25.Restart: Triger

1.4K 144 24
                                        

Udah berapa lama nggak update ya? Haha...

Akhir-akhir ini fase males nulisku kambuh lagi. Book sebelah yang "PAST" aja udh ditulis 3 hari baru dapet 500 kata. Semoga kalian masih mau nungguin aku update, haha...

Kalo ada typonya, tolong tandai ya. Aku males ninjau ulang, jadi langsung ku-upload:D

Selamat membaca!!!
.
.
.
Shinichiro menghela nafas untuk kesekian kalinya. Si sulung Sano itu bahkan sudah tidak bisa menghitung berapa banyak rokok yang dihabiskan. Matanya sedikit melirik pada tempat Mikey duduk. Adiknya itu langsung pergi ke kamar mandi tepat setelah video selesai, diikuti oleh beberapa orang lain yang juga ikut merasakan hal yang sama.

Setelah apa yang mereka lihat sebelumnya, beberapa masih bisa bersikap tenang. Tapi tidak sedikit juga yang merasa perut mereka melilit, merasa ingin muntah dan sebagainya.

Gadis-gadis di sana juga sama, tapi mereka kembali dari kamar mandi dengan cepat. Duduk dengan rapi di tempat masing-masing sambil membicarakan hal-hal menyenangkan untuk menghilangkan gambaran mengerikan yang mereka lihat.

"Kau sudah terlalu banyak merokok, bodoh!"

Shinichiro sedikit terkejut saat sebuah tangan mengambil rokok yang tinggal setengah di mulutnya. Dia menatap Takeomi juga dua temannya yang lain yang ikut memperhatikan dirinya.

"Lagipula, aku sudah mati,"

Gumaman Shinichiro dibalas tatapan tajam dari tiga temannya di sana (terutama Wakasa). Pria itu bahkan sudah memelototinya tanpa ragu.

"Setidaknya jangan mati lagi di sini, brengsek!" Takeomi mengumpat, memukul pelan kepala teman masa kecilnya itu. Berharap bisa membuatnya kembali 'sadar'.

Shinichiro tertawa kecil sembari mengelus kepalanya yang berdenyut. Dia tidak marah, sungguh. Karena sejujurnya, dirinya benar-benar merasa lebih baik saat kembali sadar jika ada ketiga temannya di sana.

"Maaf. Aku hanya... yah, kau tahu?" Shinichiro mengacak surainya kasar. Obsidian hitamnya menatap Mikey yang sudah kembali bersama Draken di belakangnya.

"Aku berharap bisa memiliki kesempatan untuk bertemu Takemichi ini. Setidaknya, untuk meminta maaf." Sambungnya bergumam. Dia benar-benar tidak menyangka jika apa yang dia lakukan akan berakhir dengan sesuatu yang lebih besar, lebih mengerikan. Dia sangat merasa bersalah karena Takemichi harus melalui itu semua karena dirinya.

"Mikey, lebih baik?"

Shinichiro mengangkat kepalanya, menatap Emma yang sudah berdiri di depan Mikey sembari membawa kantung berisi Taiyaki yang masih hangat dan juga sebotol air. Berharap itu bisa membuat saudaranya lebih baik. Shinichiro bisa melihat Mikey menerima apa yang Emma berikan sebelum kemudian mengangguk kecil, walaupun ekspresinya belum terlalu baik.

"Mau obat penenang lain, Mikey? Atau mungkin obat tidur- Jangan khawatir, milikku hanya dosis rendah. Tidak akan memberikan efek buruk selama tidak berlebihan." Hime menyela Shinichiro yang hampir berbicara. Dia jelas sudah tahu apa yang ingin dikatakan pria itu.

Mikey menggeleng sembari berusaha mencari posisi duduk yang nyaman, juga berusaha menenangkan dirinya sendiri setelah apa yang terjadi.

"Tidak perlu," ucapnya. Suaranya sedikit serak, mungkin dia baru saja menangis lagi di balik pintu kamar mandi seperti sebelumnya.

"Lanjut... lanjutkan saja. Aku ingin tahu... lebih banyak." Sambungnya.

Hime menatap Mikey selama beberapa saat sebelum kemudian mengalihkan perhatiannya pada yang lain. Walaupun mereka semua berandalan, melihat kematian sebanyak itu jelas bukan sesuatu yang mudah. Tapi tetap saja ada orang-orang yang bisa mengendalikan diri dengan cepat, walaupun belum sepenuhnya.

Watching; RestartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang