Chapter 12

271 43 0
                                        

HAPPY READING



Jungkook pikir, perjalanan ini akan menjadi momen terbaik dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Taehyung mengajaknya ke Paris, memperkenalkannya ke orang tua, dan bahkan menyebut kata 'menikah'.

Namun, kenyataan selalu punya cara kejam untuk membuyarkan harapan seseorang.

Dari awal kedatangannya di rumah keluarga Taehyung, Jungkook sudah bisa merasakan sesuatu yang ganjil.

Ibu Taehyung tersenyum ramah saat menyambut mereka, tetapi tatapan matanya lain. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang dingin dan tajam, seolah menelanjangi Jungkook dari ujung kepala hingga kaki, mencari sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menolaknya.

Namun, Jungkook menekan semua perasaan tidak nyaman itu. Ia ingin berusaha. Demi Taehyung.

Malam pertama di rumah itu, semuanya berjalan biasa saja. Ayah Taehyung tampak lebih netral—hanya bicara seperlunya dan tidak terlalu menunjukkan reaksi apa pun terhadap Jungkook.

Tapi ibu Taehyung... berbeda.

Wanita itu dengan lembut mengajaknya bicara, bertanya tentang kehidupannya di Korea, tentang keluarganya, tentang pekerjaannya. Namun, setiap jawaban yang Jungkook berikan, selalu diikuti dengan anggukan kecil dan gumaman yang terdengar seperti ketidakpuasan terselubung.

Hingga akhirnya, obrolan itu mengarah ke sesuatu yang lebih tajam.

"Aku tidak tahu kalau Taehyung tertarik pada seseorang dari Korea."

Jungkook tersenyum kecil, mencoba meredam kegugupan yang tiba-tiba muncul. "Kami sudah cukup lama bersama, Madame."

Ibu Taehyung mengangkat alis. "Oh, begitu? Aku hanya berpikir... akan lebih masuk akal jika dia bersama seseorang dari Paris."

Jungkook terdiam.

Itu bukan sekadar pernyataan biasa.

Ada makna di baliknya.

Ibu Taehyung menginginkan menantu dari Paris.

Bukan dirinya.

Namun, Jungkook tetap menekan perasaannya dan mencoba bersikap ramah.

Sampai akhirnya, semuanya mulai terasa seperti siksaan tersendiri.

•••

Jungkook tidak keberatan membantu pekerjaan rumah.

Tapi yang terjadi di rumah keluarga Taehyung bukan sekadar 'membantu'.

Dari pagi, ibu Taehyung sudah memberinya tugas.

Mulai dari mencuci piring setelah sarapan—padahal ada asisten rumah tangga—lalu membersihkan meja, menyapu halaman belakang, bahkan diminta memasak makan malam untuk mereka.

Awalnya, Jungkook berpikir itu hanya permintaan biasa. Tapi semakin lama, semakin jelas bahwa ini bukan sekadar meminta bantuan.

Ini adalah cara ibu Taehyung untuk memperlakukannya tidak lebih dari seorang pelayan.

Jungkook muak.

Di rumahnya, walaupun ia hidup sederhana, keluarganya tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Ibunya tidak pernah menyuruhnya bekerja keras di rumah, apalagi sampai melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendirian.

Dan di sini?

Di rumah orang yang bahkan belum sepenuhnya menerimanya?

Jungkook merasa diperlakukan seperti sampah.

"Sayang, kau kenapa?"

Suara Taehyung yang lembut menghentikan gerakannya. Jungkook menoleh dan melihat kekasihnya itu berdiri di pintu dapur, menatapnya dengan bingung.

Jungkook ingin bicara.

Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menahannya.

Hingga akhirnya, saat malam tiba, ia tidak bisa menahan diri lagi.

•••

"Taehyung."

Jungkook menatap kekasihnya itu dengan ekspresi serius.

Taehyung yang baru saja selesai mandi menoleh dengan senyum kecil. "Hm? Kenapa, Sayang?"

Jungkook menggigit bibirnya, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku ingin bicara."

Taehyung berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. "Bicara apa?"

Jungkook menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, "Ib—Madame memperlakukanku seperti pembantu."

Ekspresi Taehyung berubah.

"Hah?"

Jungkook mengepalkan tangannya. "Dari pagi aku sudah cuci piring, bersih-bersih, masak, bahkan harus nyapu halaman belakang. Itu bukan 'menolong', Taehyung. Itu perbudakan."

Taehyung mengernyit. "Sayang, ibuku mungkin hanya ingin menguji kesabaranmu."

Jungkook menatapnya tidak percaya.

"Menguji kesabaran?" ulangnya dengan suara sedikit meninggi. "Kau serius?"

Taehyung menghela napas. "Jungkook, ibuku hanya butuh waktu untuk menerimamu. Dia ingin melihat apakah kau bisa menyesuaikan diri—"

"Menyesuaikan diri?" Jungkook tertawa sinis. "Ini bukan soal menyesuaikan diri. Ini tentang dia yang tidak menyukaiku dan ingin membuatku pergi!"

"Jungkook—"

"Aku tahu dia tidak menginginkan seseorang dari Korea sebagai pasanganmu."

Taehyung terdiam.

Jungkook menghela napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Aku bisa merasakannya, Taehyung. Dia menganggapku tidak sederajat dengan kalian."

Taehyung masih diam, lalu akhirnya berkata pelan, "Sayang, ibuku hanya ingin yang terbaik untukku."

Jungkook merasa dadanya sesak.

"Jadi menurutmu... aku bukan yang terbaik?" tanyanya, suaranya bergetar.

Taehyung terkejut. "Bukan begitu maksudku—"

"Tapi itu yang kau katakan."

Taehyung menarik napas panjang. "Jungkook, aku hanya ingin kau mencoba lebih keras untuk mengambil hati ibuku."

Jungkook tertawa miris. "Kenapa harus aku yang berusaha? Kenapa bukan dia yang mencoba menerimaku?"

Taehyung mengusap wajahnya, terlihat frustasi. "Sayang, ini lebih rumit dari yang kau pikirkan."

Jungkook merasa dadanya semakin sesak.

"Jadi kau memilih ibumu?" tanyanya pelan.

Taehyung menatapnya dengan mata melebar. "Bukan begitu—"

"Tapi kau lebih memedulikan perasaannya dibanding perasaanku."

Hening.

Tidak ada yang berbicara.

Jungkook menghela napas panjang, merasa terlalu lelah untuk melanjutkan ini.

"Sudahlah," katanya akhirnya. "Aku akan bertahan di sini sampai liburan selesai. Tapi setelah itu, aku tidak akan pernah kembali."

Ia berbalik menuju kamar mandi, meninggalkan Taehyung yang masih terpaku di tempatnya.

Hatinya sakit.

Karena untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, Jungkook merasa seperti orang luar. Seperti ia hanya seorang tamu di dalam kehidupan Taehyung.

Dan yang lebih menyakitkan—

Taehyung tidak melakukan apa pun untuk membuatnya merasa lebih baik.





TBC

240 DAYS - Taekook [BxB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang