Chapter 13

265 40 0
                                        

HAPPY READING




Taehyung memijat pelipisnya yang berdenyut keras.

Sejak kepulangan Jungkook ke Korea, rumah ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Bukan karena cuaca Paris yang memasuki musim dingin, tetapi karena hubungan yang memburuk di antara dirinya dan ibunya.

Dan sekarang, duduk di ruang makan bersama ibunya yang berwajah muram, Taehyung tahu bahwa percakapan ini tidak akan berjalan dengan baik.

"Aku tidak percaya dia pergi tanpa pamit," kata ibunya, suaranya penuh kekecewaan. "Betapa tidak sopannya dia. Itu sudah cukup menunjukkan bahwa dia bukan orang yang pantas untukmu."

Taehyung menghela napas panjang, menahan diri untuk tidak meledak. "Ibu, Jungkook pergi karena dia sudah tidak tahan lagi."

Ibu Taehyung menegakkan punggungnya. "Tidak tahan? Apa maksudmu?"

Taehyung menatap ibunya dengan tatapan penuh tekanan. "Ibu memperlakukannya seperti seorang pembantu. Ibu tidak pernah menganggapnya sebagai tamu, apalagi calon pasangan hidupku."

"Jadi kau menyalahkanku?" Ibu Taehyung menatapnya tajam. "Aku hanya ingin memastikan dia cukup baik untukmu."

"Dengan cara membuatnya mencuci piring dan menyapu halaman setiap hari?" suara Taehyung sedikit bergetar karena menahan amarah.

Ibunya tidak menjawab, hanya menyeruput tehnya dengan gerakan anggun.

Taehyung mengepalkan tangannya di bawah meja. "Ibu... aku mencintainya."

"Dan aku mencintaimu." Ibunya menatapnya penuh perasaan. "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Taehyung."

Taehyung menarik napas panjang. "Kalau begitu, kenapa ibu tidak bisa menerima Jungkook?"

"Ia bukan dari dunia kita," jawab ibunya tegas. "Aku sudah memberitahumu sejak awal bahwa aku ingin kau menikah dengan seseorang dari Paris. Seseorang yang memahami budaya kita, status kita—"

"Status?" Taehyung tertawa sinis. "Ibu tahu itu bukan alasan. Ini bukan soal status, ini soal ibu yang tidak ingin aku bersama seseorang dari Korea."

Ibunya mendelik. "Kau menuduh ibumu sendiri rasis?"

Taehyung memejamkan matanya sejenak. "Aku tidak ingin bertengkar, Bu."

Ibunya menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Taehyung seolah sedang menilai sesuatu. "Kau berubah."

"Apa?"

"Kau berubah," ulang ibunya. "Sejak bersama dia. Kau mulai menentangku, mulai berbicara dengan nada seperti ini. Itu karena dia, bukan?"

Taehyung terdiam.

Ibunya menghela napas, meletakkan cangkir tehnya ke meja dengan pelan. "Kau tahu betapa aku menyayangimu, Taehyung. Aku hanya ingin kau bersama seseorang yang bisa menaikkan derajat keluarga kita, bukan seseorang yang malah menurunkannya."

Kemarahan Taehyung hampir memuncak.

"Ibu," katanya dengan suara dalam. "Jungkook tidak menurunkan derajatku. Justru dia yang membuatku merasa lebih hidup. Aku tidak peduli dengan status sosial atau dari mana dia berasal. Aku hanya ingin bersamanya."

"Tapi dia sudah pergi."

Taehyung menegang.

"Dia meninggalkanmu begitu saja," lanjut ibunya. "Tanpa pamit, tanpa usaha untuk mencoba lebih lama. Apa kau pikir orang seperti itu pantas menjadi pasangan hidupmu?"

Taehyung ingin menjawab, ingin membela Jungkook, tetapi ada bagian dari dirinya yang tahu bahwa ada kebenaran dalam kata-kata ibunya.

Jungkook memang sudah pergi.

Tanpa pamit.

Dan itu menyakitinya lebih dari yang ingin dia akui.

Ibunya bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dan menyentuh bahu Taehyung dengan lembut. "Anakku," bisiknya. "Kau tahu bahwa aku hanya ingin kau bahagia."

Taehyung menatap ibunya. Ada cinta di sana, tapi juga luka.

Ia ingin membantah, ingin melawan, tetapi...

Apakah Jungkook masih memperjuangkan hubungan ini?

Ataukah dia benar-benar sudah menyerah?




TBC

240 DAYS - Taekook [BxB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang