-LANGKAH MUNDUR-

64 6 12
                                        

Happy Reading All💭
-
-
-
-
-

***

"Kayaknya aku mau berhenti aja deh, Ai," ucap Rania pelan, sambil membuka bukunya perlahan.

Suasana masih cukup sepi, hanya ada beberapa siswa yang sudah datang lebih awal.

Aira duduk sambil menyandarkan
dagunya di atas lengan, mengantuk.
Mendengar perkataan Rania, Aira langsung menoleh, kantuknya langsung menguap.

"Hah? Maksud lo apaan? Berhenti apa?"
Aira menatap Rania dengan kening mengerut.

Rania menatap kosong meja. Jarinya menelusuri pola bekas goresan di permukaan meja.
"Suka sama Zakry..."

Aira meperbaiki posisinya menjadi duduk tegak.
"Lo serius?"

Rania mengangguk kecil, meski senyumnya getir. "Aku serius. Makin ke sini, aku makin sadar, dia nggak akan pernah benar-benar ngelihat aku. Dan aku juga... capek. Capek berharap sama sesuatu yang bahkan ga pasti. Belum lagi, banyak rumor yang bilang dia pacaran."

Sunyi sejenak. Suara gaduh anak-anak lain yang baru datang ke kelas jadi latar belakang percakapan mereka.

Aira menghela napas pelan, kemudian menatap sahabatnya itu.
"Gue bukannya ga ngedukung keputusan lo Ran. Tapi lo yakin? Soalnya, kalau lo nggak pernah coba buat deketin dia dan jujur tentang perasaan lo, ya emang nggak bakal ada yang terjadi."

"Iya aku tau," ucap Rania pelan.
"Tapi aku juga tau, ending dari kisah ini."
Rania menunduk, jemarinya saling bertaut di pangkuan.
"Dan aku yakin... mau aku berusaha kayak gimana pun, akhir ceritanya bakal tetap sama."

Aira terdiam sejenak. Ia menatap Rania dengan sorot mata yang melembut, lalu menghela napas pelan.
"Ran, gue paham... lo capek. Capek sama semua hal yang nggak sesuai sama ekspektasi lo. Tapi... yakin mau nyerah gitu aja?"

Ia mencondongkan badan sedikit, menatap Rania lebih dalam.
"Walaupun Zakry udah tau-soal perasaan lo, lo kan belum pernah benar-benar bilang langsung. Belum pernah secara resmi, dari lo sendiri. Jadi lo juga belum tau, gimana sebenernya pandangan dia ke perasaan lo."

Aira mengangkat bahu pelan.
"Dan soal rumor-rumor itu... kita nggak pernah tau kebenarannya, Ran. Lo mau nyerah cuma karena omongan orang-orang?"

Rania terdiam, menatap meja di depannya. Jarinya bermain-main dengan ujung pulpen, seolah sedang mencoba mencari jawaban dari kekacauan di dalam pikirannya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bicara-pelan, hampir seperti bisikan.

Rania tersenyum kecil.
"Aku nggak nyerah... Aku cuma belajar buat berhenti berharap sama orang yang nggak pernah benar-benar ngelihat aku."

Rania menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
"Aku masih bisa ngelihat dia dari jauh. Tapi kali ini, tanpa beban, tanpa harapan. Aku cuma berusaha untuk berhenti, supaya perasaan itu gak semakin dalam."

***

Bel istirahat pun berbunyi. Kelas XI.3 mulai riuh, para siswa bergegas keluar kelas dengan semangat masing-masing. Rania berdiri dari kursinya, merapikan buku yang masih terbuka, lalu menoleh ke Aira yang masih sibuk menyelesaikan tugas.

"Yuk, makan," ucap Rania dengan senyum tipis.

Aira menoleh, kemudian mengangguk sambil tersenyum tipis. Kemudian ia berdiri dari kursinya.

Aira dan Rania berjalan gontai keluar kelas menuju kantin.

Dari kejauhan, Aurel sudah lebih dulu duduk di meja sudut pojok kantin-meja favorit mereka. Ia menoleh ke arah pintu masuk kantin dan matanya langsung menangkap dua sosok familiar.

EX-CRUSH (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang