Tak mudah bagi sebagian orang hidup berdamai dengan masa lalunya, terkadang butuh waktu seumur hidup untuk terbebas dari kenangan buruk yang membelenggunya. Tak heran jika banyak dari mereka memilih untuk mengakhiri semua memori kelamnya dengan cara-cara yang tidak biasa.
Itulah alasan Salsa mendirikan rumah rehabilitasi untuk korban kekerasan, baik dalam bentuk fisik dan verbal. Setelah berdiri selama enam bulan, Salsa sudah banyak menyelamatkan nyawa. Banyak dari mereka yang mulai sembuh dan berdamai dengan masa lalunya.
Di panti rehabilitasi ini, mereka didampingi oleh para tenaga medis profesional yang akan membantu mereka dalam mengatasi trauma yang dialaminya. Selain itu panti rehabilitasi ini juga mengajarkan mereka untuk bisa memiliki skill dan ketrampilan yang akan mendukung proses penyembuhan. Lingkungan yang tepat dan saling mendukung akan membawa mereka menuju harapan, bahwa semua orang berhak untuk bahagia dalam hidupnya.
Salsa sangat bahagia, ia bisa sedikit banyak membantu orang-orang yang seperti dirinya agar bisa sembuh dan normal kembali. Tak bisa dipungkiri, dari 67 pasien yang ada di rumah rehabilitasi, 62 diantara nya adalah perempuan. Maka dari itu mereka benar-benar butuh perlindungan.
Salsa juga tidak memungut biaya bagi siapapun yang datang ke rumah rehabilitasi miliknya itu, karena memang itu diniatkan untuk membantu siapapun yang membutuhkan sekaligus merupakan bentuk dukungannya terhadap para korban. Sehingga mereka bisa memiliki tempat yang nyaman untuk menyembuhkan diri.
"Sal, gue setiap kesini rasanya kaya sedih gitu ya bawaannya?" Ucap Via yang sedang berjalan di halaman bersama Salsa, menuju rumah rehabilitasi, mereka berdua memang rutin berkunjung setiap hari senin dan kamis
"Itu tandanya lo kasian sama mereka Vi " Salsa menyimpulkan
"Ntah yaa, gue ngerasa kalau mereka sama sekali ngga layak dapetin perlakuan kaya gitu, mereka desserve dapet kasih sayang"
"Bahkan yang bikin hati gue sakit ya Vi, terkadang kekerasan itu dateng dari keluarga terdekat mereka. Kaya orang tua yang seharusnya jadi tempat kita berlindung malah bikin kita ngerasain mimpi buruk, dan mereka bener-bener udah kehilangan rumah yang aman" Salsa benar-benar tak habis pikir
"Iya Sal gue cuma berharap semoga korban-korban bisa cepet sembuh dan pulih ya di sini"
"Iya Vi, itu juga harapan gue, saat gue pertama kali buat rumah rehabilitasi ini"
"Surga untukmu sayang" Ucap Via terdengar seperti bualan tetapi juga tulus
"Aamiin, kalau doa baik gue aminin aja hehe"
"Tapi Sal, lo ga ketrigger kan kalau liat orang-orang disini, gue khawatir banget sama kondisi lo" Via memastikan kondisi sahabatnya itu
"Sejauh ini si aman ya, justru gue ngerasa bersyukur saat liat mereka, gue tau luka gue mungkin berat, bahkan gue juga pernah ngerasa ga sanggup bertahan. Tapi waktu disini dan ketemu mereka, gue liat banyak yang masalahnya jauh lebih berat dari yang gue alami"
Via mengangguk tanda mengerti, namun tetap cemas dengan Salsa.
"Its okay, gue bener-bener udah sembuh" Yakin Salsa
"Okeeyyy mari kita sudahi melow-molow nya.. Saatnya bekerja" Via mengeluarkan nada semangatnya, ia tak mau merusak suasana hari ini
Mereka berdua lalu bergegas masuk untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Karena setelah ini Salsa dan Via harus mengunjungi rumah Disabilitas. Salsa memang memegang dua kendali atas yayasan Narendra ini. Kebetulan pekerjaan ini sesuai dengan pasionnya, maka tak sulit bagi Salsa untuk menghandle semuanya.
Setelah memeriksa semua kondisi dan juga memberikan pengarahan bagi para pekerja yang ada di rumah Rehabilitasi, Salsa menyempatkan sebentar untuk menghubungi suami dan anaknya yang sedang dirumah. Kebetulan tadi Bumi pulang cepat, maka Quin memilih untuk tinggal dirumah bersama Baba nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA BUMI (END)
Teen FictionDunia Salsa yang sudah berisik, kian bertambah berisik saat bertemu dengan Lianta Bumi Narendra (Bumi) lelaki dingin dan tak punya hati, tidak seperti namanya Bumi yang harusnya menjadi sumber ketenangan bagi semua orang, namun hadirnya malah membua...
