Hari pertama masuk SMA, Rania bertemu kembali dengan Zakry Mahendra Aldigre, mantan gebetan yang pernah membuat hatinya berdebar-debar, ia tidak menyangka bahwa pertemuan itu akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu, me...
Beberapa hari berlalu. Namun, entah mengapa gosip itu tidak kunjung reda. Nama Zakry terus disebut, semakin sering, semakin jelas. Ada yang bilang melihat mereka jalan berdampingan. Ada yang bilang Zakry terlihat menggenggam pergelangan tangan cewek itu. Ada yang bersumpah melihat mereka tertawa terlalu dekat untuk sekadar teman.
Malah semakin banyak saksi mata yang menyaksikan bagaimana Zakry dengan cewek yang masih tidak pasti diketahui siapa.
Rania tetap datang ke sekolah seperti biasa. Tetap tertawa di waktu yang tepat. Tetap makan siang bersama dengan geng makan siang. Walaupun banyak sekali yang penasaran dan bertanya kepada mereka tentang Zakry.
Namun, mereka tidak bisa menjawab apa-apa. Orang yang bersangkutan sudah jarang bersama mereka.
"Ah, gosip doang kali," begitulah jawaban geng makan siang tiap kali ditanya akan hal itu. Walaupun mereka tidak tau pasti akan hal tersebut.
Begitu juga dengan Rania terlihat santai. Padahal, setiap kali nama Zakry disebut, ada sesuatu di dadanya yang menegang sebentar. Hanya sebentar. Lalu ia tarik napas, membiarkannya reda sendiri.
Selama aku belum liat... berarti belum tentu.
Itu yang terus ia ulangi di kepalanya.
Sampai pada malam itu.
Malam yang tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya. Lampu kamar menyala redup. Rania sudah berganti baju, duduk bersandar di kepala ranjang berencana untuk menonton video singkat di media sosial.
Lalu, notifikasi beruntun itu masuk. Berisik. Tidak seperti biasanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Notifikasi itu berasal dari grup chat Rania dan teman-temannya.
Rania mengernyit kecil, tapi tetap membuka pesan itu dengan santai.
Aurel: Ran, did u know bout this?
Luna: Ran, are u okay?
Aira: Ran sabar ya...
Rania sempat tersenyum kecil, bingung.
Kenapa sih pada dramatis?
Lalu sebuah gambar muncul.
Satu screenshot.
Rania tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap layar ponselnya, membaca ulang apa yang ia lihat, memastikan matanya tidak salah.