Di hari yang menjelang sore, langit tampak mulai meredup pelan, tapi panas sisa siang masih menggantung di udara. Di sebuah lapangan kecil yang rumputnya sudah tidak terlalu rata, tiga remaja terlihat berlarian mengejar bola.
Keringat membasahi pelipis, kaus mereka sedikit lembap, tapi tawa tetap berseliweran di antara suara sepatu yang menendang tanah.
Tadi mereka sempat berhenti sejenak. Duduk di pinggir lapangan, membuka bungkus es krim dengan tangan lengket, membiarkan rasa dingin sedikit menyelamatkan mereka dari cuaca yang menyengat. Setelah itu, tanpa banyak aba-aba, permainan pun dimulai lagi kali ini sambil tetap menggenggam es krim masing-masing.
“Aihh, Kai, dari tadi kau belum ada mencetak gol sama sekali,” kata Taehyun sambil menggigit es krimnya, suaranya terdengar santai tapi menggoda.
Kai yang mendengar itu hanya terkekeh, bahunya terangkat malas. “Kalian support yang bener dong!” balasnya sambil berlari kecil mengejar bola.
Beomgyu, yang sejak tadi mengamati dengan tatapan tenang, tetap fokus pada es krimnya.
Ia menjilat sedikit, lalu berkata datar, “Coba kau lemaskan dulu badanmu. Ini taktik dariku.”
Mata dari lelaki paling muda itu langsung berbinar. Ia kembali ke posisi tengah dengan langkah lebih bersemangat, sementara Beomgyu ikut mendekat.
“Sini, sini. Es krim-mu,” ujar Beomgyu sambil mengisyaratkan tangan.
Tanpa bertanya apa-apa, Kai menyerahkan es krimnya. Beomgyu memegangnya dengan santai, lalu mulai memberi arahan posisi kaki, sudut badan, waktu menendang. Kai mengangguk-angguk, mencoba mengikuti semuanya.
Ia menarik napas, lalu menendang bola dengan lebih mantap.
Dan....
Yap.
Bola itu meluncur mulus, melewati kaki Taehyun dan masuk ke gawang kecil di ujung lapangan.
“GOOOL!” Kai berteriak kegirangan sambil berlari berputar, tangannya terangkat tinggi.
“Thank you coach Beomgyu!” katanya ke arah Beomgyu.
Namun langkahnya mendadak melambat saat matanya menangkap satu pemandangan yang membuat kedua bola matanya melebar.
Es krim miliknya sudah habis tak tersisa.
Sang pelaku berdiri dengan wajah polos, sisa es krim di sudut bibirnya, seolah tak terjadi apa-apa. Taehyun melirik ke arah itu, lalu tertawa kecil.
“Mungkin coach mu ini,” katanya santai, “menjadikan es krim itu sebagai sesajen supaya gol.”
Kai hanya bisa menatap pasrah, sementara yang ditatap hanya tersenyum, jelas-jelas tak merasa bersalah sedikit pun.
-------------------------------------
⛓️ 𝐂𝐇𝐀𝐈𝐍 ⛓️
-------------------------------------
KAMU SEDANG MEMBACA
Chain [Short Story]
ContoKakak beradik yang hidupnya penuh dengan : ribut soal hal sepele, saling jebak dengan keusilan, tapi tetap nggak bisa hidup tanpa satu sama lain. Dalam setiap keributan mereka, terselip momen manis yang menunjukkan bahwa di balik semua pertengkaran...
![Chain [Short Story]](https://img.wattpad.com/cover/333659552-64-k233783.jpg)