***
Semester 2 kelas X telah dimulai, kini Rania tidak lagi duduk bersama Zakry. Ia sekarang duduk bersama Aira di barisan paling pojok. Tepat dibelakang Rania dan Aira, ada Aurel dan Luna. Sedangkan Zakry? Ia duduk bersama Zikri, jauh dari barisan Rania duduk bersama temannya.
Murid di kelas X.1 diberi kebebasan memilih teman sebangku pada semester 2. Wali kelas mereka memberi kebebasan ini bertujuan supaya mereka dapat memilih teman yang paling dipercaya, dikarenakan mereka akan memiliki banyak tugas kelompok di Semester 2 ini.
Setelah jam pelajaran kimia habis, Rania membenamkan wajahnya di meja. Aurel dan Luna yang heran melihat itu bertanya pada Aira.
"Rania kenapa Ai?" Tanya Aurel dengan berbisik.
"Kayaknya dia maksain belajar sampai dini hari lagi" Jawab Aira.
Aurel dan Luna menghela napas sambil saling menatap satu sama lain.
"Kita harus ajak Rania jalan-jalan biar ga stress," Luna membuka suara memberi saran.
"Setuju sih gue, liat deh baru beberapa menit dia udah tidur pulas. Rania pasti capek karena maksa diri dia," Aurel setuju dengan saran Luna, sembari menatap punggung Rania dengan prihatin.
Mereka bertiga saling menatap satu sama lain sembari mengangguk pelan.
Sejak kejadian hari itu, Rania menjaga jarak dengan Zakry. Ia membatasi dirinya dan sebisa mungkin menghindar dari Zakry. Tentu saja Zakry menyadari jika gadis itu menghindarinya, tapi ia tidak memikirkan apa alasannya dan mengapa. Zakry bukan cowok yang tidak peka, ia peka tetapi tidak peduli.
"Ngapain juga gue mikirin dia kenapa? Toh, gue juga ga deket sama dia"
Begitu Pikir Zakry.
Rania juga memiliki perubahan sejak kejadian itu, selama ini, ia belajar dengan enjoy dan santai untuk meraih nilai yang memuaskan. Tapi, kini ia belajar dengan memaksa dirinya, setiap kali ia mengingat dan memikirkan Zakry, ia akan belajar terus menerus untuk melupakan semua kenangan-kenangan bersama Zakry yang terus terbesit dipikirannya. Itulah alasan mengapa Rania belajar hingga dini hari.
Rania bangun dari tidurnya, ia memegangi kepalanya. Kepalanya berdenyut.
"Aira," Lirih Rania.
"Lo kenapa Ran? Kok lemes banget"
"...Kepala Aku sakit banget"
"Mau gue ambilin obat di UKS?," Tawar Aira.
"Ngga usah Ai, aku bisa sendiri. Aku ke UKS bentar ya"
"Yaudah, kalo gakuat gausah dipaksa Ran, istirahat aja di UKS"
Rania hanya mengangguk pelan sebagai balasannya. Sembari berjalan ke luar kelas, ia sempat menoleh ke meja Zakry. Meja Zakry yang selalu dikerubungi oleh teman-teman yang lain, wajar saja dia cowok yang populer di SMA Universe.
***
Sambil berjalan dengan tertatih-tatih, Rania menuju UKS yang lokasinya lumayan jauh dari kelasnya. Tanpa Rania sadari, Zakry telah memperhatikan Rania sejak tadi. Zakry kemudian menyusul Rania.
Rania menuruni anak tangga dengan hati-hati dan pelan pelan. Ia tidak ingin jatuh dan cedera karena menuruni tangga, resikonya sangat berat. Ia akhirnya sampai di anak tangga terakhir. Saat ingin melangkah Rania kehilangan keseimbangan, matanya mulai berkunang-kunang, rasanya ia sudah tidak sanggup lagi.
Rania memejamkan matanya. Ia sudah tidak sanggup lagi menjaga keseimbangan tubuhnya.
Tiba-tiba, tubuhnya terjatuh ke depan, namun sebelum ia menyentuh tanah, seorang cowok asing dengan cepat menangkap dan menahan tubuhnya. Rania menyadari bahwa dirinya tidak jatuh, dan membuka matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EX-CRUSH (On Going)
Teen FictionHari pertama masuk SMA, Rania bertemu kembali dengan Zakry Mahendra Aldigre, mantan gebetan yang pernah membuat hatinya berdebar-debar, ia tidak menyangka bahwa pertemuan itu akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu, me...
