Tepat di hari perilisan buku pertama Salsa. Sejak pagi Salsa, Bumi dan Quin sudah bersiap untuk acara hari ini. Tak banyak persiapan yang dilakukan karena semuanya sudah diselesaikan di hari sebelumnya. Kini Salsa hanya tinggal menyiapkan mental sekaligus kata-kata yang akan ia sampaikan saat perilisan nanti.
Sebenarnya Salsa cukup gugup, karena ini merupakan kali pertama karya miliknya akan diterbitkan. Membayangkan saja rasanya Salsa tak percaya.
Namun kenyataan kembali menyapa dirinya, saat Bumi tiba-tiba memegang pundak Salsa yang tengah melamun di depan cermin saat merias wajahnya.
"Sayang, kok bengong.. Kenapa?" Tanya Bumi
"Adek deg-degan mas, takut kalau ga sesuai sama ekspektasi orang-orang nanti" Salsa mengutarakan kekhawatirannya
Bumi membawa Salsa duduk diatas sofa yang ada di kamar mereka.
"Mas percaya sama kemampuan adek, apapun hasilnya nanti, itu udah pasti yang terbaik, karena mas yakin adek punya kemampuan yang luar biasa dalam menulis. Jadi adek ngga perlu khawatir, serahin aja semua sama Allah ya" Bumi mengusap tangan Salsa untuk menguatkan
"Iya mas, mungkin adek terlalu overthinking kali ya, maklum ini pengalaman pertama adek mas"
"Its okay sayang, oiya mas belum bilang ke adek ya, kalau mas udah nyelesaiin baca buku yang adek kasih ke mas. Dan yapp tanpa melihat adek sebagai penulisnya, cerita nya bener-bener bagus dan menyentuh, mas aja sampe nangis bacanya" Bumi memuji Salsa dengan tulus
"Beneran ? Kapan mas bacanya ? Perasaan adek ga pernah liat mas baca buku di rumah ?"
"Bener dong sayang, mas selesaiin bukunya selama empat hari, mas gunain waktu istirahat mas buat baca buku adek. Jadi sebagai gantinya mas ga pernah makan siang diluar, selalu pesen dan makan di kantor. Bahkan pernah mas lagi baca sambil makan terus nangis" Ingat Bumi saat beberapa waktu lalu ia membaca buku karya Salsa
"Serius sampe nangis gitu mas ?"
Bumi mengangguk sebagai jawaban
"Kalau ga percaya adek bisa tanya Aro, dia pernah mergokin mas nangis sambil makan hehe"
Salsa memeluk Bumi, ia merasa sangat diapresiasi oleh suaminya itu.
"Mas tau ga ? Adek beruntung punya support sistem kayak mas, rasanya adek ngga pernah kekurangan tangki kasih sayang. Mas selalu ada buat adek dan paling bisa ngilangin kekhawatiran adek. Makasih mas" Ucap Salsa sangat manis
"Itu udah jadi tugas mas dek, jadi adek ga perlu bilang makasih" Bumi mengusap pucuk kepala Salsa
"Hallooooo, kapan kita belangkat ya ? Kalau Bubu sama Baba mesla-meslaan telus ?" Teriak Quin dari balik pintu yang menyaksikan kegiatan ayah dan ibunya itu
"Apa si, iri yaa ? Baba dipeluk Bubu pagi-pagi ?" Ledek Bumi seperti biasa, kegiatan menjahili Quin sudah menjadi kebiasaan yang paling Bumi sukai saat ini.
"Nggak, kenapa ili ? Quin di peluk Bubu telus kok selama tidul, tadi pagi juga udah molning hug pas bangun, Wleee" Balas putri kecil Bumi tak mau kalah
"Oke mari kita sudahi perdramaan pagi ini, karena kita harus ke gallery. Lets go!" Salsa meninggalkan Bumi yang masih ditempatnya dan menggendong Quin dalam dekapannya.
Dari balik punggung Salsa, Quin menjulurkan lidahnya untuk mengejek Bumi yang masih terpaku di tempatnya karena ditinggalkan oleh Salsa.
---
Rilis
Semua tamu undangan sudah hadir dalam acara launching buku 'Pesona Sederhana' karya Salsa. Beberapa wartawan juga hadir untuk meliput acara ini sebagai sumber berita di platform mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA BUMI (END)
Teen FictionDunia Salsa yang sudah berisik, kian bertambah berisik saat bertemu dengan Lianta Bumi Narendra (Bumi) lelaki dingin dan tak punya hati, tidak seperti namanya Bumi yang harusnya menjadi sumber ketenangan bagi semua orang, namun hadirnya malah membua...
