Tokyo.
Seperti malam biasanya di ibukota Jepang ini, semua orang beraktifitas hingga larut demi mengejar taraf hidup yang begitu tinggi. Transportasi umum masih beroperasi meski sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Lampu-lampu dihidupkan, seolah menyaingi cahaya bulan dan bintang di langit.
Kota yang tak pernah padam, selayaknya kota-kota di negara maju lainnya.
Di antrian kereta bawah tanah yang tetap ramai, rambutnya terlihat mencolok dibanding pengguna yang lain. Gerakannya terlihat buru-buru, nampak telah ketinggalan sesuatu. Saat dia menoleh memperhatikan peta rute, nampaklah wajah yang sedikit berbeda dengan wajah masyarakat Jepang. Alih-alih mata sipit, dia punya mata yang cukup besar bahkan punya kelopak mata yang sangat diidam-idamkan oleh wanita Jepang.
Tubuhnya tegap meski ditutupi jaket biru seperti seorang tentara. Langkah kakinya pun lebar dan teratur meski sedikit cepat.
Saat pintu kereta terbuka setelah pemberitahuan bahwa dia sampai di stasiun tujuan, dia kembali melangkah cepat bahkan mengambil sisi kiri ketika naik tangga untuk keluar dari stasiun dan menuju jembatan penyeberangan.
Ponselnya bergetar di saku jaketnya. Tapi bukannya melihat siapa yang menelponnya, dia malah mengambil earphone lalu menjawab panggilan telepon itu sambil kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari seseorang.
Tak berapa lama seseorang memanggilnya diikuti sebuah tangan yang merangkulnya. Wajah yang tadi dingin mulai mencair dengan senyuman.
"Keisuke Hanami!"
Ya.
Itulah nama pemuda berambut perak selayaknya cahaya rembulan. Kei —nama akrabnya, mulai bercakap-cakap dengan temannya kemudian datang lagi temannya hingga mereka mulai bergerombol dan menuju suatu tempat untuk menikmati malam ini hingga matahari menyambut mereka di pagi hari.
***
Kei baru saja pindah dari Osaka bersama ibunya karena ayahnya baru saja dipindah tugaskan ke Tokyo. Karena tidak mungkin ayahnya bolak-balik Tokyo dan Osaka sekaligus menghemat biaya, maka mereka memutuskan tinggal di apartemen yang sekiranya bisa mereka bayar harga sewanya. Kehidupan keluarga mereka harmonis. Ayah yang bekerja, ibu yang menjaga rumah dan anak yang pergi ke sekolah.
Meski begitu, terkadang Kei merasa ini semua hampa.
Mimpi-mimpi aneh itu sering menghantuinya sejak pindah ke sini. Makanya dia sering keluar malam bersama teman-temannya dan berakhir tidur di sekolah.
Walau tindakannya tidak pantas, tidak ada guru yang menegurnya.
Seperti pagi ini. Kei tertidur nyaman di mejanya dengan jendela di sampingnya yang terbuka membuat angin musim semi yang sejuk masuk dan membuat dia semakin lelap.
"Keisuke Hanami!"
Sudah dipastikan panggilan dari guru yang mengajar itu dihiraukan si pemilik nama.
"Keisuke Hanami!"
Untuk kedua kalinya sang guru memanggilnya namun dia tetap bergeming untuk beberapa saat hingga bangun, mendorong kursinya dan bangkit untuk berjalan menuju papan tulis. Dengan wajah mengantuk, dia menulis jawaban dengan sangat sempurna lalu kembali duduk dan tidur.
Melihat jawaban Keisuke, sang guru hanya menghela napas sebelum kembali melanjutkan pelajaran tanpa menghiraukan Keisuke meski hatinya geram.
Keisuke tetap tidur sampai bel istirahat pertama berbunyi. Semua orang keluar dari kelas untuk makan di kantin atau sekedar mencari udara setelah sesak oleh pelajaran.
"..imouto.."
Mata Keisuke perlahan terbuka saat sebuah suara terdengar. Tapi tidak ada siapapun di sini, hanya dia. Keisuke meregangkan tubuhnya kemudian menatap tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KAFKA MAEDA [HiGH & LOW]
Fanfiction⚠️⚠️ WARNING! ⚠️⚠️ DILARANG MENJIPLAK/MEMPLAGIAT. TIDAK SAMA DENGAN SERIESNYA MAUPUN FILMNYA 100% NOT BL!! "Apa yang terlihat belum tentu sama dengan kenyataannya."
![KAFKA MAEDA [HiGH & LOW]](https://img.wattpad.com/cover/295779566-64-k368257.jpg)