HAPPY READING
Langit di Seoul mendung saat Jungkook memasukkan koper terakhirnya ke dalam bagasi taksi. Angin musim gugur yang mulai menusuk membuatnya menarik jaket lebih rapat. Perjalanan 240 hari ini terasa seperti mimpi panjang yang baru saja berakhir, tapi juga meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya.
Ia memandang gedung kantor dari kejauhan, gedung tempat ia menghabiskan ratusan hari bersama orang-orang yang kini menjadi bagian dari kenangan hidupnya. Taehyung, V, semua orang yang pernah menyentuh hatinya. Ia tahu, saat ini bukan saatnya untuk berpikir terlalu banyak. Ia harus pergi.
Namun, sebelum taksi melaju, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari V.
"Di mana kau? Aku ingin bertemu."
Jungkook menatap layar itu lama, sebelum akhirnya mengetik balasan singkat.
"Aku di bandara."
Tak ada tambahan kata lain. Jika V mengerti, ia akan datang. Jika tidak, itu berarti memang seharusnya seperti ini.
—
Sementara itu, di Paris, Taehyung masih terjebak dalam pertempuran batinnya sendiri. Sejak Jungkook pergi meninggalkannya di hadapan keluarganya, ia merasa dunianya runtuh. Hari-hari berlalu dengan kosong. Ia nyaris tidak berbicara dengan siapa pun kecuali dengan psikiater yang dikirimkan oleh ayahnya.
Dr. Moreau, seorang pria berusia lima puluhan dengan tatapan tajam namun penuh kebijaksanaan, selalu mendengarkan dengan sabar setiap cerita Taehyung.
"Kau merasa hancur karena kehilangannya?"
Taehyung mengangguk.
"Tapi, apakah kau menyadari bahwa ini adalah konsekuensi dari pilihanmu sendiri?"
Taehyung terdiam. Kata-kata itu menyakitkan, tapi benar. Ia terlalu lama hidup dalam dunia yang dikendalikan oleh orang lain—oleh keluarganya, oleh keadaan—hingga akhirnya ia kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Di luar jendela, hujan turun perlahan. Seperti hatinya yang perlahan mulai menerima kenyataan bahwa Jungkook tidak akan kembali.
—
Di Seoul, V berlari melalui bandara dengan napas tersengal. Ia sudah terlambat, pesawat Jungkook akan berangkat dalam 30 menit. Tapi ia tidak peduli.
Saat akhirnya ia melihat sosok itu di dekat gate keberangkatan, V merasa dadanya sesak.
"Jungkook!"
Jungkook menoleh, sedikit terkejut. Ia tidak menyangka V benar-benar akan datang.
"Jangan pergi."
Jungkook tersenyum kecil. "Aku harus pergi, V."
"Tapi aku bisa menunggumu!"
Jungkook menatap mata V dalam-dalam. Ada banyak emosi di sana—rasa takut kehilangan, rasa sesal, dan yang paling jelas, rasa sayang yang tidak bisa ia ungkapkan sebelumnya.
"Aku tidak ingin kau menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu apakah ia akan kembali atau tidak."
V menggigit bibirnya, berusaha menahan gejolak di dadanya.
"Setidaknya... berikan aku alasan untuk percaya bahwa kau akan kembali."
Jungkook menghela napas, lalu tanpa berpikir panjang, ia menarik V ke dalam pelukan. Bukan pelukan yang putus asa, bukan pelukan perpisahan yang penuh tangisan. Tapi pelukan yang hangat, yang seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku tidak tahu kapan, tapi jika aku kembali... aku ingin kita bertemu lagi, bukan sebagai seseorang yang masih terikat pada masa lalu, tapi sebagai seseorang yang sudah menemukan dirinya sendiri."
V mengangguk pelan. Ia ingin meminta lebih, tapi ia tahu Jungkook sudah mengambil keputusan.
Beberapa menit kemudian, suara panggilan terakhir untuk penerbangan Jungkook terdengar. Jungkook melangkah mundur, menatap V sekali lagi, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju pesawat.
V tetap berdiri di tempatnya, memandangi punggung Jungkook yang semakin menjauh.
Ia tersenyum kecil.
"Kembalilah, Jungkook."
Dan hari itu, perjalanan 240 hari mereka berakhir. Tapi bukan berarti ini adalah akhir dari segalanya.
END
KAMU SEDANG MEMBACA
240 DAYS - Taekook [BxB]
Fanfiction[END] Jeon Jungkook tidak percaya bahwa Tuhan maha membolak balikan hati manusia karna dia merasa rasa cinta nya untuk kekasihnya sudah sangat besar, namun apa di kata jika dia malah jatuh cinta pada atasan nya di kantor yang hanya bekerja selama 24...
![240 DAYS - Taekook [BxB]](https://img.wattpad.com/cover/379157855-64-k4244.jpg)