Part 19

52 9 0
                                        

Yuki menatap televisi yang menampilkan acara reality show comedy, dia menatap lurus ke depan bukan menonton acara itu melainkan malamun. Sebuah suapan sampai di depan mulutnya lalu segera ia buka mulut dengan terpaksa, bahkan makanan yang masuk ke mulutnya saat ini ia rasa bagai sebuah beling. Tak ada sepatah katapun yang dikeluarkan sejak terakhir ia melihat lelaki brengsek itu. Maisya sepertinya mengerti suasana hatinya sedang buruk, wanita itu tak menanyakan apapun lagi.

"Cepet sehat ya nak." Ucap Meisya mengelus rambut Yuki.

Yuki menatap Meisya sendu, ia maraih piring yang ada di tangan Mesya lalu menaruhnya di meja samping brankar, perlahan Yuki mendekat untuk memeluk Meisya.

"Kalau Mami dikasih kesempatan untuk hidup setelah meninggal, tapi Mami tau Mami akan meninggal lagi, apa yang akan Mami lakuin?" Tanya Yuki menatap Meisya.

Alis Meisya berkerut, wanita itu menerawang ke depan, ia balas pelukan putrinya.

"Mmmm... Mami akan sangat syukuri itu, dan mencoba cari-cari kesenangan-kesenangan sebelum waktu itu datang lagi, nikmati segala anugerah yang tuhan kasih walaupun memang sudah jalannya untuk kita diambil lagi." Ucap Meisya

"Ada yang mengganggu pikiran Kala sekarang?" Tanya Meisya mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil putrinya.

Yuki mengangguk. "Aku takut " Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa yang kamu takutkan sayang, ayo cerita sama Mami." Ujarnya khawatir.

"Aku takut tuhan ambil aku, tanpa sempat bahagiain dan balas budi sebagai anak dan yang paling aku takutin adalah ga bisa liat keluarga aku lagi hikss.." ujar Yuki terisak.

"Sayang, kita semua pasti akan meninggal, dan selama waktu itu datang yang harus kita lakuin adalah selalu berpikir bahwa kita akan hidup lama, ayo cobain apapun yang kamu mau yang belum pernah kamu coba, ayo makan apapun yang kamu suka. Lakukan kesenangan kesenangan yang buat kita ingin hidup terus" Ucap Meisya.

Benar juga ya, harusnya Yuki nikmati. Ini memang takdirnya. Mata Yuki terlihat kembali menyala, ayolah selama ia masih ada di sini pasti masih ada cara lain kan?

"Mami benar!" Ucapnya semangat.

Pintu rumah ruangan itu dibuka dari luar, seseorang masuk tergesa-gesa, orang itu adalah Candy, gadis itu berlari memeluk Yuki.

"Gue udah denger semuanya hikss untung lo selamat." Isaknya memeluk Yuki.

Meisya tersenyum melihatnya, wanita itu pamit keluar ruangan meninggalkan kedua remaja yang telah bersahabat dari kecil itu agar mereka lebih seluasa mengobrolnya.

Yuki menatap Candy sinis, Gadis ini salah satu orang yang harus Yuki hindari, dialah yang membawa Yuki pada ajalnya nanti.

"Sorry gue bener-bener egois, maaf banget ya gue gak pernah pikirin perasaan lo, gue sayang lo Kala." Ucap Candy semakin mengeratkan pelukannya.

Candy melepas pelukan mereka saat merasa Yuki tak membalas pelukannya. Ia menangkup wajah Yuki, "Lo ga boleh tinggalin gue ya, please." Ucap Candy memohon.

"Sorry gue mau istirahat." Jawab Yuki buang muka.

Wajah Candy berubah murung, "Gue denger-denger yang selamatin lo kemaren itu Hugo loh." Ujarnya menceritakan dengan antusias.

Yuki terperangah. kenapa, bukankah seharusnya lelaki itu bahagia jika ia mati?

~Figuran Bar-Bar~

Sudah 4 hari sejak ia pulang dari rumah sakit, Yuki bahkan sampai sekarang masih dilarang masuk sekolah oleh orang tuanya, gadis itu menendang-nendang udara benar-benar bosan. Selama itu juga Yuki tak mendapatkan satupun adegan. Baguslah ini baru figuran.

FIGURAN BAR-BARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang