HAPPY READING
Jungkook benar-benar tidak tahan lagi.
V semakin aneh. Kalau sebelumnya dia hanya menjaga jarak, sekarang dia benar-benar menghindar. Setiap kali Jungkook mendekat, V akan langsung pergi. Setiap Jungkook mencoba berbicara, V akan menjawab dengan singkat atau pura-pura tidak mendengar.
Awalnya Jungkook pikir V hanya sibuk atau sedang dalam suasana hati yang buruk. Tapi ini sudah berlangsung lebih dari seminggu.
Sikap itu awalnya Jungkook biarkan, tapi semakin lama semakin menyebalkan. Dan hari ini, kesabarannya benar-benar habis.
Saat melihat V di pantry sendirian, Jungkook langsung menghampirinya tanpa berpikir panjang.
"V."
V melirik sekilas, lalu kembali fokus pada kopinya. "Apa?"
"Kita harus bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," sahut V datar.
"Ada," tegas Jungkook, nada suaranya mulai naik.
V mendesah pelan, lalu menatapnya dengan ekspresi malas. "Jungkook, aku sedang tidak ingin berdebat."
"Aku juga tidak mau berdebat," Jungkook bersedekap. "Aku hanya ingin tahu kenapa kau menghindariku seperti ini."
V tertawa kecil, tapi tidak ada tawa dalam matanya. "Menghindari? Aku hanya sibuk."
"Bohong," Jungkook menatapnya tajam. "Kau jelas-jelas tidak sibuk."
V meletakkan cangkirnya di meja dengan sedikit kasar. "Jungkook, apa kau tidak sadar betapa menjengkelkannya kau?"
Jungkook tertegun.
"Apa maksudmu?"
V mendekat, suaranya merendah tapi penuh ketegangan.
"Kau punya pacar," katanya dingin. "Tapi kau masih bersikap seolah-olah kau bisa mendekati pria lain seenaknya."
Jungkook mengernyit. "Aku tidak pernah mendekatimu dengan cara seperti itu."
"Benarkah?" V menyeringai sinis. "Lalu apa yang kau lakukan selama ini? Berusaha baik padaku? Bersikap ramah? Memberi perhatian kecil yang kau pikir tidak akan berdampak apa-apa?"
Jungkook mengepalkan tangan, mulai frustrasi. "Aku hanya ingin berteman denganmu."
"Omong kosong," potong V tajam.
Jungkook menghela napas panjang, berusaha menahan emosinya. "Kenapa kau jadi begini?"
"Kenapa?" V tertawa kecil. "Karena aku muak, Jungkook. Aku muak melihatmu bersikap seolah-olah kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Kau punya kekasih, tapi kau tetap bermain-main. Kau membiarkan orang lain berharap—"
"Aku tidak pernah memberimu harapan!" suara Jungkook meninggi, matanya merah karena marah dan kesal.
V menyipitkan mata. "Lalu apa? Kau hanya menikmati perhatianku? Kau menikmati kenyataan bahwa ada orang lain yang juga menyukaimu selain kekasihmu ?"
Jungkook terdiam.
Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia bisa mendengarnya sendiri.
"Apa yang kau katakan?" suaranya lebih pelan kali ini.
V menghela napas panjang, menatap Jungkook dengan ekspresi campur aduk. "Aku lelah, Jungkook. Aku tidak suka menjadi pilihan kedua. Aku tidak suka merasa seperti orang bodoh yang terus berharap—"
"Berharap apa?" potong Jungkook cepat.
V menatapnya tajam.
"Berharap kau akan meninggalkan kekasih mu untukku?" lanjutnya sinis. "Tentu saja aku tidak sebodoh itu."
Jungkook menggigit bibirnya, kepalanya terasa penuh dengan berbagai macam emosi.
"Kau pikir aku tidak tahu perasaanku?" katanya pelan, tapi setiap kata terdengar jelas. "Aku tahu aku menyukaimu, V. Dan aku tahu ini salah."
Suasana seketika berubah hening.
V menatap Jungkook, matanya melebar.
"Kau tidak perlu mengatakannya," gumamnya, suaranya bergetar.
Jungkook tertawa pahit. "Kau terus bertingkah seolah-olah aku ini orang brengsek, jadi kenapa aku tidak boleh mengatakannya?"
V tidak menjawab.
Jungkook menarik napas dalam. "Aku tidak akan mengganggumu lagi," katanya, berbalik hendak pergi.
Namun, belum sempat ia melangkah, V tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
Jungkook terkejut, tapi sebelum ia bisa protes, bibir V sudah menempel di bibirnya.
Jungkook refleks mendorong dada V, tapi pria itu sama sekali tidak mau mundur. Tangan V mencengkeram tengkuknya, menariknya semakin dekat, semakin menyesap bibirnya dengan penuh emosi yang tidak bisa Jungkook pahami.
Jungkook ingin menolak. Ia ingin menghentikan ini.
Tapi semakin lama V menciumnya, semakin tubuhnya melemas.
Sial.
Jungkook membalas ciuman itu.
Tangannya mencengkeram kerah kemeja V, menariknya lebih dekat. Ciuman mereka semakin dalam, semakin penuh emosi yang meledak-ledak.
V menggigit bibir bawah Jungkook, membuat pria itu mengerang pelan.
Namun, kesadaran Jungkook kembali dengan cepat.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong V dengan kasar, napasnya memburu.
V terhuyung mundur, matanya masih penuh gairah.
Jungkook menatapnya, marah, bingung, dan kecewa sekaligus.
Tanpa mengatakan apa-apa, ia berbalik dan keluar dari pantry, meninggalkan V yang masih berdiri di tempatnya.
Sejak hari itu, segalanya berubah.
Mereka menjadi asing.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
240 DAYS - Taekook [BxB]
Fanfiction[END] Jeon Jungkook tidak percaya bahwa Tuhan maha membolak balikan hati manusia karna dia merasa rasa cinta nya untuk kekasihnya sudah sangat besar, namun apa di kata jika dia malah jatuh cinta pada atasan nya di kantor yang hanya bekerja selama 24...
![240 DAYS - Taekook [BxB]](https://img.wattpad.com/cover/379157855-64-k4244.jpg)