29 - // Nagih Panggilan Baru //

167 12 2
                                        

Tak mengenal lelah, sepasang kekasih yang baru saja melangsungkan acara lamaran di 2 hari sebelumnya, sudah kembali pada aktifitasnya masing-masing. Tapi kali ini berbeda, mereka berjalan bersama bukan hanya sepasang kekasih yang merajut cinta biasa, tetapi mereka telah membawa komitmen dan niat baik menuju ikatan suci pernikahan. Yang mungkin tinggal menghitung hari saja.

Radito dan Salma, keduanya telah bersepakat bahwa acara pernikahan yang nanti akan digelar bisa terlaksana dengan khidmat dan sederhana, meskipun mereka berdua meyakini juga bahwa harapan nya mungkin hanya bisa terealisasi di 50% saja. Keluarga Radito ataupun Salma tentunya ingin menebar kebahagiaan tersebut dengan scope yang lebih luas.

***

"Kamu coba pelan-pelan aja jalannya." Ucap Radito seraya memapah seorang gadis cantik yang berjalan memakai tongkat disamping kiri nya.

"Bisa-bisanya malah jatuh dari tangga kaya gini." Gerutu gadis tersebut. Ia dan sang calon suami sedang berjalan menuju lift kantor.

"Bukan jatuh. Lebih tepatnya jatuh terguling hingga anak tangga terakhir." Ucap Radito seraya tertawa kecil dan menekan tombol lift menuju ruangan kerja nya di lantai 3.

"Terus aja ketawa, dosa loh ngetawain calon istri." Balas Salma.

"Siap salah calon istri." Timpal Radito.

"Tadinya saya mau ngajak kamu ke Cafe barunya Dava, disana pemandangan nya bagus, bisa lihat city light Kota Bandung." Lanjut Radito seraya terus memapah Salma berjalan masuk ke ruangan nya yang kini hanya tinggal tersisa beberapa langkah lagi.

"Wih, Dava buka usaha Cafe?"

"Iya, sambil memanfaatkan lahan yang dikasih sama orang tua nya supaya produktif." Terang Radito.

"Nah panjang umur tuh orangnya ada." Ucap Salma dengan mata berbinar melihat Dava, sudah 2 minggu terakhir dia tidak bertemu bestie Radito itu. Terakhir ketika acara lamaran kemarin.

"Lho Sal, are u okay? Kenapa pake tongkat?" Tanya Dava cukup khawatir.

"Iya nih Dav, tadi pagi jatuh dari tangga, terus langsung dianter Radit periksa." Terang Salma.

"Tadinya gue mau bawa Salma ke Cafe lo Dav sore ini." Sambung Radito.

"Beuh iya bener, kalo sore pemandangan nya beneran ajib. Cocok lah buat pasangan yang mau nikah kaya kalian berdua." Goda Dava seraya tertawa cukup terbahak-bahak.

"Kamu mau minum apa? Biar saya buatin." Tawar Radito seraya duduk disamping Salma.

"Boleh minum kopi gak?"

"Engga. Kan kamu bilang lagi gak enak perut." Tolak Radito.

"Hufft" Salma menghela nafasnya.

"Eh Dit, tadi gue dapet telpon dari kolega kita di Kantor Hukum Justitia & Partners, mereka butuh konsultan untuk pendampingan kasus kekerasan anak. Kasus nya udah naik dan saat ini lagi jadi incaran media." Ucap Dava menjelaskan.

"Pelaku nya siapa?"

"Diduga pelaku nya ibu korban." Jawab Dava dengan suara cukup berat.

Astaga!

"Sebetulnya bisa aja kita kasih pendampingan tapi kalau diduga pelaku nya ibu korban, untuk bisa kena secara psikologis pendekatan nya harus sama perempuan lagi." Jelas Radito.

"Gue setuju. Tapi Amanda masih cuti hamil juga ya. Bingung gue." Jawab Dava.

Salma memperhatikan pembicaraan Radito dan Dava sedari tadi, ia mencoba menganalisa kasus yang terjadi tersebut dengan pemahaman yang ia miliki. 1 tahun silam, ia pun pernah mendampingi korban kekerasan pada anak yang dilakukan oleh ibu dari korban juga.

Workholic LecturerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang