HAPPY READING
Sudah beberapa minggu sejak Jungkook kembali ke Korea, tetapi kehidupannya terasa jauh lebih melelahkan dibanding sebelumnya. Pekerjaan semakin menumpuk, bukan hanya karena ritme kerja yang padat, tetapi juga karena V yang tampaknya kembali menjadi atasan yang paling tidak masuk akal di kantor.
Jungkook sudah tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Setiap hari, dia hanya fokus menyelesaikan tugas yang terus berdatangan, seakan V sengaja membebankan semuanya padanya.
Lembur hampir setiap malam.
Revisi yang terasa tidak ada habisnya.
Tugas-tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh tim lain, tetapi entah kenapa selalu jatuh ke tangannya.
Tapi Jungkook tetap melakukannya.
Tanpa keluhan. Tanpa protes. Tanpa ekspresi.
Bahkan ketika rekan kerja lain mulai kasihan melihatnya pulang paling akhir, dia hanya tersenyum tipis dan berkata, "Aku baik-baik saja."
Padahal kenyataannya tidak.
Kepalanya penuh. Lelah, tapi tidak bisa istirahat. Ingin mengalihkan pikiran, tapi tidak bisa. Bahkan saat memejamkan mata, bayangan seseorang masih berputar di pikirannya.
V.
Jungkook tidak tahu kenapa.
Harusnya setelah semua yang terjadi, dia bisa membenci pria itu. Setelah bertengkar, setelah mendengar kata-kata menyakitkan, setelah ciuman yang tidak seharusnya terjadi di antara mereka.
Tapi tetap saja, setiap malam, saat ruangan kantor mulai sepi dan hanya ada suara keyboard yang ditekan dengan monoton, pikirannya kembali ke satu orang itu.
Jungkook mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menutup laptopnya dan meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah berjam-jam duduk. Saat ia berdiri dan hendak merapikan mejanya, suara pintu kantor terbuka.
V.
Jungkook menunduk, pura-pura sibuk dengan dokumen di tangannya. Ia tidak ingin ada interaksi lagi. Sudah cukup semua kekacauan di antara mereka.
V berjalan masuk, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Tapi ada sesuatu di sorot matanya yang berbeda saat melihat Jungkook yang masih di kantor.
"Kau masih lembur?" tanyanya.
Jungkook hanya mengangguk. "Tugas yang kau berikan masih banyak."
V menyandarkan diri ke meja seberang, menyilangkan tangan di dada. "Kau tidak mengeluh?"
Jungkook akhirnya menatapnya. "Untuk apa?"
V memperhatikan Jungkook dengan seksama, seperti sedang mencari sesuatu. Biasanya, Jungkook akan membalas dengan nada kesal atau sarkastik. Tapi kali ini, ekspresinya benar-benar datar.
Seakan dia sudah menyerah untuk merespons sikap V.
Itu membuat V merasa... aneh.
"Kau mau pulang?" tanya V akhirnya.
Jungkook meraih tasnya. "Kalau tidak ada yang penting, aku pergi dulu."
Saat ia hendak melangkah pergi, V tanpa sadar mengepalkan tangannya. Ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu apa.
Jungkook sudah berada di pintu saat V akhirnya membuka mulutnya.
"Tetap bertahan di sini, huh?" suara V terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. "Kau benar-benar keras kepala."
Jungkook berhenti sejenak, tapi tidak menoleh.
"Bukan keras kepala," katanya pelan. "Aku hanya tahu apa yang aku inginkan."
Dan dengan itu, Jungkook pergi, meninggalkan V yang masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
240 DAYS - Taekook [BxB]
Fanfiction[END] Jeon Jungkook tidak percaya bahwa Tuhan maha membolak balikan hati manusia karna dia merasa rasa cinta nya untuk kekasihnya sudah sangat besar, namun apa di kata jika dia malah jatuh cinta pada atasan nya di kantor yang hanya bekerja selama 24...
![240 DAYS - Taekook [BxB]](https://img.wattpad.com/cover/379157855-64-k4244.jpg)