HAPPY READING
10 Tahun Kemudian
Langit Zurich sore itu mendung, hujan tipis turun membasahi jalanan berbatu khas kota tua. Jungkook berjalan santai, menikmati dinginnya udara musim gugur yang menyapu wajahnya. Sudah sepuluh tahun sejak ia meninggalkan semua yang ada di Korea—keluarga, teman-teman, juga seseorang yang dulu begitu ia cintai.
Hidupnya berjalan baik. Ia sukses dengan pekerjaannya, punya kehidupan yang stabil di Swiss, dan yang terpenting, ia merasa damai. Tapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya... seseorang dari masa lalunya.
V.
Saat Jungkook memasuki sebuah kafe kecil tempat favoritnya, matanya langsung menangkap sosok yang duduk di pojok ruangan. Dengan setelan hitam rapi, rambut sedikit berantakan, dan tatapan yang masih sama—hangat, tajam, dan penuh teka-teki.
V menyadari kehadiran Jungkook, lalu menyeringai santai. "Kau lama sekali."
Jungkook mengerjapkan mata, mendekat tanpa sadar. "Apa yang kau lakukan di sini?"
V mengangkat bahu. "Perjalanan bisnis. Tapi aku selalu penasaran seperti apa hidupmu setelah hari ke-240 itu."
Jungkook tersenyum kecil, duduk di hadapan V. "Aku baik-baik saja. Kau?"
V menatapnya lama sebelum terkekeh. "Aku juga baik... tapi sepertinya aku akan lebih baik kalau kau tidak menghindar dariku seperti tadi."
Jungkook pura-pura sibuk dengan kopinya. Tapi V malah menyandarkan dagu di tangannya, menatapnya tanpa berkedip.
"Kau masih menghindari perasaanmu?" tanya V tiba-tiba.
Jungkook meneguk kopinya perlahan. "Aku tidak tahu apa maksudmu."
V tertawa kecil. "Jungkook... sudah sepuluh tahun."
Jungkook menggigit bibirnya. Ia ingin menyangkal, tapi bagaimana bisa? Kenyataan bahwa V masih bisa mengacaukan hatinya dengan mudah sudah lebih dari cukup sebagai jawaban.
V tersenyum, lalu sebelum Jungkook bisa bereaksi, pria itu berdiri, berjalan mendekat, dan tanpa aba-aba menarik Jungkook ke dalam pelukan erat.
Jungkook membeku. Dada V terasa hangat, familiar, dan—sial—terlalu nyaman.
"Jangan pergi lagi," gumam V di telinganya.
Jungkook menutup mata, meresapi detik-detik di mana dunianya terasa utuh kembali. Ia menghela napas, lalu dengan suara yang nyaris bergetar, ia berbisik,
"Aku tidak akan pergi."
V tersenyum di bahunya. "Bagus."
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Jungkook merasa... ia akhirnya pulang.
Beberapa bulan kemudian...
Jungkook tengah sibuk di dapur apartemennya ketika V tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan?" Jungkook terkikik ketika V menyandarkan dagunya di pundaknya.
"Aku bosan," rengek V, mengeratkan pelukannya. "Dan kau lebih menarik daripada pekerjaan yang menumpuk di mejaku."
Jungkook tertawa, memutar tubuhnya hingga ia bisa melihat wajah V dengan jelas. "Jadi, kau meninggalkan pekerjaan hanya untuk menggangguku?"
V mengangguk santai. "Tentu saja. Kau lebih penting."
Jungkook mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat. "Kau selalu seperti ini."
"Dan kau tetap mencintaiku, kan?" V memiringkan kepala, menatap Jungkook dengan tatapan menggoda.
Jungkook diam sebentar sebelum akhirnya menghela napas. "Iya, aku mencintaimu."
V tertawa senang sebelum langsung menarik Jungkook ke dalam ciuman hangat. Jungkook tidak melawan—ia membalas, membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan yang akhirnya bisa ia akui dengan penuh ketulusan.
Mereka akhirnya benar-benar bersama, tanpa bayang-bayang siapa pun.
Di sisi lain dunia, di Paris...
Kim Taehyung duduk di balkon rumahnya, menyesap secangkir teh hangat sembari memperhatikan suaminya yang tengah bercanda dengan anak mereka di taman belakang.
" Nak, jangan lari terlalu jauh," panggilnya lembut.
Anak kecil berusia lima tahun itu mengangguk patuh. "Baik, Appa!"
Taehyung tersenyum, lalu tatapannya beralih pada pria yang kini duduk di sampingnya.
"Kau terlihat tenang," ujar Ggukie sambil menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung.
"Aku memang tenang," jawab Taehyung, jemarinya mengelus pelan rambut suaminya itu.
Ggukie tersenyum. "Aku senang melihatmu seperti ini."
Taehyung mengangguk pelan. "Aku juga. istriku, Kim Ggukie. "
Ia menatap langit senja, mengingat seseorang dari masa lalunya. Tidak ada lagi perasaan sakit atau sesal—hanya kenangan manis yang sesekali muncul.
Ia mengeluarkan ponselnya, membaca ulang pesan terakhir yang ia terima dari Jungkook bertahun-tahun lalu.
"Aku harap kau menemukan kebahagiaan yang pantas kau dapatkan, Taehyung. Aku selalu mendoakanmu."
Taehyung tersenyum kecil, sebelum akhirnya menatap keluarganya dengan perasaan yang hangat.
"Terima kasih, Jungkook," gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merelakan segalanya.
END
KAMU SEDANG MEMBACA
240 DAYS - Taekook [BxB]
Fanfiction[END] Jeon Jungkook tidak percaya bahwa Tuhan maha membolak balikan hati manusia karna dia merasa rasa cinta nya untuk kekasihnya sudah sangat besar, namun apa di kata jika dia malah jatuh cinta pada atasan nya di kantor yang hanya bekerja selama 24...
![240 DAYS - Taekook [BxB]](https://img.wattpad.com/cover/379157855-64-k4244.jpg)