Chapter 20

301 37 0
                                        

HAPPY READING



Paris, musim dingin.

Salju turun perlahan, menutupi jalanan kota dengan lapisan putih yang dingin dan sunyi. Namun, keheningan di luar tidak sebanding dengan keheningan di dalam kamar Taehyung.

Ia duduk di lantai, bersandar pada tempat tidurnya yang berantakan. Tirai jendelanya tertutup rapat, menyisakan ruangan dalam kegelapan. Sudah berhari-hari ia mengurung diri. Ia tidak makan dengan benar, tidak berbicara dengan siapa pun, bahkan tidak mencoba keluar dari kamar ini.

Jungkook pergi. Dan bersamanya, Taehyung kehilangan semua alasan untuk tetap berdiri tegak.

Kim Jisoo melihat keadaan putranya memburuk setiap hari. Ia tahu Taehyung adalah pria yang kuat, tapi kali ini berbeda. Tatapan kosong, tubuh yang makin kurus, dan cara Taehyung menatap ke luar jendela seolah tidak melihat apa pun—semua itu menandakan satu hal: anaknya jatuh terlalu dalam.

Maka, tanpa pikir panjang, ia menghubungi seorang psikiater ternama di Paris.

Hari itu, Dr. Antoine Moreau datang ke kediaman keluarga Kim. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tipis dan sikap tenang yang menenangkan. Ia memasuki kamar Taehyung dengan langkah pelan, menutup pintu di belakangnya tanpa suara.

Taehyung, yang duduk di lantai, tidak bereaksi.

"Hari yang dingin, bukan?" kata Dr. Moreau, membuka percakapan dengan nada santai.

Taehyung tidak menjawab.

Dokter itu menarik kursi dan duduk menghadapnya. "Kau tahu, Taehyung, biasanya pasienku akan mencoba mengusirku di lima menit pertama."

Masih tidak ada respons.

Dr. Moreau tersenyum kecil. "Tapi melihatmu di sini, aku bisa menebak... kau bahkan tidak peduli siapa yang ada di depanmu sekarang."

Taehyung akhirnya mengangkat pandangannya. Sepasang mata yang dulu penuh dengan cahaya kini tampak redup, kosong.

Dr. Moreau tidak menunjukkan belas kasihan berlebihan. Ia hanya menghela napas. "Kehilangan seseorang yang kau cintai adalah salah satu pukulan terberat dalam hidup. Apalagi jika kau merasa itu salahmu."

Taehyung mengepalkan tangannya.

"Bukan hanya kehilangan, Dok," suaranya serak karena terlalu lama diam. "Aku menghancurkannya. Aku menyakitinya."

Dr. Moreau mengangguk pelan. "Dan sekarang, kau menyakiti dirimu sendiri sebagai hukuman."

Taehyung menunduk. Itu benar. Ia tidak ingin makan, tidak ingin bicara, tidak ingin bergerak. Seakan-akan jika ia cukup menderita, rasa sakit Jungkook akan sedikit berkurang.

"Tapi apa itu membantu?" tanya Dr. Moreau.

Taehyung tertawa kecil, getir. "Tidak."

Dr. Moreau bersandar di kursinya. "Kau tahu, dalam psikologi, ada istilah yang disebut self-sabotage. Ketika seseorang merasa bersalah atau tidak pantas bahagia, mereka cenderung menghancurkan diri sendiri tanpa sadar. Entah dengan mengisolasi diri, menolak bantuan, atau... ya, seperti yang kau lakukan sekarang."

Taehyung menutup matanya.

"Kau ingin bertemu dengannya?" tanya Dr. Moreau tiba-tiba.

Taehyung menoleh cepat. "Apa?"

"Jungkook," Dr. Moreau mengangkat bahu. "Jika aku bilang ada cara untuk bertemu dengannya dan meminta maaf, apakah kau akan mengambilnya?"

Taehyung terdiam lama sebelum akhirnya berkata, "Aku ingin. Tapi aku tidak yakin apakah aku pantas."

"Lalu kenapa kau masih mencintainya?"

Taehyung mengerutkan kening. "Apa maksud Anda?"

Dr. Moreau menatapnya dengan penuh makna. "Jika kau merasa tidak pantas untuk meminta maaf, lalu kenapa kau masih mencintainya? Kenapa kau masih berharap?"

Taehyung tidak tahu jawabannya.

Dr. Moreau berdiri, menepuk bahunya dengan lembut. "Aku akan kembali lagi besok. Sementara itu, pikirkanlah. Jika kau benar-benar ingin berubah, kau harus mulai dengan memaafkan dirimu sendiri."

Saat dokter itu pergi, Taehyung tetap diam. Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia merasa ada sesuatu yang bergerak dalam dirinya.

Sementara itu, di luar kamar, Amélie berdiri di koridor, mendengar semua percakapan itu.



TBC

240 DAYS - Taekook [BxB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang