LUCANE

39 6 3
                                        

Hallo guys, nice to meey you.

I'm so sorry, setelah sekian lama aku baru bisa balik lagi buat lanjutin cerita ini. So, enjoy your time.

19

¤

Callypso menggerakkan kakinya ragu. Gadis itu berdiri di depan pintu ruangan anak basket, sudah hampir setengah jam gadis itu berdiam diri dengan satu botol minum di tangannya.

"Eh, nyari siapa?"

"Lo ngapain di sini?"

Callypso melirik keduanya ragu sebelum mengintip ke dalam. "Leo nya ada?"

"Oh, lo nyari Leo. Mau apa nih, mau apel y—"

Callypso langsung membungkam mulut lelaki itu dengan tangannya. "Sembarangan lo Astin."

"Austin."

"Apalah itu." Balasnya tidak peduli. "Ada gak Leo nya?"

Austin menengok kembali ke dalam, menatap sosok yang di cari Callypso itu mulai beranjak ke luar. "Bentar lagi keluar. Kita duluan."

"Cie mau apel."

Callypso menatap sinis sosok di samping Austin yang terus menggodanya. Namun tak ayal di dalam hatinya gadis itu kegirangan.

Bagaimana tidak, digoda akan apel dengan orang yang di sukanya masa Callypso harus marah.  Aslinya sampai mau jungkir balik karena kegirangan.

Sosok lelaki dengan baju basket yang dibalut jaket keluar. "Leo!"

Leonard mengernyitkan keningnya bingung menatap kehadiran sosok Callypso di depan ruang basketnya.

"Ada apa?"

Anying suaranya cakep banget. "Em, gue cuma mau ngasih ini." Ucapnya malu-malu sambil menyodorkan botol minum di tangannya.

Leonard menatap benda itu sekilas, sebelum menatap Callypso kembali. "Atas rangka?"

Jantung Callypso seakan disko di dalam. Gadis itu meneguk ludahnya seakan kaku untuk berbicara. "Gue — mau ucapin selamat, permainan lo hebat hari ini."

"Lo ejek gue karena kalah?"

Garis wajah Callypso berubah. "Bukan, gue bener-bener mau bilang, kalau permainan lo—"

"Thanks, tapi gue gak butuh di kasihani." Ucapnya sebelum melengos pergi dari sana.

Meninggalkan Callypso yang berdiri mematung dengan tangan yang melayang di udara dengan botol minum di tangannya.

"Udah di bilang, gak usah lo ngejar-ngejar dia. Sakit hati kan?"

"Ngapain lo di sini?" Lamunan Callypso buyar, menatap sosok tidak asing di depannya.

Justin menggidikkan bahunya acuh. "Lewat." Balasnya. "Daripada nganggur." Lanjutnya sambil mengambil botol minum di tangan gadis itu dan mulai meminumnya.

"HEH ANJIR INI BUAT LEO!"

"Uhuk!"

"Keluarin gak?! Keluarin gak lo sekarang hah?!" Murka Callypso mencekik leher lelaki itu.

"Sial — gue gak bisa nafas."

"AAAAA GAK MAUU, ITU GUE SIAPIN NYA DAH LAMA BUAT LEO!"

Justin mengumpat kelas kepalanya di tarik tarik. Lelaki itu langsung menjauhkan kepala Callypso dengan kedua tangannya yang masih bergerak di udara seakan-akan ingin mengacaknya.

LUCANE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang