seketika saat menghirup udara segar dari atas puncak.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA BUMI (END)
Roman pour AdolescentsDunia Salsa yang sudah berisik, kian bertambah berisik saat bertemu dengan Lianta Bumi Narendra (Bumi) lelaki dingin dan tak punya hati, tidak seperti namanya Bumi yang harusnya menjadi sumber ketenangan bagi semua orang, namun hadirnya malah membua...
