Happy Reading !!
💭
💭
💭
💭
***
Pagi itu udara Bandung terasa lebih dingin dari biasanya. Rania baru menyadarinya saat ia keluar dari kamar penginapan. Sejenak untuk menghirup udara segar.
Ia menarik tali jaketnya sedikit, lalu berhenti.
Di seberang halaman penginapan, Zakry berdiri sambil menguap kecil, rambutnya masih sedikit berantakan. Ia sedang berbicara dengan Raffa, tertawa ringan seperti tidak ada apa-apa yang berubah sejak semalam.
Sesaat Zakry mengalihkan pandangannya, dan menyadari keberadaan Rania di seberang.
Dan di situlah masalahnya.
Rania refleks memalingkan wajah. Bersembunyi dibalik tembok.
Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, tapi karena terlalu sadar. Sadar bahwa ia sudah mengatakan semuanya. Sadar bahwa perasaannya kini bukan lagi rahasia. Dan sadar bahwa Zakry tetap Zakry yang sama.
"Kenapa sih aku malah jadi kayak gini...," batinnya lirih.
Setiap kemungkinan yang ia bayangkan semalam-ditolak, dijauhi, dianggap aneh-tidak terjadi. Tapi justru karena itu, Rania merasa lebih gugup dari sebelumnya.
Bukan karena sakit hati.
Tapi karena hatinya belum siap.
"Ran?" Suara Aurel membuyarkan pikiran Rania.
"Ngapain diem disini? Yuk sarapan," Aurel mengajak Rania sembari merangkul pundak sahabatnya itu.
Rania hanya tersenyum kecil, sembari mengikuti langkah Aurel.
***
Rania duduk di bangku panjang bersama Aurel dan Luna, serta Aira menyuap sarapan dengan gerakan kecil dan rapi, seolah sedang berusaha keras untuk terlihat biasa saja. Padahal kepalanya penuh.
Setiap kali ada langkah mendekat, setiap kali terdengar suara cowok tertawa di sekitar mereka, jantungnya refleks berdetak lebih cepat-meski belum tentu itu Zakry.
Dan ketika akhirnya suara itu benar-benar terdengar dekat, Rania pura-pura sibuk menatap piringnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Zakry lewat di belakang mereka. Tidak berhenti. Tidak menyapa. Tidak juga menghindar. Hanya berjalan biasa, seolah malam tadi hanyalah bagian dari hari yang sudah lewat.
Dan entah kenapa, justru itu yang membuat Rania makin canggung. Ia menunduk lebih dalam.
"Ran," bisik Aurel pelan, bahunya menyenggol bahu Rania dengan sengaja.
"Lo kenapa sih dari tadi kayak ga nyaman?"
Rania menggeleng kecil. Bibirnya membentuk senyum tipis yang bahkan ia sendiri tahu palsu.
"Enggak," jawabnya cepat. "Biasa aja."
Luna meliriknya dari samping. Tatapannya tajam, terlalu paham untuk dibohongi. Tapi ia tidak memaksa. Hanya menghela napas pelan.
Beberapa menit kemudian, rombongan mulai bersiap untuk kegiatan hari itu. Tujuan mereka kebun binatang mini di pinggiran kota-tempat yang seharusnya ramai, berisik, dan penuh tawa.
Rania berjalan di barisan tengah. Ia sengaja memilih posisi yang aman-tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang.
Namun rasa aman itu runtuh saat seseorang tiba-tiba berjalan sejajar dengannya. Langkahnya langsung melambat. Ia tahu tanpa harus menoleh.
KAMU SEDANG MEMBACA
EX-CRUSH (On Going)
Fiksi RemajaHari pertama masuk SMA, Rania bertemu kembali dengan Zakry Mahendra Aldigre, mantan gebetan yang pernah membuat hatinya berdebar-debar, ia tidak menyangka bahwa pertemuan itu akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu, me...
