-SEPARATE-

70 8 5
                                        

HOLA UPDATE LAGI NIH💤💤💤




***

Waktu berlalu, hari demi hari berganti.
Kini Rania duduk di bangku kelas 11, namun segalanya tak lagi seperti dulu.
Sekolah merasa, sistem kelas unggulan hanya akan menyebabkan diskriminasi pada kelas lain. Akhirnya sekolah merombak sistem, menghapus kelas unggulan yang dulu dikenal dengan kelas X.1, dan menggantinya dengan pembagian kelas yang diacak.

Pagi itu, lorong sekolah dipenuhi siswa yang berkerumun di depan papan pengumuman. Suara-suara riuh menyelimuti udara, penuh antusiasme dan kecemasan. Di antara kerumunan itu, berdiri empat gadis yang dulunya selalu duduk bersebelahan di kelas X.1.

Rania, Aurel, Aira, dan Luna.
Mereka saling menatap papan pengumuman, mencari nama masing-masing.

"Rania... XI.3," gumam Aira.
"Ada nama gue juga, kita satu kelas!" seru Aira lebih ceria.

Rania tersenyum kecil, meski matanya tetap mencari dua nama lainnya.
"Aurel... XI.5. Luna juga di kelas yang sama," katanya pelan.

Keheningan kecil menyusup di antara mereka.

"Berarti... kita kepisah ya," ucap Luna sambil menggigit bibir bawahnya.

"Padahal gue kira kita bakal bareng terus," tambah Aira, menunduk.
Mereka saling tatap-masih berdiri di depan papan itu, seakan enggan melangkah.

Rania menarik napas pelan. "Kita harus adaptasi lagi ya? Tapi aku berharap kita tetep temenan deket."

Aurel mengangguk mantap. "Harus dong! Istirahat sama Pulang sekolah kita masih bisa bareng, kan?"

Rania dan Aira tersenyum, meski samar.

Satu per satu mereka berpelukan. Tak banyak kata, tapi cukup untuk menyimpan hangat di dada.

Sebelum mereka berpisah untuk berjalan ke kelas masing-masing, Aurel bercanda, "Eh, siapa tahu ini semua skenario Tuhan buat bikin kita semua jadi pentolan di kelas masing-masing!"

Mereka tertawa kecil. Dan langkah kaki pun mulai berbelok ke arah yang berbeda.

Jujur, hati Rania terasa berat.
Ruang kelas X.1 itu bukan hanya sekadar ruang belajar baginya, tapi rumah kecil di mana ia merasa nyaman, di mana tawa dan dukungan teman-teman mengisi hari-harinya.
Ruangan itu tidak hilang, ruangan itu hanya diisi dengan orang-orang baru.

***

Langkah kaki Rania dan Aira perlahan memasuki ruang kelas XI.3.
Suasana masih sedikit canggung. Beberapa wajah terlihat asing. Ada yang sudah saling kenal, ada juga yang masih berdiri kikuk di dekat pintu. Rania menelusuri barisan bangku yang belum dipilih.

"Ran, itu kosong tuh, deket jendela!" bisik Aira sambil menunjuk ke deretan bangku paling kanan.

Mereka berdua melangkah, menaruh tas, dan duduk bersebelahan. Rania menatap keluar jendela, mencoba meredakan degup jantungnya yang belum tenang sepenuhnya. Entah kenapa, perasaan aneh menyusup campuran gugup.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. Rania menoleh cepat saat mendengar suara bangku di belakangnya ditarik. Seseorang dibelakangnya berdehem pelan, cukup untuk membuat Rania menoleh.

Rania menoleh. Matanya sedikit membelalak.

Itu Anza.

Dengan kacamata yang berbeda dari sebelumnya, ekspresinya masih santai seperti biasa, tapi kali ini ia tersenyum hangat ketika melihat Rania.

Rania terkekeh pelan, antara terkejut dan lega. "Loh, kamu di XI.3 juga?"

Anza menjatuhkan tasnya ke lantai dan duduk di bangku belakang Rania.
"Ya seperti yang bisa lo liat," Ucapnya sambil mengangkat bahunya sedikit.

EX-CRUSH (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang