30 - // Ujian Cinta Salma Radito //

106 7 6
                                        

Hening. Satu kata yang menggambarkan suasana siang ini, bahkan yang terdengar hanyalah suara detik jarum jam yang rasanya berputar sangat lama. Seorang gadis terlihat sangat gelisah, sungguh. Raut wajahnya tak bisa berbohong, sesekali ia berdecak seraya berjalan mondar-mandir di lobby bercatkan hijau khas rumah sakit itu. Kejadian siang hari ini terasa sangat cepat bagaikan petir yang menyambar. Pagi hari tadi Ayah Salma pamit untuk menjalankan aktifitas rutin nya yaitu hemodialisa atau cuci darah di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung. 

Ya, Salma kembali uji oleh PenciptaNya. Sang ayah sudah 2 bulan divonis mengidap penyakit Gagal Ginjal Kronis Stadium 5 atau stadium akhir. Atas penyakit yang diderita nya mengharuskan untuk cuci darah rutin seminggu 2x. Dan itu dilakukan seumur hidup. 

Tiba-tiba terdengar suara handle pintu yang dibuka oleh seseorang dibaliknya. 

"Keluarga nya Pak Surya?" Tanya seorang laki-laki menggunakan masker lengkap dengan pakaian perawat nya. 

Salma dengan sigap menghampiri perawat tersebut dengan kepanikan, "Iya Pak, saya dengan anak nya."

"Bisa bicara sebentar Mbak di dalam?" Salma mengangguk pelan lalu berjalan mengikuti laki-laki tersebut dan masuk ke ruangan yang bertulisan ICU. 

Kata demi kata, kalimat demi kalimat berusaha dicerna sebaik mungkin oleh Salma. Penjelasan detail dari Dokter Spesialis Dalam menjelaskan bahwa saat ini kondisi Ayah Salma sedang kritis dan membutuhkan perawatan intensif cukup lama di ICU. Setiap penjelasan pahit yang disampaikan oleh dokter, sesekali Salma memejamkan matanya sekilas. 

"Kondisi Pak Surya saat ini sedang kritis, Mbak. Saya minta tolong dibantu doa juga oleh seluruh keluarga. Pak Surya mengalami serangan jantung setelah hemodialisa tadi pagi, dan penyakit CKD atau Gagal Ginjal Kronis yang diderita beliau membuat kondisinya cukup berat." Papar sang dokter dengan nada yang cukup berat. 

"Baik Dok, sangat dipahami. Terimakasih atas penjelasannya, doakan kami diberikan kekuatan." Ucap Salma berusaha tersenyum. 

Salma kembali melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan dingin itu. Dada nya terasa sangat sesak. Ia sedari tadi berusaha menahan air mata agar tak jatuh di pipi nya. Tak lama kemudian, Salma merogoh saku kanan nya dan mengambil handphone. 

2 missed calls

Dalam hitungan detik Salma langsung kembali menghubungi sang empu yang tadi tidak sempat terjawab panggilan telepon nya. 

"Halo Mas." Lirihnya. Terdengar suara Radito dari telepon genggam tersebut. 

"Aku di koridor kiri ya Mas." Pungkas Salma berusaha memberikan petunjuk pada Radito. 

Salma memutuskan untuk duduk di kursi ruang tunggu khusus pasien ICU seraya menunggu Radito yang baru saja sampai di parkiran rumah sakit. 

"Sal." Panggil seorang lelaki yang jaraknya sekitar 2 meter dari hadapan Salma. 

"Gimana kondisi Ayah?" Tanya Radito. Raut wajah nya terlihat panik tapi mencoba tenang. 

"Ayah kritis, Mas." Sahut Salma lesu. Rasanya seluruh tubuhnya kini tidak bertulang. Untuk duduk saja terasa sulit, sangat lemas. Pandangan nya tak lepas dari ruangan bercat hijau dan bertuliskan ICU itu. 

"Tangan kamu keringat dingin." Lirih Radito seraya menggenggam erat tangan kanan Salma. 

"Aku gak sanggup." Ucapnya. Tatapan mata Salma kini kosong dan tak lama buliran air mata terlihat membasahi pipi Salma. Otak Salma memutar beberapa memori yang terekam sejak awal sang Ayah berjuang melawan penyakit yang dideritanya. 

Radito mencondongkan sedikit tubuhnya kearah Salma. Tangan nya menggenggam lebih erat tangan Salma. Sesekali, ia mengusap pelan punggung tangan calon istrinya itu. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Workholic LecturerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang