72. Memori Baik

335 39 3
                                        

Setahun berlalu setelah kejadiaan teror naas yang menimpa Salsa dan Bumi. Kehidupan Salsa sudah pulih kembali seperti sedia kala. Salsa juga aktif melakukan kegiatan-kegiatan positif untuk menyibukkan dirinya.

Selain sedang merintis karir menjadi seorang penulis seperti cita-citanya, kini Salsa juga sudah resmi menjadi pemilik sekaligus pengelola Rumah Disabilitas milik keluarga Bumi. Memang sejak awal menikah, orang tua Bumi sudah memutuskan bahwa Salsa lah yang akan mengurusnya. Dan karena alasan Salsa yang paling tepat untuk mengemban hal itu.

Salsa dibantu oleh Via yang kini resmi bekerja bersama di bawah yayasan Narendra, di dalamnya ada Rumah disabilitas dan juga panti rehabilitasi untuk penderita kekerasan seksual. Panti rehabilitasi ini didirikan Salsa satu bulan yang lalu untuk membantu para korban kekerasan seksual agar bisa sembuh dari trauma dan memulai kehidupannya kembali.

Panti ini memang khusus Salsa buat untuk menolong orang-orang yang pernah merasakan hal yang sama dengan dirinya di masa lalu. Keterbatasan dan ketidakmampuan korban yang menjadi alasan Salsa, tak banyak dari korban-korban kekerasan seksual yang bisa menemui psikolog atau berada di lingkungan yang mendukung pemulihannya. Akhirnya Salsa bertekad untuk merangkul korban-korban seperti dirinya untuk turut membantu menyembuhkan mereka dari trauma yang dialaminya.

Bumi sangat mendukung keputusan Salsa. Namun semuanya masih dalam pengawasan dan pantauan Bumi. Menjadi wanita karir dan ibu rumah tangga sekaligus membuat Bumi semakin bangga dengan Salsa. Baginya, istrinya itu benar-benar wanita idaman, selain paras nya yang menawan, sifatnya juga dipenuhi dengan kebaikan. Maka tak heran jika Bumi semakin mengaguminya. Tangki cinta nya pada Salsa semakin penuh setiap harinya.

Saat ini Quin sudah menginjak usia dua tahun lebih lima bulan, sepuluh bulan lalu ia sudah bisa berjalan, dan kini ia sudah bisa berlari mengejar Bumi yang suka menjahilinya. Bayi kecil yang sudah mulai bertransformasi menjadi anak manis itu kini semakin pandai berbicara, bahkan mahir merayu Salsa untuk mendapatkan segala keinginannya. Seperti sore ini selepas pulang kerja, Salsa dan Bumi sedang bersantai di halaman samping rumah, lalu mendapati Quin yang sedang menari diatas rumput di taman milik mereka.

"Bubu, Quin bosen, mau main dilual boleh ?" Rayu anak manis yang belum lancar menggunakan huruf 'R' itu. Sepertinya ia tampak mulai bosan bermain sendiri

"Udah sore sayang, bentar lagi maghrib lo, main dirumah dulu ya, Bubu temenin"

"Iyaa cantik, besok aja main diluarnya ya, kan besok hari minggu, nanti Baba temenin"

"Benel ya Ba? Quin mau kenalin temen Quin, namanya Kai"

Salsa mengetahui bahwa anak laki-laki yang diceritakan Quin adalah anak dari salah satu tetangganya, mereka memang beberapa kali pernah bertemu saat sedang bermain di taman.

"Emang anak cantik Baba udah punya temen ?"

"Udah dongg, Kai baik banget kemalin kasih aku loti"

"Baba juga baik, sering kasih Quin roti, mainan, dan juga sepeda" Bumi tak mau kalah saat putrinya memuji laki-laki lain dihadapannya

"Baba baik banget, tapi Kai lebih ganteng tauu" Quin malah menantang Bumi

"Baba juga ganteng, buktinya Bubu jadi istrinya Baba" Kini Bumi mulai masuk dalam perdebatan kecil dengan putrinya

"Ya tapi pokoknya Kai nomol satu gantengnya" Quin bersikeras

"Nomor satu Baba, dia nomor dua!" Tajam Bumi

"Bubu, itu Baba malah-malah, padahal Kai gantengnya nomol satu" Adu Quin pada Salsa

Salsa yang mendengarkan percakapan anak dan ayah itu menggeleng tak percaya. Sifat Quin dan Bumi memang sebelas-dua belas jika urusan mempertahankan argumen. Dua-duanya sangat tak mau kalah, sungguh devinisi buah jatuh sepohon-pohonnya.

RENJANA BUMI (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang