SA || 45

900 25 1
                                        

⋆ ˚。⋆୨୧˚ H A P P Y R E A D I N G˚୨୧⋆。˚ ⋆

"Saya tidak perlu bayaran uang,tapi saya minta satu hal ning."

"Apa?"

"Ning harus merestui saya untuk menjadi istri kedua gus alzam."

DEG!

Syahlara terdiam membisu tak bisa berkata kata. Bagaimana ini?

"Iya,pasien membutuhkan darah itu sekarang. Karna kondisi pasien kembali kritis."

Perkataan itu terus memenuhi otak syahlara. Apa ia harus menerima tawaran itu?tapi kalau ia menerima tawaran itu apa ia kuat? Kalau ia menolak,suami nya sangat membutuhkan darah itu sekarang.

"Itu keputusan ning sendiri, kalau ning menerima saya akan langsung berbicara dengan dokter. Kalau ning menolak,ning pasti tahu resiko terhadap gus alzam."

Suara itu membuyarkan lamunan syahlara.

"S-saya...saya.."

Syahlara menghela nafas pelan, "S-saya Terima tawaran ustadzah.."

"Maaf mas..aku mau kamu sembuh,walaupun dengan cara aku berbagi.." Batin syahlara.

Ustadzah nita tersenyum puas, "baik,terimakasih ning. Saya pamit, assalamu'alaikum." Setelah mengucapkan itu ustadzah nita langsung keluar dari ruang rawat syahlara.

Setelah wanita itu pergi,barulah syahlara menumpahkan air matanya.

Tanpa ia sadari,sedari tadi ada dua orang yang mendengar pembicaraan mereka.

"Astaghfirullah ra..suami lo pasti marah kalau denger ini." Ucap angkasa

"Kenapa ning syahla terima tawaran ustadzah itu?kan ada aku." Ucap seorang gadis yang berhijabberhijab di samping nya.

"Mungkin dia belum tau kalau ada lo juga yang mau donorin darah buat gus alzam." Ucap angkasa

"Yasudah,mending sekarang kita cepet kasih tau,aku mau donorin darah aku buat gus alzam. Takutnya keburu ustadzah itu yang bilang." Ucap gadis itu.

Angkasa mengangguk. Mereka berdua pun langsung berjalan sedikit cepat.

°°°

Malam ini,malam ini alzam melaksanakan oprasi. Terlihat beberapa orang yang berharap oprasi nya berjalan lancar dan membawa kabar baik.

Syahlara yang berada di kursi roda terus memandangi pintu ruang oprasi dengan melafalkan doa untuk suaminya. Umi syifa dan bunda sarah sudah menyuruhnya untuk menunggu di ruang rawat namun ia menolak keras.

Setelah dua jam berlalu lampu diatas pintu oprasi berubah, menandakan oprasi telah selesai. Barulah keluar seorang dokter laki-laki.

"B-bagaimana dok?" Tanya syahlara langsung mewakili.

"Alhamdulillah oprasi berjalan dengan lancar,tetapi..." Dokter itu menggantung ucapannya.

"Tapi apa dok?" Tanya syahlara langsung.

Dokter itu menatap semua orang yang ada disekitarnya,terlihat jelas raut wajah harapan terpampang diwajah mereka.

SYAZAM || On GoingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang