Aku hanya bisa tersenyum. "Bener juga kata Mamanya Arga mama mendukungmu nak." Ucap Alena tersenyum kearahku sambil menggengam lembut tanganku.
Lena hanya pasrah dengan keputusan yang akan mereka ambil selama itu tidak merugikanku It's Ok kan? itu akan mempermudah Lena untuk dekat dengan Arga.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Waktu terus berjalan hari demi hari semua melakukan kegiatan seperti biasa dalam kehidupan ada suka dan duka, siswa – siswi SMA Adhipura semua disibukan dengan ujian yang sedang mereka hadapi, Rio (kakak Lena) yang sedang sibuk menunggu pengumuman hasil ujian masuk ke perguruan tinggi dan mempersiapkan ujian lain karena nantinya ia yang akan menjadi penerus perusahaan dan usaha Ayahnya.
Bagaimana dengan Lena dkk?
Jelas, mereka semua sibuk belajar dengan ujian yang akan mereka hadapi apalagi mereka sudah kelas 12 yang akan sebentar lagi akan lulus dan lanjut ke universitas yang mereka inginkan.
"Eh, nomer 4 option a ini gimana sih ngerjainnya! pusing gue ngitung engga ketemu." Keluh Novea.
"Gak tau lah pecah kepala gue seminggu ini mikir ujian." Kesal Lena.
"David..." seru Novea dengan nada memelas dan mata yang berkaca-kaca yang ingin meminta pertolongan dari dia.
David yang merasa terpanggil langsung menengok dan melihat raut wajah Novea yang siapapun orang lain melihatnya seperti orang depresi. " Sini gua ajarin" timpal David.
Novea langsung gerak cepat bangkit dari duduknya dan segera duduk disebelah David, menyenggol Lena yang sedari tadi hanya memainkan pensil yang ia pegang agar tuker tempat duduk. Lena yang mengerti kode langsung bangkit dan tuker tempat duduk.
Langit yang telah gelap dan suasana yang hening hanya ada suara pensil, buku, dentingan jam di ruangan ini. Lena yang telah duduk di tempat Novea langsung melihat para siswa dan siswi lainnya yang masih fokus dengan buku yang mereka pegang.
'Otak mereka terbuat dari apa sih? Gue mencoba pintar seperti mereka gak betah langsung tumbang gini sama-sama makan nasi padahal' Batin Lena
Lena melihat para teman-temannya yang juga masih fokus dengan tumpukan buku ujian, ia melihat David yang sedang menjelaskan ke Novea lalu, Toni yang orang-orang pada kira cengengesan tidak pernah serius tetapi aura nya saat ini berbeda 180 ̊ dia sama seperti siswa lainnya yang fokus.
'Pantes Toni bisa masuk kelas A auranya langsung beda kalau serius begini' batin Lena
Sementara gue? Seperti pelengkap bumbu dalam kehidupan ini.
Lena kembali berusaha fokus pada buku yang ia pegang, ia berusaha untuk mencerna tulisan yang ada di dalam buku tetapi alhasil kosong, tidak ada yang masuk sama sekli di otak kecilnya.
'Gue berasa kagak berguna njir'. Keluh lena
Lena melihat buku tebalnya kembali dan memutarkan pulpen hitam ditangannya, tapi pikirannya tidak fokus yang ada didepannya. Sekitar 15 menit lena hanya memainkan pulpennya seketika ide gila muncul dibenaknya.
'Apa gue ngelakuin seperti dulu aja ya?' Gumamnya.
****
Bel sekolah berbunyi
Kring
Kring
Kring
Mereka bertiga berjalan melewati lorong-lorong kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Diharapkan
Teen Fiction"kenapa lo sejahat itu sama gue ar?" tanya Lena dengan mata sebamnya. "jangan seolah - olah lo yang paling tersakiti disini len.... gue udah muak sama kelakuan lo!!" balas Arga dengan kecewa. Di sisi lain Rio yang bernotaben kakaknya Lena hanya me...
