76. A Day With Quin

429 51 1
                                        

Hari ini Salsa ada keperluan mengunjungi kantor penerbit untuk mengurus perihal Buku yang sudah rilis dua minggu lalu. Tak disangka antusias para pembaca sangat tinggi pada Buku bertajuk 'Pesona Sederhana' itu. Belum genap satu bulan semenjak perilisannya, sudah terjual puluhan ribu eksemplar. Sungguh kesuksesan yang tak terduga bagi Salsa.

Salsa memang tidak pernah berekspektasi bahwa karyanya akan banyak disukai oleh pembaca. Namun mendengar bahwa bukunya itu sudah banyak terjual, tentu saja menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi Salsa. Setidaknya ia berharap bahwa bukunya itu bisa menginspirasi banyak orang.

Saat Salsa sedang bersiap, Bumi yang memang sedang libur hari ini pun hanya memandangi istrinya dari balik cermin.

"Cantik banget si penulis yang satu ini, jadi khawatir ada yaang ngincer nanti diluar" Ucap Bumi masih dengan posisi yang masih sama berada diatas kasur miliknya

"Lahh emang ga kelihatan mas di jidat adek ini ada stempelnya"

"Stempel apa ?" Bumi tak mengerti

"Nih liat ada tulisannya 'Punya Bumi' ya kan?"

"Coba liat" Bumi ingin mengecek sendiri

Salsa mendekatkan keningnya ke arah Bumi, tak disangka malah mendarat satu kecupan singkat disana. Tentu saja karena ulah suaminya itu

"Alaaahhh modusss"

"Itu baru namanya stempel dek. Mas ga khawatir lagi kalau udah di stempel gitu" Bumi dengan nada tengilnya

"Ada-ada aja mas. Dah sana adek mau siap-siap dulu, jangan di ganggu nanti ngga selesai-selesai" Salsa mengusir suaminya

"Quin ga usah ikut adek ya, dirumah aja sama mas, nanti kalau bosen mas ajak main ke taman komplek"

"Serius mas ? Emang gapapa kalau Quin adek tinggal ?" Salsa memastikan

"Serius sayang, udah gapapa, kan ada mas juga"

"Kalau nanti nangis gimana ?" Salsa masih terlihat ragu

"Dek, Quin itu anak mas juga loh, masa cuma nangis aja aku ga bisa nenangin" Bumi belum mengetahui saja, jika anak sudah tantrum bagaimana. Namun Salsa tetap memberikan waktu untuk Bumi, karena Salsa paham bahwa quality time ayah dan anak juga dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang Quin

"Ya oke-oke adek percaya"

"Adek beneran berangkatnya ngga mau mas anter ?" Tawar Bumi

"Bener mas, adek kan sama Via juga, jadi aman" Sekarang selain bekerja di yayasan Narendra, Via juga menjadi asisten pribadi Salsa untuk membantu semua pekerjaannya

"Oke deh, pokoknya hati-hati yaa, ada apa-apa harus kabarin mas secepatnya" Titah Bumi

"Siapp bosss!! Si paling posessif"

"Ini namanya bukan posessif dek, tapi protektif"

"Iya sayangg, oiya mas juga kalau ada apa-apa sama Quin nanti telpon adek aja yaa" Peringat Salsa

"Nanti ganggu kerjaan adek ga ?"

"Ngga dong, tetep bagi adek mas dan Quin itu prioritas, So let me know kalau butuh adek ya mas" Salsa menekankan kalimatnya agar Bumi tetap menghubunginya jika terjadi sesuatu

"Oke siap sayangg"

"Yaudah mas, adek jalan dulu yaa. Nanti kalau cepet adek langsung pulang" pamit Salsa

"Take your time sayang, hati-hati di jalan ya sayang, nyetirnya jangan ngebut-ngebut" Pesan Bumi agar Salsa berhati-hati

Salsa mengangguk paham menyetujui permintaan suaminya itu, lalu mencium punggung tangannya untuk berpamitan.

RENJANA BUMI (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang